Enam Kerugian Umat Islam Akibat Aksi Terorisme

19 November 2015

Oleh: Dr. Yasir Qadhi – Al-Maghrib Institute

Oke, mari kita telaah tentang profil para penyerang di Paris kemarin: Dua di antara mereka punya bar, satu di antara mereka pecandu ganja, seorang lagi tidak pernah terlihat di masjid, hidupnya justru penuh catatan kriminal dan gonta-ganti pasangan. Tiada satupun di antara mereka yang mempelajari tradisi Islam. Tak punya hak pilih, terpencil, dan tak acuh. O iya, informasi-informasi ini bukan karangan media, melainkan apa yang dikisahkan oleh tetangga dan teman-teman mereka.
Dr. Yasir Qadhi

Dan tentu saja, mereka dengan sengaja meninggalkan paspor Suriah palsu di TKP, sehingga menjadikan kondisi yang makin sulit bagi para pengungsi Suriah yang tak bersalah untuk mendapatkan perlindungan di Eropa. Beginikah orang-orang yang menyerukan ‘jihad’ demi membebaskan negeri kaum muslimin?

Betul-betul gambaran yang sempurna. Di banyak kejadian, tipikal sosok teroris radikal memang orang-orang semacam itu. Mengapa hanya orang-orang semacam itu yang dikader menjadi ekstrimis? Tentu saja karena mereka tak punya benteng. Tak berilmu. Tak cerdas. Tak berpendidikan. Tak punya kehidupan pula. Kalau saja mereka punya hal tersebut, tentu mereka akan sangat mudah menyadari bahwa aksi teror semacam itu sangat jahat dan kontra-produktif.

Namun sayangnya, sebab aksi segelintir orang semacam itu, lusinan aksi para pengidap Islamofobia menyerang dimana-mana di seantero negara-negara Barat. Banyak negara yang kemudian menutup pintu bagi para pengungsi. Banyak masjid yang dibakar atau dirusak. Serangan militer makin digencarkan ke negeri-negeri muslim, dan terus-menerus bertambah. Dan seruan-seruan tak masuk akal pun mulai banyak terdengar, mulai dari ajakan untuk mengekang hak-hak beragama, pengusiran, hingga pemusnahan orang-orang Islam.

Memang benar apa yang sudah disabdakan Nabi saw., tentang orang-orang macam mereka itu; bahwa omongannya bagus tapi perbuatannya buruk, mereka mencatut Al-Qur’an tapi tak paham sedikitpun tentangnya, dan orang-orang yang mereka perangi (yakni mayoritas kaum muslimin) justru lebih dekat kepada Islam daripada mereka sendiri.



Aksi-aksi teror yang dilancarkan para ekstrimis ini diklaim sebagai aksi yang syar’i, tentu saja oleh para pelakunya. Padahal, kalaupun –andai saja- aksi mereka memang legal secara syariat, mereka harusnya mempertimbangkan akibat jangka panjang dari aksi mereka itu. Karena syariat tidak hanya bicara entang legalitas suatu perbuatan, tapi juga akibat yang ditimbulkannya. Prinsip ini yang disebut dengan ‘mencegah bahaya’ (dar-ul mafaasid). Itulah mengapa Nabi saw. menolak permintaan sebagian sahabat untuk mengeksekusi seorang munafik Madinah, yakni Abdullah bin Ubay bin Salul. Tentu bukan karena orang ini dimuliakan oleh beliau, melainkan karena beliau paham apa akibat dan kerusakan yang akan timbul jika eksekusi itu dilakukan, yakni kaum muslimin akan menanggung deritanya di masa depan.

Jadi apa sih untungnya aksi teror tak masuk akal semacam itu? Sejak kapan serangan teror di Barat bisa membantu saudara-saudara kita di Palestina melawan Israel, atau saudara-saudara kita di Iraq dan Afghanistan, atau saudara-saudara muslim kita yang mengungsi ke berbagai negeri?

Alih-alih untung, aksi-aksi semacam itu justru merugikan. Pertama, akan meningkatkan makar negara-negara Barat untuk melancarkan aksi militer atau setidaknya bantuan amunisi untuk menyerang negara-negara muslim dan menjadikan orang-orang tak bersalah sebagai korban. Kedua, menambah kebencian orang-orang Barat terhadap kaum muslimin yang hidup di sana.

Ketiga, menumbuhsuburkan virus Islamofobia di berbagai penjuru dunia. Keempat, memudahkan berbagai kebijakan yang mengekang kehidupan kaum muslimin dengan dalih ‘keamanan’. Kelima, akan makin banyak hak berbicara dan berbeda pendapat yang dilarang. Keenam, menimbulkan penolakan terhadap para pengungsi muslim dari Suriah dan wilayah-wilayah zona perang lainnya. Dan masih banyak lagi kerugian yang akan timbul.

Dan kerugian paling menyedihkan adalah bahwa aksi semacam ini kemudian menimbulkan aksi menuntu balas. Lalu diikuti lagi dengan aksi perlawanan, lalu muncul lagi menuntut balas. Seakan-akan orang-orang itu tidak belajar dari sejarah, sehingga kita terjebak di lingkaran tanpa ujung, dan sayangnya sangat sulit untuk keluar dari lingkaran itu. [Zq]

*Sumber: Fanpage Yasir Qadhi
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang