Diskusi Santrijagad: Dakwah Islam di Bumi Papua

7 September 2015

Angin malam pancaroba September yang dingin tidak menyurutkan para jomblo-jomblo untuk datang dari berbagai pojok desa di Tegal guna mengikuti diskusi bulanan rutin Santrijagad. Malam ini kami kedatangan tamu spesial dengan tema yang spesial pula. Beliaulah Ustad Abdul Wahab, lahir asli di Desa Gantungan, Jatinegara yang kini menjadi aktivis dakwah NU dan pimpinan Sarkub cabang Papua. Ustad Wahablah yang mengusulkan tema pada malam ini yaitu Dakwah islam di bumi Papua. Sebuah subtema yang vital dalam penjabaran dan praktek islam nusantara yang indah dan damai.

"Abi, The Moderator"
 Diskusi ini juga bersamaan dengan malam tasyakuran kami atas berdirinya pojok Santrijagad di sebuah petakan toko berukuran 3,5x3,5 m di perumahan palem asri Slawi. Tempat ini nantinya akan kami gunakan menjadi sekretariat Santri Foundation dan media online Santrijagad serta akan difungsikan sebagai ruang perpustakaan publik juga koperasi kreatif kami bersama. Waktu menunjukan pukul 18.30 WIB dan Ustad Abdul Wahab mengabarkan sudah berada di pasar Trayeman Slawi. Jaya pun segera menjemput beliau sembari kami yang di markas menata karpet dan tikar agar bisa nyaman untuk acara diskusi.  Setibanya di pojok Santrijagad pukul 20.00, Ustad Wahab beristirahat sejenak dan berbincang hangat sebagai perkenalan dan pemanasan diskusi.

Abi dan Geko kemudian datang secara bersamaan setibanya Ustad Wahab datang. Setelahnya menyusul datang teman-teman kami komunitas mubahasah dari Lokal Slawi dan kamipun bercengkrama dengan akrab menceritakan apa itu Santri Foundation dan Santrijagad sebagai media online. Mereka balik merespon dengan menceritakan perkembangan diskusi dan mubahasah fiqih dan tauhid di lokal Slawi terutama bagaimana pasang surutnya peserta lokal.

"Pembacaan Tahlil, Sholawat Mudhoriyyah, dan Doa"
Tak disangka-sangka pukul 21.00 datanglah Imam Besar Jomblowan Ustad Sya’roni Assamfuriy yang sengaja dari Cikarang untuk menghadiri acara ini. Beliau pun dijemput dari terminal Slawi dengan kesepakatan acara Ustad Sya’roni yang keren ini belum duduk bersama kami. Sebuah surpise yang indah. Acara pun bergegas dimulai pukul 21.00 dengan pembacaan Tahlil sebagai pembukanya sebagai hadiah dan terima kasih kepada leluhur dan guru-guru kami. Setelah pembacaan tahlil kemudian dilanjutkan dengan membaca sholawat Mudhoriyyah seraya bersimpuh menyampaikan rindu kepada Kanjeng Nabi. Setelah acara ini kami makan nasi tumpeng bersama sebagai syukuran atas berdirinya sekretariat kami dan juga permohonan keselamatan dan berkah kepada Allah agar perjalanan Santri Foundation dan Santrijagad sebagai medianya dimudahkan dan diridhoi.

"Makan Tumpeng Bersama"
Diskusipun segera dimulai dengan Abi sebagai moderatornya. Abi membagi diskusi ini dengan dua sesi. Sesi pertama adalah sharing dari narasumber, dalam hal ini Ustad Abdul Wahab. Setelah mengucapkan salam beliau kemudian membuka langsung dengan saran agar Santrijagad, Sarkub, NU, dan berbagai ormas Ahlusunnah Waal Jamaah bergandengan tangan terutama dalam pergerakan dakwah di Papua. Kita sama dalam satu tujuan dan jangan sampai terpecah belah dengan alasan apapun meski kita beda wujudnya. Penulis teringat syair Syeh Jalaluddin Rumi: “Lampu sejuta bentuk, satu cahayanya”. Beliau mengharap Santrijagad dapat bergandengan dan bisa membantu program Sarkub terutama Sarkub Papua. Sebagaimana janji Santrijagad dulu di Trasa kepada Ustad Sya’roni.

Sambil menyedot rokoknya, Ustad Wahab membuka gerbang kisahnya Di Papua. Dimulai dari bercerita bagaimana persepsi media dan televisi saat ini terhadap Papua. Papua banyak digambarkan media dengan berbagai berita yang seram nan mencekam terutama hubungan lintas agamanya. Ini sebenarnya sangat tidak benar. Sebab barangkali kita manusia kebanyakan mendahulukan suudhon daripada khusnudhon.

“Saya pun mengalami persepsi yang sama seperti kalian akibat bentukan media. Tetapi setelah saya disana, semua bayangan negatif Papua yang melekat di benak hilang. Sungguh sepanjang hidup saya belum pernah ketemu orang yang seakrab orang Papua. Untuk pengetahuan bersama, saya ini sebenarnya hendak pulang setelah pekerjaan saya rampung selama 4 bulan di Papua. Sampai kemudian  saya ditahan tokoh katolik di Jayapura untuk membangun pendidikan disana. Ceritanya unik, pada awalnya ada konferensi NU dan saya mengalami euforia. Betapa tidak, bendera NU yang jarang saya lihat berkibar di depan mata, di Papua, tempat yang benar-benar jauh sekali dari asal NU itu sendiri. Saking gembira dan ingin berkhidmat pada NU kemudian saya pun mengambil sapu dan ikut bersih-bersih pada persiapan konferensi. Dari sinilah saya mulai mengenal tokoh NU, tokoh Katolik, dan berbagai agama serta lintas kepercayaan. Saya diminta berdakwah disana untuk menggelar kajian Aswaja” Kata Ustad Wahab.

“Saya pun kemudian mencoba mengabari sarkub pusat untuk menggalang dana untuk proses dakwah di sana bersamaan dengan mengenal tokoh NU dari Papua Barat, ada pula kenalan saya yang bernama Mas Zainal Arifin yang mendirikan sebuah SD Ma’arif NU di Papua Barat. Saya sangat terinspirasi dari kegigihan Mas Zainal Arifin yng masih muda ini. Dari dialah saya belajar bagaimana memahami  situasi dan strategi dakwah. Disana ada pula anggota anshor yg mendirikan TK. Nah masalah sebenarnya dimulai, banyak yg berjuang tapi nggak diliput sehingga banyak dari orang-orang kita yang tidak tahu dan tidak care untuk membantu dakwah mereka di Papua. Sepanjang saya blusukan di bumi Papua ini saya melihat dengan kepala sendiri bagaimana ekonomi di Papua tidak menentu. Problem kita sesungguhnya di Papua adalah membangun penduduknya lewat pendidikan dan pengajaran, yang betul-betul mereka membutuhkannya” Sambung Ustad Wahab.

"Dakwah Ustad Abdul Wahab di Papua"
“Ide kami untuk membantu kemudian disambut NU dari berbagai cabang di belahan dunia. Setelah kami mempublikasikan fenomena-fenomena ini, bantuan dana pun mulai bergulir dari masyarakat NU di Hongkong, Taiwan, Belanda, bahkan dari Arab Saudi. Sebenarnya massa NU itu sangat banyak tapi tidak terkoordinir dengan baik. Ada pula mereka menyumbang tapi pada orang juga institusi yang salah. Oh ya, sebenarnya kalau kita mau belajar toleransi, kerukunan umat beragama datanglah ke Papua. Di Papua itu semangat gotong royongnya sangat tinggi sekali. Misal yang saya ketahui ketika ada pembangunan mesjid, orang kristen pun ikut membantu biaya dan tenaga untuk membangunnya. Maka jangan pernah beranggapan ada konflik dan kekerasan agama disana apalagi antara islam dan kristen. Seandainya ada perang atau keributan maka itu bukan atas nama agama, tidak lain itu perkara dunia/ekonomi” Lanjutnya.

Hadirin menyimak dengan khidmat dan Ustad Wahab menceritakan tentang bagaimana beliau disuruh menggelar pengajian. “Saat saya mengadakan pengajian, yang hadir dalam pengajian ini bukan hanya orang islam, tokoh kristen bahkan duduk disebelah saya dan banyak pula yang hadir untuk mendengarkan sebagai rasa gotong royong dan solidaritas. Saya teringat bagaimana Sunan Kudus berdakwah, harus menyesuaikan kondisi masyarakat dan adat. Seperti bagaimana Sunan Kudus menghargai tradisi lokal budaya keistimewaan sapi saat itu di masyarakat. Sunan Kuduspun kemudian melarang menyembelih sapi dan menggantinya dengan kerbau”

“Tidak mungkin saya membahas yang berat untuk mereka. Saya lebih banyak bercerita bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW agar mudah dipahami dan diresapi. Metode dakwahnya haruslah lembut sebagaimana Alquran menjelaskan term ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan cara yang baik. Perlu kita ketahui bersama bahwa agama islam masuk Papua sudah sangat lama sekali. Di Jayapura saya menemukan makam Habib Muhammad Asghor yang kira-kira berdakwah tahun 1867 - 1908, berarti sekita 40 tahun di Papua sampai  Belanda kemudian datang mengintervensi, menghancurkan peninggalan-peninggalannya sehingga sukar dikenali lagi. Kurangnya publikasi dan riset juga menjadi kendala. Kalau kita mencermati, banyak nama desa Papua yang islami di pesisir seperti Hamadi, Solawati, dst”

“Disana satu keluarga, satu rumah bisa beda agama. Saya bertemu pendeta yang menjadi anggota FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama), beliau menyatakan: “Sungguh tidak ada kerukunan beragama seindah Papua”. Kita akan mengenal banyak istilah unik disini seperti sebutan untuk masjid. Tukang ojek bingung ketika saya bertanya dimana masjid. Ternyata disana istilah masjid adalah gereja islam. Jadi kalau kita bilang mau ke gereja islam maka akan tahulah mereka dan mengantar ke masjid. Ustad dan Kyai disini disebut sebagai Sang Penggembala. Maka segaris dengan ini semua, berulangkali saya katakan bahwa konflik Tolikara adalah bukan konflik agama. Apalagi ada isu GIDI membakar masjid, itu sangat tidak benar. Terbakar atau dibakar saya sukar diidentifikasi apalagi pelakunya” Katanya.

"Tamu Teman Diskusi Dari Lokal Slawi"
“Waktu kejadian ini, saya mendapatkan mandat dari Kyai Huda, beliau menganjurkan saya untuk ke Tolikara sembari menggalang dana untuk membangunnya. Solusi ketika ada tempat ibadah terbakar bukan dengan menyalahkan tapi bangunlah masjid itu lagi. Saya pun nekat ke Tolikara dari Jayapura dengan modal tawassul kepada guru dengan niat untuk membantu masjid tersebut. Alhamdulillah di pesawat ketika menuju Walesi saya berkenalan dengan seseorang, beliau bertanya dengan bahasaa arab karena saya memakai jaket Sarkub dan NU. Ternyata beliau adalah anak angkat pengasuh Pesantren di Walesi. Pada waktu di bandara, yang saya heran ternyata keluarga penjemputnya berkalung salib. Benar-benar keberagaman”

“Kalau di Jawa cukup dengan bersalaman, Orang Papua suka memeluk seseorang ketika berkenalan atau berpisah sebagai budayanya. Ini membuktikan kasih sayang dan kemanusiaannya begitu mendalam. Saya pun yang sendirian ini dipersilakan mampir ke Pondok Al Istiqomah Walesi. Betapa terharunya ketika melihat anak anak kecil sedang mengaji Alquran disana. Kalau kita berniat baik pasti di perjalanan akan dipertemukan orang baik. Perjalananpun saya lanjutkan, sendirian. Saya sempat ditahan untuk tidak melanjutkan ke Tolikara kecuali dikawal TNI atau Polri dengan alasan keamanan, tapi saya berkeras untuk terus kesana hanya dengan sopir. Bermodalkan bismillah saya pun naik mobil 4x4 hanya dengan sopir mobil itu. Bukan melewati jalan tapi melewati kebun dan hutan belantara. Ongkosnya sekitar 2,5 juta sekali berangkat dan tentu dikalikan dua agar bisa pulang”

“Sesampainya disana, masjid yang terbakar tinggal hanya lapangan. Saya bertemu dengan Imam Masjid yang bernama Pak Ali Muchtar. Mereka sangat terharu atas kunjungn ini. Saya tinggal disana selama 5 hari untuk menyalurkan bantuan senilai 75 juta rupiah. Di Tolikara saya pun disambut dan tinggal di rumah orang kristen yang benar-benar peduli terhadap peristiwa pembakaran ini. Saya mencoba menganalisa apa yang terjadi disana. Tidak ada pembakaran di Tolikara, tapi terbakar. Awalnya dari ruko yang terbakar atau dibakar kemudian merembet ke arah masjid. Nah, justru masyarakat yang berbagai agama disitu membantu memadamkan apinya pada saat kejadian”

“Saya baru mengetahui sejarah islam di Tolikara itu sangat unik. Pada tahun 1988 dan 1989 ada pengiriman guru dari Jawa ke Papua. Waktu itu orang papua heran ada orang sholat. Dikira mereka seperti sedang bersenam. Pada akhirnya guru itu juga berdakwah dan masyarakat membangunkan masjid untuknya. Kalau melihat seperti ini ketika berbagai ormas ingin berjihad maka berjihad dengan apa dan mau apa? Dengan kekerasan dan perang? Sungguh ini keliru. Berjihad di Papua itu caranya adalah memerangi kebodohan dan kemiskinan. Datanglah kesini, tinggal disini dan dirikanlah madrasah. Saya menemukan disini kita mengalami krisis pendakwah”

"Acara Berlangsung Meriah dan Hangat"
“Sudah cukuplah kita orang islam meributkan tahlil dan bidah tapi diganti dengan bagaimana cara membuat pesawat, bagaimana menciptakan teknologi alternatif untuk melintasi daerah yang sulit. Saya ingin kita banyak mendirikan madrasah disini, bahkan kalau mau biaya hidup pengajarnya kita harus bisa menanggungnya. Saya pun pengumuman dimana-mana tapi sampai hari ini tidak ada yang menghubungi saya sama sekali. Papua itu surga katanya, surga kecil yang diberikan oleh Allah. Papua akan maju jika pendidikannya maju. Salah kita jika tidak melakukan sosialisasi. Kita tidak butuh pencaci tapi butuh pencari solusi. Saya pun terus melakukan open recruitment untuk mencari pengajar di pulau Azmat juga kampung Kelalin. Jangan Cuma indonesia mengajar tapi kita harus bisa Indonesia mengaji” Kata beliau sangat bersemangat

Dengan bercanda ala Jomblo Ustad Wahab menceritakan bab Nikah: “Kita butuh wanita, tapi kita juga butuh ladang dakwah. Ke depan saya ingin anak-anak papua dipesantrenkan di Jawa, dididik ilmu agar bisa bermanfaat untuk tanah Papua. Kantor Sarkub sendiri di hotel mutiara itu kepunyaan orang katolik. Jadi bersama agama lain kami harapkan bisa membangun Papua”

Sesi sharing berakhir, Abi sebagai moderator kemudian mempersilakan hadirin untuk merespon atau bertanya. Geko pun mengawali feedback. Dia bercerita: “Saya membaca artikel, disana mengatakan ada orang yang bertemu dengan kepala suku dan kepala suku itu menunjukan kotak jimat yang ternyata isinya adalah Alqur'an. Itu bagaimana? Apakah ada kaitannya?” Tanyanya kepada Ustad Wahab. Dijawab oleh Ustad Sya’roni bahwa itu adalah mushaf Alqur’an dalam kisah perjalanan Sultonul Qulub Habib Munzir Al Musawwa ke Papua, Allahuyarham.

Ustad Wahab bercerita mengenai sebuah contoh keluwesan dakwah disana. Ada cerita unik ketika beberapa penduduk masuk Islam dan mengajukan syarat agar bisa tetap makan babi meskipun masuk islam. Ustad itu pun memberbolehkan tapi dengan syarat babi yang dimakan adalah babi betina. Mereka pun mengiyakan dan akibatnya babi betina habis dan babi tidak bisa beranak lagi di kampung situ. Lalu mereka mengajukan agar bisa memakan babi jantan dan sang Ustad mengiyakan, maka akibatnya habislah sisa babi di kampung tersebut dan akhirnya Ustad itu memberikan solusi: “Makanlah kambing atau ayam sebagai pengganti babi”. Akhirnya mereka sudah benar-benar tidak makan babi lagi. “Ini adalah seni dakwah yang cerdas tanpa kekakuan dan kekerasan.” Kata Ustad Abdul Wahab yang dilanjutkan keterangan Ustad Sya’roni tentang bagaimana nabi menghapus budaya khamer bukan secara frontal tapi secara berangsur-angsur.

“Apa yang saya alami di Papua, termasuk di kehidupan tidak lepas dari barokah guru saya Abah KH. Ahmad Saidi dan Abah KH. Muhammad Chasani yang berdampak pada kemudahan-kemudahan hidup. Saya sendiri secara keilmuan pas-pasan tetapi ya nekat saja, demi berkembangnya islam dan dakwah. Saya teringat pesan beliau Abah KH. Ahmad yaitu Ru’yatinni’am fi halatinniqom, lihatlah kenikmatan dalam setiap penderitaan. Bahwa sesungguhnya penderitaan-penderitaan yang kita alami adalah pengantar dari kenikmatan itu sendiri” Kata Ustad Wahab dan kemudian menyambung lagi “Oh ya perihal kejadian terbaru kebakaran di Pondok Al Muttaqin bahwasanya ini pun sama seperti di Tolikara, kebakaran. Tapi media membesar-besarkannya sebagai isu agama. Atas kejadian ini NU dan Sarkub membantu sekitar 10 Juta ditambah baju dan pakaian kepada pondok Al Muttaqin.”

Dida kemudian bertanya dengan polos: “Papua sendiri belum terkontaminasi budaya luar?Apakah mereka berinteraksi dengan hp/tivi?” . Ustad Wahab menjawab: “Ada Papua kota, desa dan pedalaman. Kalau di kota ya seperti kota pada umumnya. Kalau Papua desa ada rumah tetapi terkadang tidak ada listrik. Ada Papua pedalaman. Nah, di Papua pedalaman itulah yang kita kenal banyak pemakai koteka. Untuk kesana aksesnya benar-benar sukar. Akibatnya sebagai contoh Di tolikara saja semen 1 sak harganya sekitar 1,5juta sementara harga bensin sekitar 20 ribu perliter” Jawab Ustad Abdul Wahab.

“Saya banyak melihat pencaharian masyarakat disana sebagai penjual kinang. Nah tantangan dakwah di Papua sendiri nomer satu adalah males, selain medan dakwah sangat sulit. Kita mesti bisa mengalahkan diri sendiri dulu sebelum mengalahkan medan. Saya ingin tidak Cuma dakwah tapi ada pula tata usaha, manajemen, juga pertanian yang diajarkan oleh mubaligh agar ilmunya lengkap dan bermanfaat nyata. Saya sendiri sering ditanyai kenapa berani dakwah kesana? Sebab saya ini anak pesantren. Didikan sekolah umum akan membuatmu manja sementara didikan di pesantren itu adalah bagaimana makan seadanya tetap enak, tidur juga enak dimanapun berada tanpa membalas dendam jam tidur. Tidak jarang anak pesantren tidur hanya 1-2 jam sehari karena padatnya jadwal mereka. Santri itu berjiwa tentara. Siap ditempatkan dimana saja, juga harus bisa apa saja. Kami bisa ngliwet, masak, mencuci baju, pertukangan, pertanian selain ilmu-ilmu agama”

Diskusi ditutup dengan masukan Ustad Abdulwahab dan Ustad Sya’roni As Samfuriy yang menyarankan Santrijagad terus berkiprah dalam dunia kepenulisan dan pemikiran. Transkriplah beberapa pengajian dan sebarkanlah secara umum. “Santrijagad punya jalur sendiri yang unik” Puji mereka dalam rangka mengapresisasi kami. Waktu pun menunjukan pukul 01.00 dan diskusi secara formal ditutup dengan pembacaan Al Fatihah bersama memohon keselamatan buat kami dan bangsa Indonesia. Kami juga menyerahkan cinderamata kaos Santrijagad untuk kenang-kenangan kepada Ustad Abdulwahab sebagai narasumber. Diskusi secara informal pun baru dimulai, kami gelar sampai fajar terbit.(Budi Mulyawan)


Jum’at, 4 September 2015
Pojok Santrijagad
Perumahan Trayeman
Slawi, Kab Tegal


"Sampai Jumpa Lagi Ustad Abdul Wahab"
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang