Reportase Khaul ke-5 KH. Abdul Jalil Kalikangkung

17 September 2015

Oleh: Habibie Wilyama Dwi Sunu.

Selasa 15 Agustus 2015 ada yang berbeda dimana masyarakat di desa Kalikangkung  berduyung-duyung berkumpul untuk mendengarkan Mauidhoh Hasanah dalam rangka Khaul ke-5 Almarhum Almaghfurlah KH. Abdul Jalil Bin Abdul Ghoni pendiri Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin Kalikangkung. Desa yang berada di antara jalan menuju Balamoa-Benjaran Adiwerna ini telah menjadi desa hijau akan kedekatannya dengan para habaib dan para ulama.



.
Acara Khaul yang penuh kekhusyukan dalam keramaian lantunan Sholawat Nabi yang dibuka dengan Hadroh dari MA yang merupakan didikan dari Ponpes jam 09.00 setelah dibuka dengan pembawa acara yang pertama kali dengan diisi pembacaan ayat suci Al qur’an oleh Ustad Rosidin.
Pada acara yang kedua sambutan oleh panitia Ustad Asrori selaku pelaksana teknis terhadap acara khaul, dilanjutkan oleh shohibul bait Gus Jafar selaku tuan rumah, dilanjutkan Perwakilan Alumni Ponpes KH. Gholib Mawardi sebagai murid KH. Abdul Jalil yang telah berdrma bakti terhadap masyarkat sekitar pangkah-tarub, dilanjutkan sambutan dari Perwakilan Pemerintah Kecamatan hingga Wakil Bupati Kabupaten Tegal Hj. Nur Azizah. Dan terakhir Mauidhoh Hasanah dari KH. Ma’arif Afandi yang berisi renungan spiritual bagi kita semua.

"Gus Ja'far"
Membincang Seorang Tokoh Masyarakat sekaligus Ulama Salafusholih yakni KH. Abdul Jalil lahir 5 Januari 1935 yang mana beliau jika dirunut dalam garis keturunan merujuk ke Sunan Kudus, Bungsu dari 3 bersaudara dan merupakan anak seorang petani yang cinta para habaib dan para ulama salafusholih. Kecil dengan didikan untuk selalu tholabul ilmi yang menjadikan semangatnya mencari pendidikan di pondok pesantren dari mulai Bangkalan Mbah Kholil, Mbah Muslih Daerah Tanggir Tuban yang paling lama berguru di sana. Dan berguru dengan Mbah Rukyat Kaliwungu satu angkatan dengan Mbah Dimyati Kaliwungu sekarang yang masih sering memberikan tausiyahnya. Setelah belajar dari guru-muryid Beliau menikah dengan putri pendiri Ponpes Al Mansur- Kalimati Adiwerna. Seorang putri yang merupakan keturunan dari Kyai Sholeh Amangkurat yang sekarang dikarunai 9 orang anak yang masih hidup 5 putri 4 putra dan yang telah meninggal 6 orang anak. Berikut merupakan ke sembilan anak dari yang pertama hingga ke terkahir, Hj. Muwanah, H. Badrodin, Hj. Siti Aminah, H. Ahmad Jafar Shodiq, Hj. Siti Nafisah, H. Marzuki, Hj. Siti Wahidah, Hj. Siti Sholihah dan yang terakhir Hj. Muzabir.

Salah satu yang sangat berpengaruh pada KH. Abdul Jalil adalah sosok Mbah Husain Seorang pengelana yang menjadi guru spiritual KH. Abdul Jalil sejak kecil, pernah ada seorang dari purbalingga dahulu kala yang mencari Mbah Husain dan ternyata tinggal di desa Kalikangkung. Sosok Mbah Husain pun pernah datang dalam mimpinya Gus Jafar anak KH. Abdul Jalil yang ke-4 yang kemarin bercerita Mbah Husain dengan Jubah Hijau bertongkat, ketiak itu Gus jafar masih kecil tertidur dan lupa sholat dalam mimpinya Mbah Husain mengingatkan dengan tongkatnya, sontak Gus Jafar kecil kaget, dan setelah itu sholat.

"KH. Abdul Jalil"
Mbah Husain memberikan wejangan pada KH. Abdul Jalil untuk Syiar Agama Islam di Kampungnya dan dirikanlah Pondok Pesantren. Tepat pada 1 Januari 1960 dimana perjuangan Beliau dalam mendirikan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin untuk mendidik dan pusat keilmuan khusus di desa Kalikangkung dan secara umum di seluruh Kabupaten Tegal.  Pemberian nama Raudlotut Tholibin sendiri Sami’na Wato’na terhadap guru beliau di Kaliwungu. Dengan sistem pendidikan Salafiah bermadzhab Imam Syafi’i. Pola shorogan dan bandungan yaitu Beliau dengan mengetes secara langsung santri-santri untuk ke jenjang lebih sesuai dengan kualitas keilmuannya. Dari pendidikan salafiyah ini berkembang menjadi pendidikan modern didirkanlah Madrasah Ibtidaiyah pada th. 1965, berlanjut ke Madrasah Diniyah Awaliyah th. 1970, berlanjut th. 1970-1975 Madrasah Tsanawiyah, dan diakhir didirikan Madrasah Aliyah tahun 1980. Dan murid beliau bany

Dan murid beliau banyak yang telah menjadi tokoh masyarakat yakni KH. Gholib Mawardi, KH. Abdul Aziz pendiri Ponpes Moga-Pemalang dll. Beliau memiliki laku Thoriqot An Nahdiyah-Naqsabandiyah, dengan istiqomah setiap kali lima waktu membaca Surat Al Insyirat, Surat Al Qadr, Surat Al Fil, Surat Al Quriasy sebanyak masing-masing tiga kali yang menjadi dekat dengan Allah SWT beserta Junjungan Nabi Agung Muhammad SAW. Dengan karomah dari mulai tembus tembok, dan semacam telepati hingga “Sabda Dadinya” menjadikan ahli hikmah, dan karena banyak memberi pertolongan ke masyarakat karena ahli Fikih, ahli Ilmu Faroid dan Ilmu Falak. Pesan beliau pada kita semua adalah “Jangan takabur dan Jangan berharap dipanggil Kyai, karena jika mengharapkan panggilan itu maka benih-benih takabur itu mulai merekah”.


Kalikangkung-Pangkah, 
Selasa 15 Agustus 2015
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang