Hubungan Antara Hamba, Tuhannya, dan Manusia

26 October 2015

Hubungan hamba kepada KHOLIQ merupakan adalah hubungan Vertikal (keatas). Walaupun begitu, tidaklah lantas meninggalkan hubungan sesama makhluq yaitu horisontal (mendatar).
Sholat merupakan hubungan yang bersifat pribadi antara makhluq dengan ALLOH yaitu untuk mengingat-NYA.

وأقم الصلاة لذكري

Sehingga pada permulaan Sholat diajarkan untuk mengkerdilkan semua selain ALLOH dan meyaqinkan diri bahwa ALLOH dzat paling Agung, dengan mengucapkan ALLOHU AKBAR.
Walaupun begitu, tidak lantas melupakan sesama. Pada akhiran sholat, Agama mengharuskan untuk berhubungan baik dengan sesama. Hal ini dengan mengucapkan salam. Hubungan yang membuat kerukunan antar ummat.

ALLOH mensyariatkan adanya berjamaah pada sholat Fardlu, salah satu hikmahnya adalah adanya kerukunan sesama ummat Islam.

واركعوا مع الراكعين

Hal ini pun ditunjukkan dengan menyandarkan kebersamaan. Mari kita lihat sedikit perbedaan dari dua kejadian walaupun memiliki persamaan. Ketika Nabi Musa bertemu Nabi Hidlir dan meminta diterima sebagai Murid, Nabi Hidlir memberikan rambu-rambu agar Nabi Musa tidak menanyakan apapun yang dilakukan oleh Nabi Hidlir, Karena Nabi Hidlir sendiri yang akan menceritakan hikmah kejadian yang dilalui.

قال فإن اتبعتني فلا تسألني عن شيء حتى أحدث لك منه ذكرا

Bagaimana tanggapan Nabi Musa? Engkau akan menemukan aku Insya ALLOH sebagai ORANG YANG SABAR dan tidak akan mendurakai perintahmu.

ستجدني إن شاء الله (صابرا) ولا أعصي لك أمرا

Pada ayat itu dengan kata yang bersifat Mufrod (kata SHOBIRON) dan Nabi Musa tidak mendapati sabar dengan Nabi Hidlir. Nabi Ibrohim bermimpi menyembelih Putranya, Nabi Ismail, dan mimpi itu diceritakan kepada Sang Putra,

يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك

Nabi Ibrohim pun meminta pertimbangan kepada sang putra atas mimpinya.

فانظر ما ذا ترى

Jawaban Nabi Ismail Sungguh mencengangkan! Wahai ayahku, lakukanlah apa yang engkau diperintah, Engkau akan MENEMUKANKU TERMASUK ORANG-ORANG YANG SABAR.

قال يا أبت افعل ما تؤمر
ستجدني إن شاء الله (من الصابرين)

Dan Nabi Ismail didapati benar-benar sabar dan menerima cobaan berupa disembelih, walaupun akhirnya selamat dari kematian dan digantikan dengan kambing qurban Habil dari surga.
Hal itu salah satunya karena menyandarkan dan bertabarruk kepada orang-orang yang sabar (من الصابرين).

Itu salah satu hasil perbedaan dari perkataan Nabi Musa (صابرا) dan Perkataan Nabi Ismail (من الصابرين), walaupun ada persamaan keduanya dengan sama-sama menyandarkan terhadap kehendak ALLOH dengan mengucapkan إن شاء الله.

Semoga bermanfaat (Kanthongumur)


Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang