Kedaulatan Diri di Hari Santri

21 October 2015

OLEH: MUHAMMAD FARDHA - YOGYAKARTA*

Hari Santri Nasional, tiga kata yang belakangan ini gegap gempita.

Memang di negeri ini, telah sekian lama komunitas santri secara politis juga secara kasta terpinggirkan, dan seperti dibenamkan hingga hampir tiada tampak sama sekali.

Kedaulatan Diri di Hari Santri
Menurut saya, sosok yang membawa kembali kepopuleran dan kewibaan santri ke permukaan belakangan ini tak lain dan tak bukan adalah orang ter-pede di nergri ini: Gus Dur.

Akan tetapi efek-efek penenggelaman komunitas santri juga masih kentara di kalangan santri sendiri. Banyak sekali seorang yang basic nya santri malu kalau ketahuan dia santri, cenderung menutupi identitasnya sebagai santri. Dan parahnya lagi identitasnya kadang terlebur dengan apa yang dilingkupnya, lingkup yang memaksanya untuk malu mengaku santri.

Di era orde kerja ini tidak bisa dipungkiri santri mendapat sedikit wahana yang strategis. Tetapi masih selalu banyak PR, selain dari internal santri itu sendiri agar menjadi pede dengan dirinya sendiri, juga yang tak kalah penting adalah bagaimana caranya agar pendidikan ala santri berupa pondok pesantren diakui sebagai pendidikan yang utama dan terakui dalam arti yg sebenarnya. Banyak hal yang musti dilakukan oleh santri untuk bisa lebih berperan memegang kendali karena ia lah yang harusnya paling berhak menjadi pemegang, pembentuk dan pengawal peradaban luhur agar bisa kembali ke Timur, bukan Barat yang selalu dituju.

Masih ada banyak pertanyaan lucu dan tak rasional dalam fenomena dewasa ini. Masak sudah nyantri mondok 12 tahun tapi tidak diberi kesempatan mengajar di sekolahan? Masak sudah nyantri puluhan tahun, untuk bisa belajar di kampus masih butuh ijazah paket C atau pondoknya harus sudah mu'adalah, dan parahnya pendidikannya disetarakan dengan SMA?

Di KTP juga tak ada pilihan menjadi santri, adanya mahasiswa dan pelajar! Lho katanya sistem pendidikan tua, kok dipinggirkan? Lho mondok puluhan tahun tapi tak punya ijazah sekolahan kok tak diberi kesempatan apa-apa?

Dan masih banyak pertanyaan serta perlu adanya sedikit keringat untuk mengkaji lebih dalam. Namun yang terpenting sebagai santri minimal dengan kesantrianya harus mampu berdaulat atas dirinya sendiri. [Zq]

*Penulis adalah santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang