Gundulnya Alas Semedo - Cacaban

21 October 2015

Oleh: Wardono

Gundulnya Alas Semedo - Cacaban


Tepat pada Idul Adha kemarin, Kamis 24 September 2015, saya sendirian gowes ekspedisi susur alas Semedo - waduk Cacaban Kabupaten Tegal. Sepanjang perjalanan dari Semedo ke Cacaban, pemandangan yang terlihat hanyalah tanah gersang nan tandus, memang sedang musim kemarau yang panasnya menyengat sekali. Nyesek sekali dada ini melihat hamparan
hutan yang sudah dibabat habis, gundul ndul.

Sepanjang perjalanan dari Semedo ke Cacaban, mungkin 99% wilayah hutan berubah menjadi perkebunan (oleh warga sekitar disebut 'baron') jagung. Waktu saya masih kecil, hutan di sini sungguh terlihat perkasa, namun dalam waktu yang cepat hutan di wilayah ini tak berdaya menghadapi pembabatan, baik untuk perkebunan jagung maupun oleh pembalakan liar. Hal itu sudah berlangsung puluhan tahun, sehingga sekarang lebih terlihat seperti kebun, bukan lagi hutan. Jika musim hujan tiba maka hamparan hijau yang terlihat adalah hamparan hijau
jagung bukan hutan.

Ada kejadian menarik dalam perjalanan, waktu saya sampai di sisa hutan yang ada, di pertigaan jalan, saya buka ponsel melihat GPS untuk memastikan jalan yang mengarah ke cacaban. Tepat di samping saya berhenti, ada sekitar 4 orang sedang menebang pohon alias pembalakan liar (oleh warga sekitar disebut 'mbalok'). Salah satu dari mereka bertanya pada saya,

"Buka HP ya, Mas?"
"Iya, Pak," jawab saya.
"Nanti masnya menghubungi petugas?" tanya bapak penebang pohon dengan cemas.

Saya jawab, "Nggak Pak, cuma lihat peta untuk memastikan jalan yangbenar menuju Cacaban."

Pada saat itu tidak ada niat secuilpun saya menghubungi polhut, pertimbangan saya karena mereka melakukan itu demi dapur mereka tetap ngebul, untuk kelanjutan hidup mereka dan anak istrinya. Singkat kata demi ekonomi. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau saya menghubngi petugas, mereka bisa ditangkap, sedangkan mereka tulang punggung perekonomian keluarga, bagaimana nasib anak istri mereka.

Walau saya sendiri sangat tidak suka dengan pembalakan liar, namun pertimbangan hati nurani yang menahan saya untuk tidak menghubungi petugas.

Aktivitas pembukaan lahan kebun di hutan terus menerus dilakukan warga demi kelangsungan hidup mereka. Banyak warga di desa saya, desa Harjasari kecamatan Suradadi yang membuka kebun di hutan. Namun yang paling terkenal paling banyak membuka lahan kebun di hutan adalah desa Karangmalang kecamatan Kedungbanteng. Akibat dari gundulnya hutan di kawasan itu sangat dirasakan oleh warga di desa sekitar hutan tersebut. Seperti saat ini, kekeringan sudah dimana-mana, warga mulai sulit mendapatkan air, bahkan warga Karangmalang harus mencari air sampai ke tetangga desa, hal ini hampir pasti terjadi setiap masuk musim kemarau. Begitu pula desa saya, banyak warga harus mengais sisa air di sumur yg sangat sedikit (istilah warga sekitar disebut 'nyereti').

Langkah memperbaiki hutan memang sempat dilakukan, penanaman kembali dilakukan di kebun-kebun jagung. Namun karena pengawasan yang lemah ditambah tidak melibatkan warga, banyak dari pohon-pohon jati yang baru ditanam, ditebang kembali oleh warga. Reboisasi yang dilakukan tanpa melibatkan warga memang hampir mustahil dapat berhasil. Perlunya melibatkan warga adalah agar warga merasa memiliki hutan sehingga dengan kesadaran mereka sendiri mau menjaganya. Tentu sebelumnya dengan memberikan pendidikan/penyuluhan/sosialisasi akan manfaat hutan bagi kelangsungan hidup umat manusia, serta dampak dahsyatnya
jika hutan rusak.

Memang tidak akan mudah melibatkan warga agar mau memperbaiki dan menjaga hutan, mengingat banyaknya warga yang menggantungkan perekonomianya dengan membuka kebun di hutan. Maka perlu solusi yang benar-benar jitu agar warga mau ikut memperbaiki hutan. Bila secara tiba-tiba hutan diperbaiki, warga dilarang berkebun di hutan tanpa ada sosialisasi, padahal selama bertahun-tahun kehidupan ekonomi warga dari situ, maka mustahil warga mau menerimanya. Perlu pendekatan yang tepat, bagaimana warga mau mengikuti program reboisasi tapi tetap dengan menjaga perekonomian warga.

Tidak ada istilah terlambat sekalipun hutannya sudah gundul semua, bukan hanya demi kelangsungan hidup kita saat ini melainkan anak cucu kita kelak. Perlu sinergisitas antara pemerintah, warga, komunitas peduli lingkungan, LSM, semuanya bahu membahu memperbaiki dan menjaga hutan tetap lestari. Bayangkan, bagaimana nasib anak cucu kita kelak, jika hutan yang kondisinya super kritis sekarang ini tidak ada yang peduli untuk memperbaikinya, sedangkan hutan adalah paru-paru dunia.

Semoga curhatan penulis hasil dari gowes ekspedisi susur alas Semedo - waduk Cacaban Kabupaten Tegal ini dapat mengetuk hati pembaca sekalian untuk tetap menjaga lingkungan, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal terkecil seperti tidak membuang sampah sembarangan. Bukankah bumi ini adalah amanat yang tak boleh dikhianati, dari Allah kepada kita, umat manusia? [Zia]
Share on :

2 comments:

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang