Dhawuh Gus Miek: Syarat Si Kaya Masuk Surga Adalah Baik Kepada Si Fakir

23 November 2015

Gus Miek atau armarhum KH Hamim Tohari Jazuli adalah tokoh langka yang dikenal sebagai sosok waskita. Gerakan dakwahnya merambah dari sudut-sudut gelap diskotik hingga majelis-majelis tasmi'ul Qur'an yang bercahaya. Berikut ini beberapa dhawuh beliau yang berkaitan dengan perihal harta benda dan kehidupan duniawi. Semoga kita semua bisa memetik hikmahnya.
Gus Miek
Dunia itu memang sedikit, tapi tanpa dunia, seseorang bisa mecicil (blingsatan).
Mbah, manusia itu kalau punya keinginan, hambatannya cuma dua. Godaan dan hawa nafsu. Kuat cobaan apa tidak, kuat dicoba apa tidak.
Di tambak itu, kalau bisa bersabar, akan terasa seperti lautan, dan kalau bisa memanfaatkan, akan banyak sekali manfaatnya. Tapi kalau tidak bisa memanfaatkan, ia akan bisa menenggelamkan.
Jadi orang itu harus mencari yang halal, jangan sampai jadi tukang cukur merangkap jagal.
Miskin dunia sedikitnya berapa, tak ada batasannya demikian juga kaya dunia. Seorang yang kaya pasti ada yang di atasnya, seorang yang melarat banyak temannya. Orang kaya pasti ada kurangnya. Ini adalah ilmu Jawa, tidak perlu muluk-muluk mengkaji kitab kuning.
Kamu memilih kaya-sengsara atau melarat-terlunta? Maksudnya, kaya-sengsara itu adalah di dunia diganggu hartanya, sedang di akhirat banyak pertanyaannya.



Gus, tolong saya didoakan kaya. “kaya buat apa?”, tanya Gus Miek. Buat membiayai anak saya. Royan, kamu tak usah khawatir, saya berdoa kepada tuhan agar orang selalu baik dan membantu kamu. Adapun orang yang berbuat buruk atau berniat buruk kepadamu akan saya potong tangannya. Kelak, dirimu saya carikan tempat yang lebih baik dari dunia ini.
Orang kaya yang masuk surga itu syaratnya harus baik dengan tetangganya yang fakir.
Seorang fakir yang tahan uji, yang tetap bisa tertawa dan periang. Sedang hatinya terus mensyukuri keadaan-keadaannya, masih lebih terhormat dan lebih unggul melebihi siapa pun, termasuk orang dermawan yang 99% hak milinya diberikan karena Allah, tetap saja masih unggul fakir yang saleh tadi.
Maaf, kalau saya harus mengatakan: Anda sebaiknya punya keterampilan. Jangan malu mengerjakan yang kecil, asal halal. Karena banyak sekali rekanan saya yang malu, misalnya jualan kopi di ujung sana, di sektor informal. Kok jualan kopi sih? Padahal saya mendambakan menjadi karyawan bank, biar terdengar keren dengan gaji tinggi. Kok ini? Kata mereka. Padahal ini halal menurut Allah dan sangat mulia. Sayang, mereka salah menempatkan, menjaga gengsi di hadapan manusia. Nah, ini tidak konsekuen, ini terlanjur salah kaprah. Kalau saya mengatakannya secara salah, saya yang terjepit.
Saya ini kan lain. Walau income resmi enggak ada, tanah tak punya, tapi ada rekanan yang lucu-lucu. Hingga rasa tasyakurlah yang lebih berkobar. Bukan rasa kurang atau yang lain.
Ada satu kios kecil yang isi dengan kebutuhan kampung seperti lombok, beras dan gula, di tempat yang sami’in tidak tahu. Kios itu saya percayakan pada seseorang. Terserah dia! Dan, tidak harus untung. Mungkin dia sendiri harus belajar untuk menerima kenyataan. Termasuk untuk tidak untung.
Baca juga:
Dhawuh Gus Miek: Berani Berdosa, Harus Berani Bertobat!
Dhawuh Gus Miek: Syarat Si Kaya Masuk Surga Adalah Baik Kepada Si Fakir
Dhawuh Gus Miek: Cara Terbaik Berbincang dengan Allah
Dhawuh Gus Miek Tentang Keluarga dan Masyarakat
Dhawuh Gus Miek: Hidup Itu Kuliah Tanpa Bangku

*Sumber: www.majelisfathulhidayah.wordpress.com
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang