Diskusi Santrijagad: Ekonomi Kebersamaan

8 October 2015

Beberapa lagu letto mengawali perjumpaan kami. Gitar Nohman milik Medi digetarkan dawainya tanda diskusi bulanan dimulai. Kepulan asap rokok memenuhi markas kami yang bernama pojok Santrijagad, suatu konsep public space yang diharapkan bisa diisi oleh semangat kekosongan. Sebab yang merasa kosong akan terus belajar dan mencari. Entah belajar atau mengajarkan (ta’limul mutaallim) sebab dunia ini terkutuk bagi semuanya kecuali para pelajar dan pemberi ilmu. Oleh karena itu niat lifelong learning harus ditanamkan kepada segenap individu di permukaan bumi ini semenjak muda sampai wafat.


Dida sebagai moderator mengucapkan salam dan terima kasih kepada semua yang telah hadir dan menyempatkan waktunya. Kali ini tema yang akan dibahas adalah ekonomi kebersamaan, merespon dari perkembangan dunia yang kini perekonomiannya seperti mengambang tanpa poros. Dimana-mana baik yang kapitalis dan sosialis mengalami resesi. Sebab sebenarnya ekonomi kapitalis dan sosialis sama, sama-sama racun yang dibalut madu. Ekonomi sebenar-benarnya adalah ekonomi yang mengetahui apa dan bagaimana masyarakat dan mengetahui perjalanan masyarakat sebagai pelaku ekonominya. Tentu ini hanya bisa didapatkan di ekonomi kebersamaan, its imposible the society without togetherness. Tugas diskusi malam ini adalah mencari bentuk dan formula bagaimanakah ekonomi kebersamaan ini.

Budi menyampaikan pengantar diskusi malam ini: “Manusia tidak dapat hidup sendirian dan pasti membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan. Ajaran islam mengajarkan agar kita menjalin kerjasama dengan siapapun terutama dalam bidang ekonomi dangan prinsip saling tolong menolong dan saling menguntungkan, tidak menipu dan tidak merugikan. Tanpa kerjasama maka kita sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam Islam ada suatu konsep Syirkah yang pada hakikatnya adalah sebuah kerjasama yang saling menguntungkan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki baik berupa harta atau pekerjaan”

“Tetapi mengapa di peradaban ini ketika berbicara ekonomi maka kebersamaan harus hilang atau minimal disembunyikan? Apakah tidak ada lagi kebersamaan secara ekonomi pada masyarakat kita digantikan dengan kekuatan modal dan jual beli modal? Bagaimana sejarah bubarnya Sarikat Dagang Islam? Apa yang bisa kita petik? Mengapa banyak koperasi dan paguyuban bubar bahkan KUD banyak yang tidak efektif beroperasi dan bank syariah hanya label dagang? Bagaimana ajaran nabi untuk menyikapi peradaban ini. Termasuk pesan nabi yang tidak takut kita melarat tetapi memperingatkan kita saling berebut hamparan kemudahan ekonomi. Bagaimana kita sebagai pemuda dan umat islam menyikapi ini?” Catatan-catatan pertanyaan segera dipaparkan.

Kami pun mencoba sebisanya mengurai ta’rif dan definisi tema kami satu persatu. Ekonomi merupakan suatu aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Sedangkan kebersamaan dari kata bersama adalah satu gerakan berbareng yang serentak yang kewajibannya dilaksanakan oleh elemen-elemen terkait. Ekonomi kebersamaan berarti adalah aktivitas bersama dalam ekonomi yang faedahnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

Jaya membuka diri dengan penyataan: “Yang saya tangkap dari ekonomi kebersamaan adalah investasi bersama. Tetapi pada jaman ini ketika kita bicara tentang kebersamaan maka tentu akan muncul kecurigaan? Apakah kemunculan perasaan ini wajar dan bagaimana menyikapinya?”.

Medi mencoba memandang dari sisi yang lain secara teoritik dia mengungkapkan: “Saya pernah baca buku best seller times tentang 2 penjelasan penting jenis norma yaitu ada norma pertukaran dan norma sosial. Mungkin norma ini adalah gambaran norma di Amerika. Pesan dari buku itu adalah kita tidak boleh mencampur pertukaran dengan norma”. Medi mencontohkan ketika seseorang mengisi kuesioner berbayar dengan diupah atau karena sosial nanti hasilnya justru akan lebih profesional secara sosial karena energi sosial itu lebih tinggi meskipun tidak dibayar. “Tetapi dalam kehidupan kita wajib memetakan mana pertukaran dan mana yang sosial.  Di Indonesia membantu dan transaksi tidak jelas

Amin berkata: “Saya sepakat Medi. Pernah ada ada teman saya membangun rumah. Dia tahunya sumbangan/sedang menyumbang tapi begitu temannya membangun rumah maka dia menagih material yang pernah diberikan kepadanya. Terkadang saya berpikir bahwasanya kejelekan kita adalah mengedepankan pekewuh, tidak enakan. Kita tahu bahwasanya awal segala korupsi itu ada pada pekewuh, ada pada gratifikasi”

Faqih berkata: “Saya mengamati terkadang di jamiyah rutin muslimat ada fenomena unik. Di muslimat itu ada jamaah kaya dan miskin. Nah kalau ketika yang miskin ketiban/dapat giliran tempat maka mereka bahkan akan hutang kanan kiri untuk menggembirakan Jamaah karena menggunakan orang kaya sebagai benchmarknya. Dalam hal ini saya sepakat Medi bahwa sesuatu yang sosial itu lebih berenergi”

Medi menambahkan: “Energi sosial lebih besar, itu sebabnya ada CSR dan berbagai macam kegiatan sosial perusahaan. Faqih merespin dimana pekerjaan kalau diukur secara kekeluargaan itu biasanya akan menyisakan kekecewaan sebab tidak menggunakan norma transaksi. Amin sendiri menanggapi ekonomi kebersamaan yang diasosiasikan dengan kemitraan, dia beranggapan secara hukum kemitraan itu wajib dilakukan untuk sebesar-besar kemakmuran.

Literaturpun kami buka. Guru besar UGM Prof. Dr. Mubyarto berkata bahwa sistem Ekonomi kerakyatan adalah system ekonomi yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, dan menunjukkan pemihakan sungguh – sungguhpada ekonomi rakyat Dalam praktiknya, ekonomi kerakyatan dapat dijelaskan juga sebagai ekonomi jejaring ( network ) yang menghubung-hubungkan sentra -sentra inovasi, produksi dan kemandirian usaha masyarakat ke dalam suatu jaringan berbasis teknologi informasi, untuk terbentuknya  jejaring pasar domestik diantara sentara dan pelaku usaha masyarakat. Kita rangkum pernyataan Prof. Dr. Mubyarto menjadi konsep “BERDIKARI”

Saudara kandung ekonomi kebersamaan adalah ekonomi kerakyatan. Secara ringkas Konvensi ILO169 tahun 1989 memberi definisi ekonomi kerakyatan adalah ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat local dalam mempertahan kehidupannnya. Ekonomi kerakyatan ini dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat local dalam mengelola lingkungan dan tanah.

Akar dari dua konsep ekonomi (Liberal dan Sosial) ada pada paguyuban dan organisasi. Kemudian kami pun menjabarkan bagaimana di dunia ini ada dua konsep besar masyarakat yang disebut paguyuban dan organisasi. Dirasakan, diresmikan atau tidak dua konsep ini membawa pengaruh besar terhadap ekonomi dimana paguyuban akan kental dengan kebersamaan dan organisasi akan lekat dengan profesionalisme dan pembagian tugas. Definisi organisasi (jamiyah-kumpulan) dengan paguyuban (ma’a-kebersamaan) sendiri berbeda. Organisasi secara umum adalah kelompok yang secara bersama-sama ingin mencapai suatu tujuan. Definisi ini pernah dipersempit dari definisi Cyrill Soffer, Kast Rozenzweig yang menekankan pada orientasi pembagian tugas, hasil, dan penekanan tujuan.



Kita bisa melihat sebuah fakta dimana selama ribuan tahun, masyarakat beradab mengatur perdagangan mereka melalui paguyuban. Sepanjang sejarah, sistem paguyuban mewakili gerak hati alamiah masyarakat untuk memerintah dirinya sendiri menghadapi perubahan-perubahan mengikuti perkembangan dan kemajuan. Tentu saja kemudian paguyuban secara konkrit akan menjadi semacam keluarga tanpa menunggu kebijakan-kebijakan pemerintah. Gus Dur sendiri pernah berkata dalam sebuah bukunya tentang islam kita: “Dalam sejarah umat manusia, selalu terdapat kesenjangan antara teori dan praktek. Terkadang kesenjangan itu sangatlah besar, dan kadang kecil. Apa yang oleh paham komunisme dirumuskan dengan kata “rakyat”, dalam teori dimaksudkan untuk membela kepentingan orang kecil; tapi dalam praktek justru yang banyak dibela adalah kepentingan kaum aparatchik”

Dalam hal ini ekonomi liberal mempunyai banyak sekali kelemahan. Sebab ketika ekonomi diserahkan kepada pasar bebas keuntungannya hanya sedikit tapi mudhorotnya banyak sekali. Sekarang siapapun yang kreatif akan dicaplok konglomerasi, mereka akan membelinya. Kita bisa lihat contoh saat ini untuk berbagai situs terkenal di Indonesia) yang kemudian diakuisisi sahamnya oleh bos-bos besar.

Oleh karena itu, bangsa Indonesia dengan semangat koperasi yang digagas oleh para Founding Father pun kemudian membuat peraturan seperti Undang Undang Perkoperasian (UU Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992) dan Undang Undang Usaha Kecil dan Menengah (UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008) sebagai penekanan kepada kemandirian. Baik itu produksi maupun konsumsi (kembali ke konsep Berdikari tadi). Sebab hanya dengan berdikari suatu masyarakat ataupun negara tidak akan goyah dengan badai krisis ekonomi apapun. Ketika produksi dan konsumsi suatu negara memakai kaidah berdikari maka kita akan menjadi negara kuat.

Geko melanjutkan: “Pungli di kelurahan itu juga berawal dari tarif yang bahasa sekarangnya adalah pengertian terhadap jasa, ujungnya pencarian uang dan mengakibatkan kesengsaraan sosial. Maka melihat segala keruwetan ini saya berkesimpulan hidup ini jangan mencari uang tapi mencari manfaat dan nilai spiritual.” Setelah paparan Geko, Dida mencoba menawarkan berbagai frase yang terkait dengan ekonomi kebersamaan memperluas “syirkah” yang kami bahas.

“Ekonomi kebersamaan itu cara pandang atau konsep baru?” Tanyanya. Budi mencoba merespon dengn bercerita tentang bagaimana Havara di Jombang dibentuk dengan semangat kebersamaan. Orang memproduksi, menaruh disitu dan menjualnya. Lalu orang-orang lain sebagai anggota saling membeli. Ini hanya masalah trust. Juga kita bisa belajar dari keberhasilan konsep jamaah produksi Qaryah Thoyyibah di Salatiga. Faqih mencontohkan bagaimana berhasilnya Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. “Sidogiri punya alumni yang kuat, juga memotong rantai setan makelar. Akibatnya pondok sejahtera dan kesejahteraan Ustad juga naik” Kata Faqih sambil memaparkan contoh-contoh penerapan teknis Kopontren Sidogiri.

Budi mencoba mengkaitkan bahasan kemandirian ini dengan pembahasan ekonomi real dengan ekonomi perbankan. “Manusia pada dasarnya suka kepraktisan. Sirup yang bahan dasarnya dari buah kemudian hanya dibuat dengan sintetis atau essencenya juga aroma kimia. Musik yang dahulu klasik rumit kini menjadi house music, maka diskotik dan club adalah simbol kepraktisan dan juga kemalasan dalam peradaban karena disana disajikan dua jenis peradaban instan: minuman dan musik sachet. Ini ada hubungannya dengan ekonomi. Ketika orang lebih mengedepankan kepraktisan dan keuntungan maka kini orang berlomba-lomba bikin bank saja sebanyak banyaknya. Lalu melakukan riba dengan Cuma duduk ongkang-ongkang dan dapat prosentase. Akibatnya ekonomi real macet. Besar angka makro daripada angka pendapatan rumah tangga.”

Budi melanjutkan “Tahun 1913 keuangan Amerika yang semula menggunakan standar emas sekarang menggunakan standar surat hutang semacam bond certificate atas UU pendirian bank sentral (The Fed) tapi ketika 1920 setelah The Fed mencetak 2x dan meminjamkannya, mereka pun menariknya dan banyak perusahaan bangkrut. Pada tahun 1933 dibawah roosevelt The Fed memberlakukan larangan menimbun emas di Amerika untuk mengukuhkan mereka akhirnya emas tergeser dengan peradaban dolar selama ratusan tahun dan menjerat kita semua dalam permainan selisihnya. Tapi harapan masih ada! Kami sangat ingat prediksi eksatologi Syeh Imran Husein yang mengatakan bahwa sebentar lagi perekonomian bergeser dari Dollar ke uang digital. Ini real sebab uang internet seperti Paypal semakin banyak dipakai. Mungkin gejala-gejala ini yang sedang terjadi dimana dolar akan runtuh, kehilangan trust beserta negara pengusungnya.

Kami sepakat bahwa sesungguhnya ekonomi kebersamaan bukan barang baru tapi yang kita tenggelamkan karena ego kita sendiri. Di negara kita banyak hutang yang menghempas martabat kita juga sangat tak mungkin kita tak mampu membayarnya sebab settingan agar sukar bagi negara terhisap bisa membayar hutangnya. Kebijakan negara lain juga berdampak sistemik. Kita tahu kemarin Yuan yang kuat mengalami devaluasi, neraca tidak seimbang. Bahkan  suku bunga  bisa mencapai 0%. Medi pun memaparkan kelesuan-kelesuan pasar dunia. Tapi kita patut bersyukur karena banyak hal menggembirakan dari indonesia termasuk Alutsista yang semakin canggih.

Faqih mengajak kita semua yang hadir memikirkan bahwasanya kita bisa fokus ke produksi setempat dan memotong makelar. Misalnya dengan membeli mahal dari petani lalu menjual murah ke front sehingga ekonomi kapital yang menggurita bisa runtuh karena persaingan harga. Gerakan ekonomi masyarakat termasuk gerakan ekonomi pesantren harus digiatkan.

Amin mencoba melihat dari sudut pandang lain bahwasanya manusia terbagi menjadi yang percaya kebersamaan dan yang percaya kepada keserakahannya. Keserakahan itu akan menghentikan ekonomi dan akhirnya dia akan rugi sendiri. “Terkadang kita bagus di konsep, tulisan tapi begitu dipraktekan mengecewakan” Katanya

Medi mengiyakan Amin. “Krisis dialami semua negara karena ada beberapa pihak yang serakah. Sekarang semua orang bermain properti. Properti dilirik yang bukan ahlinya akhirnya kredit macet properti dimana-mana. Bahkan pada tahun 2008 Amerika hampir runtuh karena skandal properti perumahan yang macet kreditnya.

Faqih mencoba mengambil contoh ulama besar seperti KH Fuad Hasyim yang benar-benar memerangi riba. Beliau tidak pernah ke bank dan mall. Kami teringat pesan Pak Toto Raharjo, pendiri Salam (sanggar alam) Jogja tentang orang kaya adalah orang yang tak punya hutang. Medi yang memiliki latar belakang manajemen pun tidak sepakat dengan mindset umum akuntansi dimana utang dijadikan harta. Dari sinilah semua berawal.

Jaya tertarik dengan banyak ide anak-anak Tegal yang mau usaha di Tegal. “Tapi kita banyak sekali merantau meninggalkan desa kita” keluhnya. Faqih memberikan contoh dimana pada tahun 2008 para pemuda di desanya hilang dan banyak diperantauan. Sekali lagi itu karena faktor ekonomi. Kita tidak membangun kemapanan ekonomi terlebih dahulu dan sangat mendahulukan pembangunan infrastruktur.

Geko mencoba merefresh pembahasan tentang keserakahan dan mencari contohnya dalam dunia pengajaran. Dalam berekonomi saat ini kita didominasi keserakahan tersebut yang artinya dalam proses produksi adalah “over produksi” kita tahu itu terjadi di Pendidikan ketika proses sertifikasi muncul dan menggiurkan banyak orang untuk menjadi guru. Akhirnya banyak orang yang mendaftar di sekolah keguruan, akibatnya kita overload guru. Mbludag kuantitasnya tetapi minim kualitasnya”



Pesan Medi, kita harus membangun dan membuat jaringan seluas luasnya. Dida menengahi diskusi ini dengan membagi ada arus ekonomi mainstream. “Ekonomi kebersamaan adalah arus yang tidak mainstream. Arus tenang yang hanya berada di arus ekonomi lemah, masyarakat bawah tapi juga arus ini tidak terpisah arus kuat dan lemah. Kalau penganut ekonomi kebersamaan banyak, maka seindonesia akan menjadi arus menengah. Arus ini juga bisa menjadi alternatif arus ekonomi kuat, meskipun juga sukar dan bisa juga tidak melawan. Intinya arus ini punya ciri sendiri dan ada lingkaran ekonomi yg idealnya harus tersambung.

Waktu menunjukan pukul 00.00 kamipun mencoba berpikir hasil apa yang bisa dilakukan dalam waktu dekat. Ternyata ada pada penggalian sejarah Rasulullah di Madinah yaitu dengan membangun public space, persaudaraan dan kemudian barulah membangun sistem ekonomi. Pojok santrijagad sendiri ingin meniru 3 konsep utama pembangunan masyarakat ala nabi
1) Membangun masjid (public space).  Seluruh aktivitas kaum Muslimin dipusatkan di tempat ini mulai dari tempat pertemuan para anggota parlemen, sekretariat negara, mahkamah agung, markas besar tentara, pusat pendidikan dan pelatihan para juru dakwah, hingga bait al-māl. Kini fungsi ini tidak berjalan karena masjid hanya untuk ritual maka perlu ada public space muslimin untuk berkegiatan selain ritual. Semakin banyak public space ini semakin dekat peradaban islam yang indah
2) Membangun tali persaudaraan/kebersamaan agama yang lebih diutamakan dari pertalian darah. Darisinilah persaudaraan universal dibangun secara internal
3) Setelah dua langkah dilaksanakan barulah Rasulullah membangun sistem ekonomi Madinah

Sampai jumpa di diskusi berikutnya (Budi Mulyawan)


Pojok Santrijagaad
Palem Asri 2 Slawi
Jum'at, 2 Oktober 2015

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang