20 Tahun Jadi Hakim, Tidak Ada 1 Kasus pun!

22 November 2015

Oleh: Habib Munzir al-Musawa
Semakin seseorang dekat dan mengamalkan sunnah Sang Nabi saw, dia akan semakin sempurna dan demikian pula masyarakat. Semakin meluas ajaran sunnah Nabi Muhammad maka akan semakin damai masyarakatnya.

Beberapa waktu yang silam di wilayah Shibam di Hadramaut ada seorang qadhi (hakim). Di Shibam kebanyakan ulama, shalihin banyak disitu. Qadhi (hakim) itu 20 tahun bertugas menjadi hakim di wilayah Shibam. Setelah selesai jabatannya ia kembalikan semua penghasilan bulanannya, karena hakim ‘kan ada gajinya, ada bulanannya, dikembalikan yang selama 20 tahun. Dikembalikan kepada amir (pemimpin). “Kenapa dikembalikan?” Hakim menjawab “Saya tidak bekerja. 20 tahun saya jadi hakim tidak ada 1 kasus pun.” Selama 20 tahun ia menjadi qadhi (hakim), tidak satu pun ada pengaduan kepada hakim.
Salah satu sudut kota Shibam, Hadramaut.
Demikianlah masyarakat yang nabawiy, kalau sudah masyarakatnya asyik dengan sunnah Nabi Muhammad Saw tidak ada lagi hal – hal yang bersifat munkar. Ada satu yang mencaci temannya yang lain memaafkan, yang satu berbuat dholimi yang lain menasehati. “Tidak ada 1 kasus pun”, kata sang hakim. “20 tahun aku disini, tapi aku makan penghasilan tiap bulan makan dikasih, aku tidak mau memakannya karena aku tidak bekerja sebagai hakim, aku ditunjuk jadi hakim selama 20 tahun disini tidak ada kasus 1 pun yang datang kepadaku”. Sampai ia selesai dari jabatannya dan tidak ada 1 kasus pun di wilayah itu, demikian indahnya masyarakat kalau sudah berjalan dengan sunnah Nabi Muhammad, Allah berikan keberkahan, Allah berikan keluasan.

Saya pernah berkunjung ke Pulau Bengkalis di wilayah Riau. Pulau ini pulau yang kaya raya, Sampai di tempat pertama kali yang saya tanya, “Bagaimana keadaan pulau ini?” Mereka berkata “Habib, di pulau ini tidak ada bar, tidak ada diskotik, tidak ada café, tidak ada perjudian, tidak ada tempat zina, tidak ada itu semua.”



Kenapa? Masyarakatnya tidak mau. Pernah buka di sini bar, diskotik tapi tidak laku, tutup sendiri karena masyarakatnya tidak mau itu. Masjid ramai, pesantren ramai, majelis taklim ramai. Ada orang buka bar, buka diskotik, tutup sendiri karena tidak laku. Jadi Habib disini tidak ada tempat maksiat karena masyarakatnya tidak mau.

Subhanallah! Kaya raya, Allah limpahkan keberkahan sebagaimana firman Allah; “Walaw anna ahlalqura amanu wattaqa lafatahnaa ‘alaihim barakaati minassamaai wal ardh. Kalau seandainya masyarakat itu beriman dan bertaqwa, Allah limpahkan keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al A’raf: 76)

Demikian indahnya seseorang dan masyarakat yang mencintai sunnah Nabi Muhammad. Rasulullah selalu menuntun kita kepada kesucian hidup. [Zq]

*Sumber: transkrip kajian Shahih Bukhari bersama almarhum Habib Munzir al-Musawa (www.majelisrasulullah.org)
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang