Renungan Hari

15 September 2015


Dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, baik menggunakan hitungan matahari maupun rembulan. Selain tahun kabisat, tahun matahari berjumlah 365 hari. Hal itu dapat diperinci sebagai berikut:
  1. Bulan yang mempunyai jumlah 31 hari ada tujuh yaitu: Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober dan Desember. Berarti 31 X 7 = 217 hari.
  2. Bulan yang mempunyai jumlah 30 hari ada empat yaitu: April, Juni, September, dan November. Berarti: 30 X 4 = 120 hari.
  3. Bulan yang mempunyai jumlah hari 28 yaitu Februari. Hal ini untuk tahun selain kabisat.

Apabila tahun kabisat yaitu tahun yang habis dibagi empat, maka bulan Februari mempunyai jumlah hari 29.

Dan hal ini terjadi setiap empat tahun sekali. Contoh, 2016 dibagi empat menghasilkan angka lima puluh empat tanpa sisa, maka jumlah hari pada bulan Februari terdapat 29, yang berarti jumlah hari pada tahun itu ditambah 1 hari yaitu 366 hari. Jika dihitung: 217 + 120 + 28 = 365 hari. Sedangkan tahun yang menggunakan peredaran rembulan, jumlah hari dalam satu tahun terdapat 355 hari.
Hal ini dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Bulan yang mempunyai jumlah 30 hari ada tujuh, Yaitu: Muharrom, Shofar, Robi’ul Akhir, Jumadil Akhiroh, Romadlon, Dzul Qo’dah, dan Dzul Hijjah (menggunakan kalender PP Al-Anwar Sarang 1437 H). Berarti 30 X 7 = 210 hari.
  2. Bulan yang mempunyai jumlah 29 hari ada lima, Yaitu: Robi’ul Awwal, Jumadal Ula, Rojab, Sya’ban,dan Syawwal (menggunakan kalender PP Al-Anwar Sarang 1437 H). Berarti 29 X 5 = 145 hari. Jika dihitung: 210 + 145 = 355 Hari.


Melihat keterangan diatas, bisa diketahui bahwa selisih antara tahun matahari dan rembulan adalah 10 hari (365 dikurangi 355) dan tahun rembulan akan selalu mendahului tahun matahari. Hal ini diisyarahkan oleh Al-Qur’an Surat Yasin Ayat 40:

لا الشمس ينبغي لها أن تدرك القمر ولا الليل سابق النهار وكل في فلك يسبحون

“Dan tidak mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya”. (Terjemah Kementerian Agama RI).

Jika dalam satu tahun terdapat selisih 10 hari, maka dalam jangka masa 33 tahun ada selisih waktu 338 Hari, karena (10 Hari x 33 tahun = 330 hari) ditambah 8 hari tahun kabisat. Tiga ratus tiga puluh delapan hari ini sama dengan sebelas bulan delapan hari, jika dibulatkan sama dengan satu tahun.

Inilah siklus titik temu antara tahun matahari dan rembulan. Hal ini menunjukkan bahwa setiap 33 tahun matahari sama dengan 34 tahun rembulan, dengan kata lain setiap 33 tahun terdapat selisih satu tahun.

Hal ini diisyarahi dengan biji tasbih yang berjumlah 33 biji yang sama dan satu biji dengan bentuk berbeda. Dengan demikian, setiap seratus tahun (satu abad) matahari sama dengan 103 tahun rembulan dan memiliki tiga siklus titik temu matahati. Hal ini diperingati oleh ummat islam dengan membaca tasbih سبحان الله 33 kali hamdalah الحمد لله 33 kali dan takbir الله أكبر 33 kali ditambah bacaan:

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيي ويميت وهو على كل شيء قدير ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

satu kali, sehingga berjumlah seratus untuk memperingati satu abad seratus tahun. Dan jika seratus tahun matahari terdapat tiga siklus maka dalam tiga ratus tahun terdapat 9 siklus, yang berarti tiga ratus tahun matahari sama dengan tiga ratus sembilan(309) tahun rembulan.

Al-Qur’an Surat Al-Kahfi Ayat 25 memberi isyarah tentang hal ini :

ولبثوا في كهفهم ثلاث مائة سنين وازدادوا تسعا

“Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.
Yaitu masa tinggal Ashhabul Kahfi dalam gua 300 tahun mengikuti penanggalan matahari atau 309 tahun mengikuti penanggalan rembulan.

Seperti dijelaskan oleh Al-Imam Jalal Al-Dien Muhammad bin Ahmad Al-Mahalli dalam tafsir Jalalainnya sebagai berikut:

{ولبثوا في كهفهم ثلاث مائة} بالتنوين {سنين} عطف بيان لثلاثمائة وهذه السنون الثلاثمائة عند أهل الكهف شمسية وتزيد القمرية عليها عند العرب تسع سنين وقد ذكرت في قوله {وازدادوا تسعا} أي تسع سنين فالثلاثمائة الشمسية ثلاثمائة وتسع قمرية.

Syaikhina Maimoen Zubair setelah sholat Shubuh berjamaah di Musholla Al-Anwar dan selesai membaca bacaan diatas, membaca kalimat Tahlil لا إله إلا الله sebanyak tiga ratus kali untuk memperingati akan hal ini.

Dan hal itu terjadi setelah mengetahui hari dalam satu minggu yang berjumlah tujuh dan jam dalam sehari semalam yang berjumlah dua puluh empat serta bulan dalam satu tahun yang berjumlah dua belas. Tujuh hari itu diisyarahi dengan jumlah kata dalam Syahadat Uluhiyyah dan Syahadat Nubuwwah yang berjumlah tujuh, yaitu

لا إله إلا الله محمد رسول الله

Dua puluh empat jam itu diisyarahi dengan jumlah huruf dalam Syahadat Uluhiyyah dan Syahadat Nubuwwah yang berjumlah dua puluh empat, yaitu:

لا إله إلا الله محمد رسول الله

Dua belas tahun rembulan diisyarahi dengan dua belas huruf yang terdapat pada Kalimat Tauhid, yaitu
لا إله إلا الله

Dua belas tahun matahari diisyarahi dengan dua belas huruf yang terdapat pada Kalimat Nubuwwah, yaitu محمد رسول الله

Dan pada keterangan diatas disebutkan bahwa rembulan akan mendahului matahari, dan hal ini pun diisyarahi dengan mendahulukan Kalimat Tauhid, kemudian Kalimat Nubuwwah ketika mengucapkan dua kalimat itu. Semoga kita diberi anugrah dan pertolongan Oleh ALLOH agar mampu melakukan ibadah dan ubudiyyah selama hidup dalam mengarungi satu hari satu malam yang berjumlah dua puluh empat jam, satu minggu tujuh hari, dan satu tahun dua belas bulan.

Serta diakhir kehidupan kita di dunia dianugrahi iman dan membawa dua kalimat yang berjumlah tujuh kata, Yaitu

لا إله إلا الله محمد رسول الله


Kanthongumur.
Sarang, Selasa Pahing 
1 Dzul Hijjah 1436 H/ 15 September 2015 M.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang