Istilah - Istilah Khas Santri

31 October 2015


"Roan"

Kegiatan para santri dalam rangka memelihara lingkungan pesantren yang dilakukan secara periodik. Yakni berupa kerja bakti pembangunan, atau bersih-bersih lingkungan pesantren secara bersama-sama.


Roan


Takzir

Istilah hukuman bagi santri yang melanggar peraturan kedisiplinan di pesantren. Jenis ‘takzir’ bermacam-macam sesuai kebijakan pengurus pondok.


Takzir


"Gothakan"

Kamar tempat tinggal santri. Dahulu, kamar-kamar yang disebut ‘gothakan’ berupa bangunan sederhana berbahan kayu atau bambu. Istilah lain dari ‘gothakan’ adalah ‘kobong’.


Gothakan


"Khodim"

Berasal dari Bahasa Arab yang berarti ‘orang yang melayani’. Yakni gelar bagi santri yang mengabdikan diri untuk melayani kebutuhan kiainya. Adapun aktivitas pelayanan disebut dengan ‘khidmah’. Tujuan menjadi khodim ialah kerelaan hati sang kiai dan berkah mengabdikan diri sehingga ilmu si santri akan bermanfaat kelak di kemudian hari.


Khodim


"Santri Kalong"

Adalah jenis santri yang tidak mukim (tinggal menetap) di dalam lingkungan pesantren tapi tetap mengikuti pengajian rutin di pesantren. Adapun santri yang menetap di pesantren disebut dengan istilah ‘Santri Mukim’.


Santri Kalong


"Mayoran"

Kegiatan makan bersama bagi para santri. Tapi ‘mayoran’ tak sekedar makan bareng. Biasanya diawali dengan masak massal dengan porsi besar, lalu makanan digelar di atas nampan atau daun pisang, kemudian disantap bersama-sama dengan pulukan tangan dan lesehan. Di daerah lain, tradisi ini disebut ‘Tanak Tomang’ atau ‘Kembul Bujana’.


Mayoran


"Ngapsahi"

Aktivitas khas kaum santri berupa menorehkan arti lafadz setiap kata di dalam kitab berbahasa Arab yang dipelajari. Ketika kiai membacakan makna setiap lafadz, santri menuliskan diktean Kiai tepat di bawah setiap kata yang dimaksud. Sering juga disebut ‘ngganduli’ atau ‘njenggoti’.


Ngapsahi


"Bandongan"

Model pengajian klasik dan searah. Kiai menyampaikan materi pelajaran secara lisan, yakni dengan membacakan kitab tertentu, dikelilingi santri yang setia menyimak sambil menuliskan maknanya di kitab masing-masing.


Bandongan


"Sorogan"

Model pengajian dialogis berupa setoran bacaan santri kepada gurunya. Santri menghadap guru, secara bergilir santri membaca kitab di hadapan guru lengkap dengan maknanya, kemudian guru memperhatikan dan mengoreksi kesalahan santri.


Sorogan


"Jiping"

Singkatan dari ‘ngaji kuping’, yaitu aktivitas ngaji hanya dengan mendengar atau menyimak penyampaian kiai tanpa menuliskannya ke catatan.


Jiping


"Nderes"

Merupakan rutinitas santri dalam rangka menjaga hapalan dengan cara mengulang-ulang hapalan secara lisan di waktu-waktu tertentu, baik sambil melihat teks atau tidak. Istilah ini populer bagi santri penghapal Qur’an.


Nderes


"Lalaran"

Adalah aktivitas mengulang-ulang hapalan nadzom dengan dilagukan secara individu maupun komunal. Nadzom yaitu susunan bait-bait syair yang berisi materi pelajaran.


Lalaran


"Marhabanan"

Adalah kegiatan rutin berupa pembacaan shalawat dan teks maulid Nabi Muhammad dalam syair-syair maupun prosa karya ulama terdahulu, berupa Diba’, Barzanji, Burdah, Simthud Duror, dan sebagainya.


Marhabanan

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang