KH. A. Djazuli Utsman: Pendiri Pesantren Ploso

20 October 2015

Oleh: Geko

Ploso dalah salah satu pesanten besar, di KediriJawa Timur. Nama sebenarnya adalah Al-Falah, namun lebih dikenal dengan sebutan Poso karena terletak di desa Ploso, kecamatan Mojo, kabupaten Kediri. Salah satu tokoh kiai kharimatik yang berasal dari Ploso yaitu KH. Hamim Thohari Djazuli atau lebih dikenal dengan Gus Miek. Beliau adalah salah satu putra pendiri Pesantren Ploso.

Dulu, di Ploso hidup seorang naib bernama Mas Muhammad Utsman. Beliau lebih sering dipanggil dengan sebutan Pak Naib. Semasa beliau sering sowan kepada para kiai karena mengikuti saran dari KH. Muhammad Ma’roef Kedunglo. Saran tersebut dilaksanakan dengan harapan beliau dapat memiliki anak atau keturunan yang alim.

Pada tanggal 16 Mei 1900, di Ploso, lahirlah putra ke-7 dari Pak Naib tersebut. Putranya itu diberi nama Mas’ud, yang kemudian dikenal sebagai Kiai Djazuli Utsman. Semasa kecil Mas’ud tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya yang mengisi hari-hari dengan bermain. Setelah cukup memasuki usia sekolah, Mas’ud belajar di Sekolah Desa yang juga disebut Sekolah Cap Jago. Tiga tahun lamanya Mas’ud belajar di Sekolah Cap Jago, kemudian melanjutkan belajarnya ke InlandscheVervolgshool  selama dua tahun. Setelah lulus dari InlandscheVervolgshool Mas’ud melanjutan studinya ke Hollandsch Inlandsche School (HIS). Seperti Saudara-saudaranya yang lain, biasanya setelah lulus dari Sekolah Desa kemudian belajar agama seperlunya di peantren. Namun berbeda dengan Mas’ud yang mempunyai prestasi baik sehingga mendapat kesempatan pendidikan yang lebih tinggi.

Setelah tamat belajar di  HIS Mas’ud masuk ke Stovia (sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) Jakarta. Namun belum lama berada di Jakarta, Mas’ud diperintahkan untuk kembali pulang. Pasalnya, Pak Naib didatangi oleh Kiai Ma’roef Kedunglo dan memberikan saran agar Mas’ud pulang dan melanjutkan pendidikan ke pesantren saja. Pak Naib memang sangat menghormati ulama sehingga beliau pun menuruti kembali nasihat Kiai Ma’roef. Pak Naib mengutarakan keinginannya kepada Mas’ud untuk belajar di pesantren, Mas’ud menyetujuinya.

Pesantren yang pertama menjadi tempat belajar Mas’ud adalah Pesantren Gondanglegi Nganju. Di pesantren ini Mas’ud mendalamai ilmu tajwid dan ilmu nahwu dengan kitab Al-Jurumiyah. Tidak lama belajar di pesantren ini, kemudian Mas’ud melanjutkan belajar ke Pesantren Sono Sidoarjo yang terkenal dengan ilmu sharafnya atau tashrif. Dengan belajar di kedua pesantren tersebut, Mas’ud telah mnguasai dua induk ilmu.

Setelah cukup menguasai dasar-dasar ilmu, Mas’ud melanjutkan ke Pesantren Mojosari, asuhan KH. Zainuddin. Di pesantren ini Mas’ud menjadi santri yang memikat perhatian gurunya, sehingga Kiai Zainudin berniat ingin menjadikan menantunya. Karena tida mempunyai anak, maka Kiai Zainuddin menjodohan dengan anak angkatnya, Badriyah, yang juga merupakan anak dari Kiai Khazin Langitan Tuban.

Dalam rasa kebinugungan, timbul keinginan di hati Mas’ud untuk menunaikan ibadah haji. Tekadnya yang begitu besar dapat meyakinkan keluarganya di Ploso untuk menjual seluruh bagian tanah warisan miliknya dan beberapa ekor sapi. Namun ternyata uangnya belum cukup untuk melunasi ongkos naik haji (ONH) yang sebesar 115 golden. Di tengah kebingungannya, Mas’ud mendapat cobaan, istrinya sakit. Namun tekadnya masih kuat untu naik haji. Di luar dugaan, Kiai Zainuddin, sang mertua memberi uang 100 golden sehingga Mas’ud memiliki uang lebih dari cukup untuk naik haji.

Sesampainya di tanah suci, dengan khusyu’ Mas’ud melaksanankan seluruh rangkaian ibadah haji. Tiba-tiba mendapat kabar bahwa Badriyah, istrinya, telah meninggal dunia. Meskipun cukup sedih, dia tetap mengikhlaskan istrinya menghadap Allah SWT. Sejak saat itu Mas’ud memutuskan untuk menetap di tanah suci dan memperdalam ilmu agamanya dengan berguru kepada para ulama Masjidil Haram.

Di tanah suci Mas’ud berkenalan dengan seorang teman bernama Sahlan yang berasal dari Gurah Kediri. Atas saran sahabatnya ini Mas’ud mengubah namanya menjadi Djazuli. Kemudian namanya digabung dengan nama ayahnya sehingga menjadi Haji Djazuli Utsman.

Mas’ud dan Sahlan bekerja di biro perjalanan haji. Namun ternyata pekerjaan itu menyita banyak waktu. Mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk belajar, sehingga mereka memutuskan untuk keluar dari pekerjaan biro dan melanjutkan memperdalam ilmu agamanya.

Keduanya memutuskan untuk berguru epada Syaikhal-Allamah al-Aidarus di Jabal Hindi Mekkah. Tak lama kemudian, beberapa orang yang mukim di Mekkah meminta Djazuli untuk mengajar mereka. Kemudian Djazuli diberi uang sekedarnya untuk menyambung hidup di Mekkah.

Pada tahun 1922 terjadi serangan kaum Wahhabi. Pemerintah menyatakan keadaan tidak aman dan memulangkan orang-orang asing ke negara asal mereka. Sebelum pulang, Djazulli dan kawan-kawannya menyempatkan ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. di Madinah. Ketika kaum Wahhabi berhasil menggulingkan pemerintahan Sunni, Mas’ud dan kawan-kawannya tertangkap di Madinah. Mereka dipulangkan ke Indonesia melalui konsulat Belanda. Tanpa persiapan, mereka langsung di masukkan ke dalam kapal. Kitab-kitab yang berada di Mekkah tidak sempat di bawa. Hanya kitab Dalail al-Khairat yang sempat dibawa oleh Djazuli.

Sepulangnya ke Indonesia, Djazuli berkeinginan belajar kepada Kiai Hasyim. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang ini telah mengenalnya sebagai “Masud-nya Kiai Zainuddin Mojosari”. Maka, Kiai Hasyim tidak mempersilakan Djazuli belajar, tetapi memerintahkannya untuk mengajar. Kealiman dan akhlak mulianya membuat para kiai ingin menjadikan menantu, termasuk Kia Hasyim. Karena Kiai Hasyim sudah tidak memiliki anak perempuan maka ditawarkan kepada Kiai Muharrom dari Karangkates, sekitar 2 km dari Ploso. Akhirnya Djazuli menikah dengan putri Kiai Muharrom yang bernama Hannah.

Karena Hannah masih berusia belia maka Kiai Muharrom menawarinya untu mondok lagi bersama dua kakak iparya, Jufri dan Makki. Mereka belajar di Pesantren Tremas yang diasuh oleh KH. Dimyathi (adik Syaikh Mahfuzh al-Turmusi). Lagi-lagi Djazuli tidak diperkenankan belajar, tapi jusru mengajar. Nama Djazuli semakin populer di kalangan para santri.

Di karangkates, Kiai Muharrom mempersiapkan tanah untuk dijadikan pesantren kelak jika menantunya pulang. Namun, istri Kiai Muharrom merasa ragu dengan Djazuli apakah kelak mampu mencukupi kebtuhan ekonomi anaknya atau tidak. Setelah Djazuli pulang, kesalahpahaman dan kecemburuan menyelimuti keluarga ini. Djazuli dan dua kakak iparnya membuka pengajian. Dan ternyata santri yang mengaji kepada Djazuli lebih banyak ketimbang kedua kaka iparnya. Situasi ini merusak hubungan keluarga di antara mereka. Demi kebaikan bersama, Djazuli terpaksa menceraikan Hannah setelah mendapat restu dari keluarganya di Ploso.

Setelah bercerai, Djazuli pulang ke Ploso. Djazuli diikuiti oleh seorang kaka iparnya yang bernama Muhammad Qomar. Djauli tinggal di sebuah komplek masjid. Di sebuah masjid inilah Djazuli mulai merintis pesantren pada tahun 1924. Pria yang dulu dikenal sebagai Mas’ud, kini mulai dikenal sebagai Kiai Djazuli.

                                                                      
KH. A. Djazuli Utsman
KH. A. Djazuli Utsman

Pada tahun 1925, Kiai Djazuli mendirikan madrasah yang diberi nama Al-Falah. Hisyam, kawan sealmamater Tremas, yang telah digembleng Kiai Djazuli selama enam bulan mulai diperintahkan untuk mengajar. Materinya adalah Sullam al-Taufiq, Risalah al-Mubtadi’in, dan Bad’ al-Amali. Pebangunan madrasah ini terus berkembang hingga tahun 1927. Pada tahun 1928 dibangunlah pondok D (Darussalam) dan pondok C (Cahaya) sebagai tempat tinggal para santri yang belajar di madrasah tersebut.

Pada tanggal 15 Agustus 1930, Kiai Djazuli menikah untuk yang ketiga kalinya. Pernikkahan kali ini dengan Nyai Rodhliyah atau Roro Marsinah yang merupakan janda dari Syaikh Ihsan Dahlan al-Jamfasi. Dari pernikahannya dengan Nyai Rodliyah in membahkan 11 orang anak, yaitu Siti Azzah (wafat usia 1 tahun), Hadziq (wafat usia 9 tahun), Zainuddin (KH. Zainuddin Djazuli, pengasuh pesantren Ploso sekarang), Nurul Huda (KH. Nurul Huda Djazuli, pengasuh pesantren putri), Hamim Thohari (KH. Hamim Thohari Djazuli atau Gus Miek, wafat tahun 1992, mursyid Dzikrul Ghafilin), Fuad Mun’im (KH. Fua Mun’im Djazuli), Munif (KH. Munif Djazuli, pengasuh Pesantren Queen Al-Falah Ploso), Lailatul Badriyah (Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli), dan Suad (wafat usia 4 hari).


KH. Hamim Thohari Jazuli (Gus Miek)
KH. Hamim Thohari Jazuli (Gus Miek)

Dalam hal pendidikan, ada yang menarik dari cara Kiai Djazuli mendidik anak dan santrinya. Kiai Djazuli bersikap halus dan sabar jika dengan santrinya, namun tidak dengan anaknya sendiri. Kepada anaknya sendiri Kiai Djazuli mendidik dengan cara keras. Jika anaknya tidak mengerti pelajaran yang diberikan, tak segan Kiai Djazuli menamparnya, memukul dengan sepatu, bahkan menyodok kaki anaknya dengan bara api. Maklum, Kiai Djazuli adalah seorang perokok. Di suatu kesempatan, Gus Dah bahkan pernah ditampar di depan para santri karena kesalahannya tidak datang tepat waktu ke pengajian setelah maghrib.

Tahun 1930-an akhir, jumlah santri Pesantren Ploso sekitar 100 orang. Ketika itu, pesantren sering meminjam kantor kenaiban yang ada d Ploso. Tahun 1939, Kiai Djazuli membangun komplek A (Andayani) yang dilengkapi mushola di depannya. Dengan begitu, para santri tidak lagi sering gaduh di masjid kenaiban. Maklum, anak usia remaja memang suka ribut atau ramai-ramai. Tahun 1941 kantor kenaiban dipindah ke Mojo, sehingga gedung, pendopo, masjid serta tanah yang luas dibeli oleh pihak Pesantren Ploso.

Setelah Indonesia Merdeka, tahun 1948 terjadi peristiwa Madiun yang didalangi oleh PKI. Kondisi pesantren saat itu sedang tidak aman. Pada tahun itu pula belanda datang kembali ke Indonesia melakukan Agresi Militer. Kondisi semakin tidak aman. Kiai Djazuli dan seluruh keluarganya mengungsi. Dalam susasana seperti itu, ibu Kiai Djazuli (Nyai Naib Utsman) wafat. Sekali-sekali jika kondisi sedang aman, Kiai Djazuli kembali ke Ploso untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.

Tahun 1950 keadaan mulai tenang. Kegiatan di pesantren mulai normal kembali. Santri yang berjumlah 400, yang sebelumnya pulang ke rumah masing-masing, mulai datang kembali ke pesantren, bahkan jumlahnya semakin banyak. Tahun1952 didirikan kimplek  (al-Bar). Aturan juga semakin diperketat. Kiai Djazuli mencontoh suasana Pesantren Tebuireng ketika masih benar-benar salaf, ketika belum ada pembaharuan dan belum ada pelajaran umum. Tahun-tahun berikutnya jumlah santri Ploso semakin bertambah sehingga di bangun komplek G (al-Ghazali), komplek H (Hasanuddin), komplek A (al-Asyhar). Kemudian mendirikan madrasah Lailiyah untuk anak-anak sekitar Ploso.

Tahun 1968 Kiai Djazuli terkena sebuah penyakit. Mskipun sempat mmbaik, selanjutnya tersrang penyakit kembali. Bahkan penyakitnya komplikasi dengan rasa sakit yang parah. Dengan kondisi yang seperti itu, Kiai Djazuli masih berusaha mengajar para santrinya. Hampir setahun beliau melakukan sholat lihurmatil waqti (untuk menghargai waktu) terkadang sampai menjamaknya.

Delapan tahun Kiai Djazuli harus sabar menahan penderitaan penyakitnya. Akhirnya, tanggal 10 Januari 1976 M/ 10 Muharram 1396 H, beliau wafat. Asuhan pondok diteruskan oleh putra pertamanya KH. Zainuddin Djazuli yang dibantu adik-adiknya serta H. Sabuth Pranoto Projo (putra Gus Miek)


KH. Zainuddin Jazuli
KH. Zainuddin Jazuli


Sumber: Solahudin, M. 2013. “Napak Tilas Masyayikh”. Kediri: Nous Pustaka Utama
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang