Kelas Menulis dan Sastra (MENSAS) Santrijagad Oktober 2015

9 October 2015

Kelas menulis kali ini merupakan kelas pertama kali yang dibuka santrijagad untuk malam sabtuan setelah diskusi rutin umum Santrijagad. Kali ini kami mencoba berangkat dari hal sederhana: “mengapa dan untuk apa seseorang menulis?”. Mas Bambang Trim menulis dalam situsnya manistebu.com tentang 40 alasan orang menulis yaitu:

1) mendapatkan imbalan uang atau royalti;
2) memberi kontribusi pada angka kredit kenaikan pangkat;
3) menyebarkan pesan agama (dakwah);
4) meninggalkan warisan pengalaman dan pemikiran;
5) menjadi populer;
6) menegaskan reputasi di bidang tertentu;
7) mendapatkan pengakuan dari sejawat atau orang-orang seprofesi;
8) menguatkan merek diri (branding dan positioning);
9) membantu pemasaran seminar/pelatihan/lokakarya;
10) memengaruhi publik/audiens tertentu untuk mengikuti pendapatnya;
11) menjawab atau mengklarifikasi sebuah data/fakta yang dianggap menyimpang (buku putih);
12) mengkritik pribadi/lembaga/institusi/pemerintah;
13) menciptakan tonggak sejarah;
14) membagi dan menyebarkan suatu ilmu pengetahuan;
15) membagi dan menyebarkan resep sukses;
16) membagi dan menyebarkan suatu penemuan atau hasil penelitian;
17) mengungkap rahasia yang terpendam selama ini;
18) menghibur orang lain;
19) menaklukkan tantangan dalam diri;
20) membagi pengalaman pribadi yang luar biasa, tragis, mengharukan, atau penuh dinamika;
21) membantu pemasaran produk/jasa;
22) memenuhi kewajiban sebagai akademisi (guru, dosen, peneliti, dsb.);
23) memicu atau menimbulkan kontroversi dan polemik;
24) memenuhi tugas dan tanggung jawab profesi, seperti sekretaris atau humas yang harus menulis;
25) menyembuhkan pikiran dan perasaan;
26) memotivasi orang alih-alih menyebarkan juga paham yang diyakini (self-help);
27) menyebarkan metode, kiat, tips yang diyakini berhasil;
28) memiliki karya yang dapat dibanggakan;
29) menarik atau mencuri perhatian seseorang atau banyak orang;
30) mengisi waktu luang;
31) menjadikan sebagai bisnis jasa;
32) memengaruhi opini publik;
33) meluruskan sejarah yang dianggap menyimpang;
34) mendokumentasikan sejarah atau linimasa sebuah peristiwa;
35) menjadi penerbit;
36) menyaingi karya lain yang dianggap tidak lebih baik;
37) menginginkan karya dapat difilmkan;
38) melanjutkan profesi yang sama dengan orangtua atau kakek/nenek;
39) mengungkap pemikiran dan peranan untuk kampanye pemilihan (pilbup, pilgub, pilpres, dsb.);
40) menegaskan diri sebagai motivator atau orang bijak yang bisa memberi nasihat.

Yang pernah disederhanakan oleh Emha Ainun Najib (Cak Nun) dengan hanya 1 tujuan yaitu “kebutuhan sosial”, semacam kebermanfaatan untuk masyarakat luas. Kami mulai mengkaji pembagian tulisan menjadi fitrahnya.Tulisan dibagi menjadi 2 yaitu fiksi dan non fiksi dimana batasnya adalah “gaya bahasa”. Tulisan yang termasuk fiksi adalah seperti karya sastra (prosa, puisi) dan non fiksi adalah selain karya sastra seperti reportase/berita, artikel, esai, opini, kolom dimana tulisan non fiksi itu meliputi 5W+1H.



Beberapa penulis besar kekinian yang kita bisa ditiru semangatnya dalam menulis diantaranya:
1) Sir Walter Scott, Scotlandia
2) Emile Zola, Perancis
3) Victor Hugo, Perancis
4) Alexander Dumas, Perancis
5) Charles Dickens, Inggris
6) Leo Tolstoy, Russia
7) Oscar Wilde, Irlandia
8) Rabindranath Tagore, India
9) Rudyard Joseph Kipling
10) Maxim Gorky
11) Jack London
12) Frans Kafka
13) Ernest Hemingway
14) John Ernest Steinbeck
15) Jean Paul Sartre
16) Albert Camus

Sedangkan untuk penulis Indonesia kami membahas beberapa nama seperti Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Thohari, Sapardi Djoko, Radhar Panca, Budi Darma, Gunawan Mohamad. Tidak ketinggalan guru menulis anak-anak santrijagad seperti Gus Mus, Cak Nun, Prie GS, juga Umbu Landu Paranggi. Nama-nama besar ini bisa dibahas terpisah setiap pertemuan untuk belajar berkarya dari mereka. Acara dilanjutkan dengan melakukan evaluasi tulisan di santrijagad.org, juga berbagai web pribadi para santrijagaders seperti dimensi sains, infobatik.net, dst. Terakhir kami kemudian membahas progres literatur bulanan tulisan ulama Tegal.

Kami mendapat kehormatan dari Mas Dedi Kalisoka yang ingin ikut terlibat tulisan jejak ulama Tegal dan memaparkan masukannya. Beliau setuju Syeh Amangkurat adalah waliyullah sebagaimana tulisan Santrijagad tentang ulama Tegal. "Kita mesti belajar sudut pandang mereka para salafunasholihin selain juga belajar sudut pandang sejarah umum supaya tidak terjadi crash sejarah". Saat ini menurut Mas Dedi banyak sejarawan yang hanya menggunakan akal dan meninggalkan pendekatan sprititualisme. Kita tahu banyak waliyullah "ngedan" di jalanan dan itu akan sukar dijelaskan. Santet ada tapi tidak diakui ilmiah, ada keris tiba-tiba muncul dari pohon, susuk yang jelas-jelas ada pun tidak diakui akademisi.

"Sebab kita tahu ada paradoks ketika semakin tinggi ilmu akal religiusnya bisa menjadi rendah" kata Mas Dedi. Kita semua tahu bahwa banyak Institut agama sekarang justru membawa kepada atheisme dan meninggalkan adab terhadap ulama besar. Semua kita bentuk ketika kecil. Mas Dedi bercerita simbahnya yang kini berusia 108 tahun ketika itu hidup di Jakarta yang pernah geger Buya Hamka berpesan agar ditahlili ketika meninggal. Saat itu benar-benar geger karena Buya Hamka salah seorang yang menolak ritual seperti itu tapi tiba-tiba berubah haluan.

"Kita harus membedakan kalau mengkaji para auliya para solihin dengan orang-orang pop duniawi, orang mulia di sisi Allah tidak bisa dipelajari dengan biografi tapi dengan mahabbah. Mas Dedi berpamitan pukul 10 dan kami kemudian membahas perihal 3 blok kepenulisan sejarah. Nasional dan abangan kini dominan, santri harus terus menyumbangkan perspektif baru (Budi Mulyawan)

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang