Renungan Kepemilikan Dan Kehilangan

21 October 2015

Seorang lelaki berjalan tidak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu. Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. "Oh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok." Meskipun begitu ia membawa koin itu ke bank. "Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno", kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koin itu ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai lima ratus ribu. Lelaki itu begitu senang.

Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga lima ratus ribu itu untuk membuat rak baju untuk istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel yang sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul oleh lelaki itu. Dia menawarkan lemari seharga satu juta rupiah untuk menukar kayu itu.

Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu. Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya tiga juta rupiah.
Lelaki itu pun setuju dan pada saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai tiga juta rupiah. Tiba-tiba seorang perampok datang dengan mengacungkan belati, merampas uang itu, kemudian kabur. Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya, kemudian bertanya: "Apa yg terjadi? Engkau baik-baik sajakan? Apa yang diambil perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya & berkata: "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi". Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa. Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.


Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini? Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya. Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah. Saat kehilangan sesuatu kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan. (Kanthongumur)
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang