Fatimah Az-Zahra Puteri Kinasih Rasululllah - Kelahiran Si Bungsu (1)

28 September 2015

Oleh : H.M.H Alhamid AlHusaini

Rasulullah saw pernah menerangkan: “Malaikat datang padaku untuk menyampaikan kabar gembira, bahwa Fatimah adalah wanita yang paling terkemuka di antara semua wanita penghuni surga, wanita yang paling terkemuka di kalangan umatku,” (hadist shahih berasal dari hudzaifah)

Fatimah lahir lima tahun sebelum Nabi Muhammad saw menerima wahyu atau tepatnya pada hari jum’at 20 jumadil akhir tahun kelima sebelum bi’tsah. Ia lahir dalam keadaan suci bersih dan oleh ayahandanya diberi nama Fatimah. Peristiwa ini terjadi bersamaan orang-orang Quraisy sedang giat memperbaiki dan membangun kembali ka’bah secara besar-besaran.

Ketika Nabi Muhammad SAW diberitahu tentang kelahiran puterinya, beliau memanjatkan syukur kehadirat allah swt atas karunia besar yang akan menjadikan siti Fatimah wadah keturunan beliau. Ia adalah putrid bungsu beliau, puteri yang paling disayang. Ia laksana sebuah pohon yang akan membuahkan keturunan ahlul-bait Nubuwwah.

Sesuai dengan tradisi orang arab pada masa itu, Siti Khadijah selalu menyusukan putera-puterinya kepada wanita lain. Hanya seorang saja yang di susuinya sendiri, yaitu puteri bungsunya, Fatimah. Tidak ada keterangan mengapa siti Fatimah mendapat perhatian yang demikian khusus dari ibunya. Tetapi orang terutama menilai betapa kasih saying siti khadijah r.a kepada anak bungsunya ini.

Rupanya sudah menjadi kehendak takdir, bahwa nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah r.a tidak mempunyai keturunan seorang putra. Tak seorang pun putera-puteranya yang hidup mencapai usia dewasa. Semuanya wafat pada usia masih sangat muda.

Pemberian nama “Fatimah” itu karena Allah telah berjanji akan menghindarkan Fatimah (fathomaha) dan para pencintanya dari siksa neraka pada hari kiamat. Nama Fatimah seringkali disertai nama-nama tambahan, seperti “Azzahra” dan lain-lain. Semuanya itu hanya untuk lebih menggambarkan kemuliannya.

Siti Fatimah r.a juga disebut “as-siddiqah”  (wanita terpercaya), “al-mubarakah” (yang diberkahi Allah), “at-thahirah” (wanita suci). Tetapi yang paling sering dipergunakan adalah “Fatimah Azzahra”. “Azzahra”, berasal dari kata “Zahara”,”Yazharu”,”Zuhran”. Artinya bercahaya, bergemilang dan semerbak. “Zahrah” juga berarti bunga. Siti Fatimah r.a mendapatkan nama “Zahra” karena kulitnya yang putih bersih, seolah-olah bercahaya cemerlang.

Wujud lahiriah siti Fatimah r.a merupakan cermin dari wujud  fisik Rasulullah saw. Seorang ahli sejarah kenamaan, al-Hakim, dalam bukunya berjudul “ al-mustadrak” mengungkap hal ini ketika ia mengetengahkan pertanyaan kepada ibunya. Kata Anas: “ Aku bertanya pada ibuku tentang sifat lahiriah Fatimah r.a. ibuku menerangkan, bahwa Fatimah penampilanya benar-benar mencerminkan Rasulullah saw, kulitnya putih kemerah-merahan, rambutnya hitam pekat dan panjang”.

Keterangan itu di perkuat lagi oleh siti Aisyah ummul mukminin r.a karena ia pernah mengatakan: “Aku belum pernah melihat seorang hamba Allah, yang baik sifat maupun ucapannya menyerupai Rasulullah saw kecuali Fatimah”. 

Mengenai kemiripan puteri Rasulullah dengan ayahandanya itu diperkuat lagi oleh Anas bin Malik dalam riwayatnya yang lain: “ Dari keterangan yang kuperoleh dari ibuku, Fatimah dikatakan sebagai bulan purnama. Ketika Siti Khadijah melahirkannya, ia melihat bayi yang baru lahir itu berwajah serupa dengan ayahandanya. Bukan main gembiranya. Hal itu dipandang olehnya sebagai karunia Allah kepada dirinya dan kepada keluarganya”. 


Lingkungan Pertumbuhan

Siti Fatimah r.a dibesarkan di tengah-tengah keluarga Nubuwaah. Ia menerima pendidikan langsung dari ayahandanya, Nabi Muhammad saw baik dibidang keagamaan maupun di bidang kehidupan sehari-hari berdasarkan akhlak dan budi pekerti yang luhur.

Salah satu contoh cara Rasulullah saw mendidik puteri tercintanya, tercantum dalam riwayat yang dikisahkan oleh Ja’far as-sadiq. Pada suatu hari datanglah Fatimah menghadap ayahandanya. Ia mengeluh tentang suatu kesulitan yang sedang dihadapinya. Oleh beliau, ia diberi selembar pelepah kurma berisi tulisan. Kepadanya Rasulullah berkata “ Pelajarilah apa yang tertulis di pelepah ini”.

Ternyata tulisan itu berbunyi : “ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, ia tidak akan mengganggu tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, ia pasti menghormati tamunya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, ia pasti berkata baik-baik atau diam. Hadist tersebut mengungkapkan sekelumit bagaimana Rasulullah mendidik putrinya dan betapa mulia kata-kata itu.

Besar sekali perhatian rasulullah saw pada pendidikan puterinya. Karena itu ia menjadi seorang wanita yang sangat ramah, berhati lembut, sbar, tenang, anggun, berpandangan jauh, teliti, cermat dan selalu menjaga kesucian diri. Ia pantang berdusta dan tidak pernah menggunjing orang lain.

Sejak kecil Fatimah r.a sudah mempelajari al-Qur’an. Rasulullah saw sendirilah yang membimbingnya. Kadang-kadang dibantu Ali bin Abi Thalib r.a. Guru manakah yang dapat menyamai Rasulullah saw ? jadi tidak mengherankan kalau siti Fatimah menghayati al-Qur’an dalam perilakunya sehari-hari dan memahami dengan tepat firman Allah swt itu.

Setelah Rasulullah saw menerima perintah ilahi memperingatkan kaum kerabat terdekat (QS asy-Syu’ara: 214 ), Beliau saw pergi mendatangi orang-orang Quraisy yang berkerumunan di depan ka’bah. Kepada mereka Beliau saw berseru sambil menggandeng putrid bungsunya, Fatimah az-Zahra, “ Wahai kaum Quraisy…, selamatkanlah diri kalian! Di depan Allah aku tidak berguna bagi kalian…! Wahai Bani Abdul manaf, ketahuilah bahwa di depan Allah aku tidak berguna bagi kalian…! Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, didepan Allah aku tidak berguna bagimu…! Wahai Shafiyyah (Bibi Nabi), di depan Allah aku tidak berguna bagimu…! Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah apa yang engkau inginkan dariku, di depan Allah aku tidak berguna bagimu !”.

Dengan suara lirih di bibir Fatimah menyahut, “ Ayah, seruan ayah kutaati!”.
Fatimah Azzahra tumbuh dan dibesarkan dalam suasana dan lingkungan kenabian. Sebagai wanita puteri manusia termulia di permukaan bumi, Ia menyadari kedudukanya di tengah-tengah umat islam. Menyadari tugas-tugasnya di masa depan sebagai seorang ibu yang akan melestarikan keturunan Rasulullah saw. [Ahmad Syofwandi]

Kisah selanjutnya, klik Bagian 2: Kehidupan yang Berat
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang