Diskusi Santrijagad: Jalan Sunyi Madilog

10 August 2015

Setelah rapat pembukaan proyek sosial "Jejak Ulama Tegal" usai maka kami meneruskan dengan makan bersama dan kemudian membaca sholawat Mudhoriyyah berjamaah. Memohon kepada Allah lewat menyebut kekasihnya Sayyidina Muhammad SAW untuk menjadikan bening hati kami dan mudah perjalanan kami. Sesi diskusi Madilog pun dimulai.

“Suara Tan Malaka akan semakin keras dari dalam kubur karena yang disuarakannya adalah kejujuran”. Zia sebagai moderator membuka diskusi ini dengan hangat dan berterima kasih kepada audiens yang meluangkan waktunya untuk datang. Budi membacakan pengantar diskusi yang tidak akan fokus pada sejarah atau siapa Tan Malaka karena ini sudah banyak ditulis oleh Dr. Poeze. Diskusi kali ini akan membahas bagaimana isi madilog dan manfaatnya untuk pemikiran praktis. Diluar Dr. Poeze juga banyak menyinggung ideologi Tan Malaka banyak sekali yang hanya ideologi dan sukar dipraktekkan. Budi pun membaca pengantar dari diskusi ini.

PENGANTAR

Kita, maqom manusia biasa ini tidak bisa hanya memutar tasbih dan menebar kembang ketika terkena sakit, apalagi dalam menghadapi era bahan bakar nuklir, robot, dan revolusi nanotech seperti saat ini. Untuk menuju bangsa yang penuh mitos dan logika mistik kita mesti melewati rintangan dialektika kemudian baru menuju logika ilmiah (from mitos to logos). Diskusi ini tidak menuju Arah pembahasan sejarah Tan Malaka, our lost heroes apalagi ke arah komunisme tapi lebih kepada pemikirannya di buku madilog (materialisme, dialektika, dan logika) yang dikarangnya dalam 8 bulan.

Sejauh mana marx mempengaruhi materialisme Bapak Ibrahim bin Rasyad? Sedekat apa dialektika Hegel dengan konten Madilog? Satu misteri penting dari Madilog. Apakah ada hubungannya dengan akidah Asy'ariyah dan Maturidiyyah? Apakah dengan madilog bisa menemukan logika ketuhanan? Apakah ada kekeliruan akidah di teks madilog? Juga kita bisa membahas apa hubungannya Madilog dengan pancasila yang lahir sebagai sintesis (wasathon/jalan tengah) dari komunis/sosialis dan kapitalis/libertarian.

Budi berkata dia harus meneruskan apa yang saya dengar dari Pak Zahir kemarin di rembug batik: “Datanglah ke sebuah diskusi dengan hati yang kosong, kita dengarkan orang lain”.  Inilah yang disebut Tan Malaka dialog itu berguna dalam menambah pengetahuan kedua belah pihak manusia yang berseberangan pendapatnya. Orang yang cerdas dan berakal akan mengambil manfaat dari suatu makanan dan membuang racunnya. Begitu juga dalam kita memahami madilog. Sebagaimana semua bentuk alat pemikiran, madilog adalah alat bahkan senjata untuk mengurai berbagai kekusutan pelik kehidupan individu maupun bernegara. Ibarat berdagangpun meski kita bebas menjual pada orang tapi ketika membeli/kulak maka kita harus selektif. Perihal sumber pemikiran kita wajib pilih-pilih dalam mencarinya.

TAN MALAKA, PENTINGKAH?

Sekarang ini nama Tan Malaka banyak digemborkan para aktivis baik aktivis sebenarnya ataupun aktivis karbitan yang tidak mau belajar sejarah secara mendalam. Tan Malaka sangat penting dalam sejarah Indonesia karena inspirasi nama Republik Indonesia berasal dari bukunya “Naar De Republik Indonesia” yang ditulisnya tahun 1925 jauh sebelum sumpah pemuda, jauh sebelum proklamasi. Buku ini dibaca Soekarno dan menjadi inspirasi bentuk negara kita saat ini. Banyak tokoh penting pejuang kemerdekaan Indonesia yang sangat mengagumi Tan Malaka diantaranya Sukarni, Chairus Shaleh, bahkan orang sekaliber Adam Malik bahkan Tan Malaka sangat dikagumi Presiden pertama kita Soekarno.

Dalam sebuah pidato, Soekarno berkata: “Saya kenal almarhum Tan Malaka. Saya baca semua ia punya tulisan-tulisan. Saya berbicara dengan beliau berjam-jam. Dan selalu di dalam pembicaraan-pembicaraan saya dengan almarhum Tan Malaka ini, kecuali tampak bahwa Tan Malaka adalah pecinta Tanah Air dan Bangsa Indonesia, ia adalah Sosialis yang sepenuh-penuhnya.”

Sebelum masuk ke sedikit penjelasan sejarah Tan Malaka dan apa itu madilog, beberapa peserta mencoba menjabarkan Tan Malaka di benak mereka secara acak. Ada yang sudah membaca bukunya, ada yang belum membaca bukunya dan  ada pula yang baru mendengar namanya. Jaya bercerita dahulu Tan Malaka sedang makan di Warteg dan seorang temannya bilang harusnya dia yang memimpin bangsa Indonesia. Tan Malaka menjawab: “tidak mungkin” kemudian dia memanggil pelayan warteg itu dan bertanya kepadanya: “apakah anda kenal saya?” Pelayan itu menggeleng dan kemudian Tan Malaka berkata pada temannya: “Ini buktinya... Saya tidak dikenal”. Zia memaparkan dari sudut literasi bahwasanya Tan Malaka adalah seorang kutu buku akut. Lain daripada yang lain, Dida menyinggung konten sains di Madilog itu agak wagu karena sains yang bebas nilai digunakan sebagai pembenaran teori dalam bukunya.

SEJARAH SINGKAT TAN MALAKA

Beberapa teman-teman yang mengetahui sejarah Tan Malaka pun berbagi. Paling mudah kita belajar sejarah dan latar belakang Tan Malaka dari buku-buku hasil desertasi Harry Poeze. Nama aslinya adalah Ibrahim bin Rasyad lahir di Suliki, Sumatera Barat. Semenjak usia dini Tan Malaka sudah hapal Alqur’an dan ayahnya adalah seorang mursyid tarekat. Beliau disekolahkan guru dan mendapat beasiswa ke Belanda sampai mendapat ijazah guru. Kemudian pecahlah perang dunia pertama di Indonesia (Hindia Belanda) waktu itu yang membuatnya sukar pulang ke Indonesia. De Fransche Revolutie adalah buku yang mengubah hidupnya, diberikan oleh gurunya bernama Horensma sebelum berangkat ke Belanda.

Tan Malaka sangat suka terhadap Jerman dan Amerika saat itu sehingga pada tahun 1917 dia mendaftar menjadi pasukan Jerman tetapi ditolak karena mereka tidak menerima pasukan asing. Seandainya Tan Malaka diterima Jerman sebagai tentara maka dia akan sepasukan bersama Hitler yang sama-sama ikut wajib militer perang dunia I. Perlu diketahui bahwa setahun setelahnya Jerman menderita kekalahan dalam perang dunia I yang membuat Jerman membenci kaum marxist (karena kaum marxist dituduh berkonspirasi dengan yahudi di internal Jerman). Disinilah lahir Hitler yang sangat membenci Marxist dan Yahudi tetapi bergabung lewat partai buruh via Dexler.

Dari Belanda dia ke Moskow dan belajar sosialisme komunisme disana. Dia kemudian terpilih mewakili komunis Indonesia untuk berpidato di komintern (Organisasi Komunis Internasional di Russia yang dibentuk oleh Lenin) tahun 1922. Di hadapan para komunis Russia pidatonya adalah mengkampanyekan pan-islame (kubu islam) yang memiliki daya revolusi sangat luar biasa. Sayangnya pidatonya ditolak. Komintern selanjutnya pada tahun 1923 mengangkatnya menjadi wakil Komintern Asia Tenggara yang berbasis di Canton. Disanalah dia tidak menyetujui pemberontakan PKI pada kolonialisme karena Alimin dan Muso terlalu bernafsu memberontak tanpa memperhitungkan akibat pertumpahan darah. Dampaknya ketika 1927 PKI memberontak kepada Belanda, mereka dipadamkan secara cepat dan dibatasi ruang geraknya. Sebanyak 13.000 orang menjadi korban.

APAKAH TAN MALAKA PKI?

Komunisme/Sosialisme secara sempit anti Tuhan itu yang menjadi musuh kaum theis tetapi kita sebagai Ahlussunnah mestilah ingat apa yang dikatakan Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Hajar Al-Haitami: “Barangsiapa tiada mengenal oleh ia akan keburukan, niscaya jatuh ia di dalamnya.” Kita belajar ilmu mereka supaya sejarah kelam Indonesia tidak berulang. Taufik Ismail, seorang sastrawan bilang jangan sampai generasi kita mendatang menjadi korban dan berdarah karena ada PKI lagi. Sebab barangkali pada ranah partai adalah urusan ideologi, tapi pada ranah bawah grassroot adalah ranah bunuh-membunuh.

Memang saat itu pada pra-kemerdekaan indonesia, musuh terbesar secara massa/komunitas untuk kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme hanyalah komunisme sehingga mau tidak mau untuk menumbangkan kolonialisme pada waktu itu adalah dengan cara menggalang kekuatan. Mereka bercermin pada revolusi Lenin atas tsar II Russia pada waktu itu. Bedanya adalah Tan Malaka tidak mengupayakan cara kekerasan tetapi PKI menghalalkan segala cara termasuk kekerasan dan pembunuhan. Kita mesti memahami PKI sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan. PKI ikut merintis kemerdekaan tetapi haluan mereka kemudian berubah menjadi rakus kekuasaan. Tan Malaka menolak itu semua.

Tahun 1925lah Tan Malaka menjadi solitaire dan meneguhkan siapa dia. Semenjak 1927 Tan Malaka sudah mendirikan Pari (Partai Republik Indonesia) sebagai bentuk protes dan kekecewaannya kepada Komintern dan sekaligus lawan dari PKI. Sampai puluhan tahun Tan Malaka dimusuhi oleh PKI sampai-sampai Ketika Musso pulang ke Indonesia pada 1948, program politiknya memiliki berbagai kesamaan dengan Tan Malaka. Namun, ketika ditanya wartawan apakah mereka akan bekerja sama, Muso menjawabnya sinis. Bila ia punya kesempatan, katanya, yang pertama dilakukannya adalah menggantung Tan Malaka. M.H. Lukman, anggota Politbiro PKI menulis bahwa Tan Malaka adalah pengkhianat Marxisme-Leninisme. ("Bintang Merah, 15 November 1950").

Kita perlu tahu 3 periode pemberontakan PKI yaitu 1928 (pemberontakan terhadap belanda), tahun 1948 (pemberontakan di Madiun oleh Muso, Republik Soviet Indonesia) dan tahun 1965 (G30S PKI/Gestapu oleh Aidit) yang mengorbankan hampir setengah juta penduduk negeri kita. Ini akibat PKI sebagai partai/institusi lebih mengutamakan radikalisme dan kekerasan juga menolak ketuhanan akibat gagal paham materialisme. Para penganutnya itu kebanyakan murid dari Sneevliet (pendiri ISDV) seperti semaoen, alimin dan darsono seorang pendiri tokoh PKI yang keluar dari Sarekat Islam memusuhi HOS Tjokroaminoto dan membentuk Sarikat Islam merah yang justru kemudian memusuhi Tan Malaka. Sneevliet adalah tokoh komunis Belanda yang kabur ke Indonesia.

Tan Malaka banyak berinteraksi dengan tokoh pergerakan nasioalis pada waktu itu dengan menyamar sebagai Pak Husein. Berkali-kali dia bertemu dengan ayah Gus Dur, KH. Wahid Hasyim dirumahnya pada waktu Gus Dur berusia 4 tahun. Tan Malaka memilih mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak) sebagai protesnya atas PKI bersama Chairussaleh, Adam Malik, Sukarni tetapi kepemimpinannya hanya berselang 3 bulan sebelum dia dieksekusi. Murba kemudian lebur bersama Partai Demokrasi Indonesia (PDI) karena mendapat perolehan kursi yang sedikit. Murba dibekukan dan kemudian dibubarkan pada September 1965 karena dituduh menerima uang US$ 100 juta dari CIA untuk menggulingkan Presiden. Fitnah ini menimpa Adam Malik, seorang sosialis yang teguh.

Tan Malaka dieksekusi di Kediri karena pemerintah khawatir dengan tindakan masa dan agitasinya akibat fitnah. Tangan Tan Malaka diikat menyilang di belakang dan ditembak atas perintah Letnan Dua Sukotjo atas “kesalahpahaman tafsir” atau mungkin juga karena dilenyapkan karena ada trifungsi pemerintah saat itu: Soekarno-Hatta, Sjarir-Amir Syarifuddin, dan Jendral Soedirman-Tan Malaka. Fungsi ketiga yang dipimpin oleh Tan Malaka tidak mengenal kompromi, “Lebih baik kita dibom atom daripada tidak merdeka 100%” kata Tan Malaka kecewa dengan Soekarno-Hatta yang tunduk pada Belanda.

PEMBAHASAN MADILOG

Sebenarnya semua ide filsafat dari jaman Yunani kuno sampai hari ini adalah bagaimana menjelaskan sesuatu yang ada (tsubut) dan tiada (nafi) dengan bahasa mereka yang “mbulet” tapi intinya adalah itu. Akan mudah memahami filsafat juga madilog ini jika kita belajar ilmu tauhid dengan dasar hukum akal: wajib, mustahil, jaiz. Ini adalah modal awal kita manusia yang mengaku berakal.

Madilog diciptakan sebagai alat pikir / senjata filsafat rakyat bawah sehingga bahasanya tidak muluk-muluk ala akademisi. Dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :
1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Pembahasan diskusi dimulai dari membahas logika mistika, logika yang berdasarkan ruhani/yang tidak nampak. Tan Malaka menolak taklid terhadap konsep ruhani berhala dengan mencontohkan Dewa Rah Mesir yang membuat alam semesta dalam sekejap.  Disinilah dimulai pertentangan antara logika mistika dengan hukum pertumbuhan (evolusi)

Tan Malaka memiliki pemikiran bahwa ada dzat dahulu baru ada kudrotnya sebagai sifat. Termasuk ada materi terlebih dahulu baru ada sifatnya. Disini Tan Malaka membahas pula tentang hukum alam sebab-akibat (kausalitas/hukum addat) yang memerlukan proses yang panjang dengan keadaan materi. Tan Malaka mempertanyakan ketuhanan Rah yang “benda”, kalau Tuhan itu benda maka dia bagian dari benda tetap yang ada di alam semesta ini. Tetapi ini mustahil. Kalau Tuhan adalah materi maka dia akan takluk pada hukum materi. Dzat berasal dari rohani (dewa) itu mustahil kalau Tuhannya itu adalah materi. Disinilah letak kesesatan kaum materialis yang menganggap Tuhan tidak ada yang ada hanya materi.

Kudrat dalam bahasa Tan Malaka sendiri adalah artinya energi, seperti penjelasannya tentang ketetapan hukum energi yang berubah bentuk dengan penelitian Joule sebagai contohnya. Dia setuju jumlah benda di alam semesta ini tetap yang berubah hanya bentuknya. Hanya ada 3 kemungkinan: dewa lebih kuat dari alam, dewa sama dengan alam, dan alam lebih kuat dari dewa.  Jika ada keyakinan benda dari roh yang sama-sama materi itu maka akan terjadi circulo in finiendo atau daur, terjadi perulangan yang tak ada habis-habisnya. Pada kesimpulannya Tan Malaka benar-benar membagi antara Qudrat Tuhan dengan Qudrat Hadisah (makhluk). Qudrat hadisah sebagai makhluk dibuat oleh tuhan dengan kausalitas/sebab akibat (hukum addat)

Filsafat bagi Tan Malaka sangat penting untuk senjata berpikir. Tugas filsafat adalah memisahkan mana yang benar dan mana yang salah, filsafat juga penting menyatukan ilmu pengetahuan yang terpisah agar orang tidak kehilangan hutan karena memperhatikan pohon. Kasus ini seperti Universitas yang mengaku universitas padahal yang mereka pelajari adalah fakultatif dan Juz’iyyah.

Mengenai materialisme, materialisme itu sendiri dikatakannya, “Jang mengatakan pikiran lebih dahulu itulah pengikut idealisme, itulah jang idealis. Jang mengatakan matter, benda, lebih dahulu barulah datang fikiran, itulah jang pengikut materialisme.” Disinilah letak kekaguman Tan Malaka lebih kepada Engels daripada Marx. Menurut Engels: Kaum idealis berpihak pada modal dan penguasa dan kaum materialis biasanya berpihak pada rakyat.

Perkembangan filsafat periode modern yang dimulai dengan rasionalisme Descartes, dilanjutkan dengan empirisime Hume dan kritisisme Kant, diakhiri masa dengan idealisme Jerman, yang memunculkan Nietzsche dan  menandai berakhirnya masa filsafat modern. Disinilah kita tahu filsafat selalu berubah seiring penemuan akal. Juga dibahas pula mengenai teori asal ilmu pengetahuan.  Metodenya: empirisme (pengalaman),  rasionalisme (sumber pengetahuan dari akal), Fenomena (gejala, Kant), Intuisi (langsung dan seketika), dialektis (dua kutub). Filsafat Idealis (plato, hume, berpuncak di hegel) Materialis (dikemukakakan Heraklit, Demokrit, Epikur, Marx-Engels).

Dengan sangat tegas Tan Malaka menolak Hume karena dia mentok dan sering penalarannya berdampak bundles of conception, sebagai contoh jeruk sudah tidak lagi benda tapi sudah merupakan ide-ide. Dengan membatalkan diri sebagai benda maka dia membatalkan dirinya sendiri. Artinya filsafat idealisme telah mati. Lalu dilanjutkan Kant dengan maju-mundur (tidak tegas) lewat konsep benda dan ding ansichnya (kalau di tauhid itu sifat, dimana sifat terpisah dari subjek/pemikirnya).

Hegel dianggap buntu oleh Marxist dan Fuerbach dianggap dialektika yang terbuka. Marxist mengakui Hegel tapi membuangnya. Disinilah terpecah menjadi dua dialektika lagi yaitu dialektika idealis dan dialektika materialistis dimana secara praktis bisa dialektika materialis menuju perjuangan kelas dan bisa diterjemahkan menjadi kaum modal dan proletar (mustadzafin). Menurutnya, pendidikan rakyat jelas merupakan cara terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan keterbelakangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme dan modal hidup mereka dalam perjuangan kelas.

Tan Malaka memusuhi kaum modal sebab sudah watak kaum modal menjadikan kepemilikan mereka sebagai alasan untuk bertindak semena-mena. Dengan wataknya ini kaum modal membuat sengsara banyak negara. Terutama dengan dibukanya saham dan pasar valas. Keuntungan semakin cepat ditangguk tapi mengabaikan resesi, yaitu saat dimana grafik pertumbuhan ekonomi menurun

Dibawah bayang-bayang kematian dan teror Jepang saat itu Madilog tidak sempurna dan bisa disempurnakan. Suatu saat kita bisa melakukan revisi atasnya atau melanjutkan dengan bahan literatur yang lebih banyak. Supaya menemukan bagaimana filsafat yang khas Indonesia.


RESPON PARA PESERTA

Abi: “Madilog membahas cara berfikir masyarakat indonesia, membantah animisme-dinamisme dan pemberhalaan juga taqlid dalam bertauhid. Kita harus menemukan Tuhan dengan menggunakan akal kita semaksimal mungkin”

Geko: “Orang kalau sudah belajar tauhid itu melihat madilog tidak bingung, kalau langsung lihat madilog akan bingung. Kita bisa nemu Tuhan dari madilog. Tan Malaka berdakwah underground ke kaum komunis. Menjadikan komunis melawan ketidakadilan, liberal, penjajah. Ini keren!”

Zia: “Malam hari ini kita mendapatkan harta karun malam ini secara literatur ketegalan juga harta karun berupa ide yang bisa dikembangkan dari Madilog. Ternyata madilog selaras ilmu tauhid asy’ariyyah jika kita cermati dengan benar. Tapi banyak yang terjebak dalam kesalahan berpikir materialisme dan kemudian meniadakan Tuhan”

Dida: “Kesan saya madilog tidak terstruktur dengan baik, sains tidak ada kaitannya dengan tuhan tidak bertuhan. Kita belajar fisika, kalkulus tapi dia bertuhan itu jadi tidak ada hubungannya. Sebagai orang yang bergelut dengan sains, fisika. Untuk orang yang baru belajar filsafat bisa masuk. Tan Malaka membuat buku untuk pemula , bagus sekali”

Alyan: “Saya menangkap Madilog tentang monotheisme, mendasari filsafat di Indonesia juga mendasari rumusan pancasila (sintesis). Madilog juga adalah modal kemerdekaan”

Heri kiswanto: “Saya baru dan awam tentang Tan Malaka. Tan Malaka punya dasar agama yang baik, latar belakangnya tidak bisa lepas. Buku ini ditujukan ke kalangan komunis agar berpikir monotheis.

Agung: “Saya menangkap, materi bagian dari ketauhidan itu sendiri dalam mencari keesaan Tuhan”

Bams: “Saya sebenarnya ingin mengerti warna pemikiran dari Tan Malaka, berkeliling dunia menjadi komunis. Berijtihad, agar komunis kembali ke jalan mereka. Tan Malaka ini sepertinya santri tetapi dia mendapat wawasan global”

Jaya: “Saya curiga Tan Malaka mengganggu orang komunis dengan nadhor, mengajak berpikir ketuhanan kepada para komunis antituhan dan kepada mereka kaum proletar”

Budi: “Filsafat terus berkembang sebagaimana ilmu bela diri.Madilog bagi saya seperti pukulan yang memotong serangan lawan Bruce Lee. Lihatlah bagaimana mbuletnya hubungan akademis dan praktek di Indonesia. Terutama solusi-solusi mereka. Kalau ada jalan berlubang dianalisis dulu sampai satu rim HVS baru ditambal tidak langsung diatasi. Ini berlanjut ke birokrasi kita yang mbuletnya tidak karuan karena mereka tidak belajar filsafat secara benar.

KESIMPULAN

MADILOG bukan barang aneh bagi santri yang rutin ngaji ilmu kalam. Materi berarti belajar tentang Hudutsul 'Alam, Dialektika berarti belajar Gerak-Diam, dan Logika berarti belajar Hukum Akal (wajib mustahil jaiz). Tesis-Antitesis-Sintesis bisa dicontohkan dalam dunia santri ketika Ahlussunnah Wal Jamaa’ah menjadi jalan tengah atau bahkan sintesis antara Qadariyyah (tesis) dan Jabariyyah (antitesis). Kapitalisme dan Sosialisme bukan lawan, mereka adalah makhluk yang satu hanya mendatangi kita sewaktu-waktu dengan baju yang lain. Kita lihat bagaimana negara kapital yang ternyata adalah sangat liberal seperti China dan Russia sekarang (semenjak era Gorbachev). Musuh utama kaum modal adalah kaum ikhlas seperti Nahdlatul Ulama.

Berapa kali Gus Dur bilang: “musuh kita adalah kemiskinan dan kebodohan”. Lewat madilog, segala problem kehidupan yang masih tercakup dalam Hukum Alam, semisal kelaliman, kemiskinan, kebodohan, semestinya dihadapi pula dengan logika kausalitas alam, yakni harus selalu diupayakan dengan kasab dan ikhtiyar. Tak boleh sekedar berpangku tangan dan melarikan diri menuju logika mistik.
Saat Lenin menumbangkan Tsar dan menyatukan uni soviet tapi kemudian terjadi kebingungan secara sistem di Russia, pada masa Gorbachev kemudian Russia membuka perekonomian. Marxisme punya kelemahan disini dimana dalam ranah pergerakan masih sebatas “menumbangkan kapitalisme” tapi tidak menawarkan bentuk solusi ekonomi yang lebih baik. Perlawanan terhadap kapitalisme, imperalisme, dan kolonialisme adalah sama-sama perlawanan kepada setan seperti kata Haji Misbach.

Kita tidak perlu ideologi sosialisme lama lagi karena semua jenis sosialisme sudah dirangkum di Islam dan Pancasila. Begitulah ideologi ini datang untuk menyempurnakan, tidak merusak tatanan dan pondasi sebelumnya. Seseorang yang ingin mengembalikan Indonesia kepada komunisme adalah seorang yang belum selesai dengan pemikirannya.

Kita harus menemukan bentuk aplikasi dari sistem Tan Malaka, caranya adalah dengan melakukan revisi atas buku madilog agar data dan fakta yang dijabarkan sesuai dengan perkembangan jaman sebab tan malaka pada hakikatnya menjabarkan ilmu pengetahuan tapi prakteknya harus dicari. Misalnya suatu hari jika Madilog diterapkan dalam literasi sosial di akademisi.Kita akan berangkat dari bukti kesimpulan lalu mencari penjelasan. Bisa bab skripsi-tesis kita kita balik dari masalah, data, analisa, fakta menjadi fakta dan bukti terlebih dahulu.

Kesimpulan diskusi ini adalah kami menemukan definisi yang tepat bagi kami untuk Tan Malaka" Melihat latar belakang dan hikayatnya, Tan Malaka adalah santri yang memperkaya wawasan global kemudian memilih sosialis komunis sebagai ranah juangnya, lalu mendakwahkan tauhid sekaligus pergerakan berlandaskan monotheisme melalui Madilog (BM)




Perangkum: Budi Mulyawan
Jum'at, 7 Agustus 2015
Desa Talang, Tegal
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang