Fatimah Az-Zahra Puteri Kinasih Rasululllah ~ Keistimewaan Sang Suami (6)

15 November 2015

Oleh: H.M.H Alhamid Alhusaini

Lanjutan dari kisah sebelumnya di Bagian 5: Upacara Mengesankan

Peristiwa perkawinan tersebut pasti mengandung rahasia dan hikmah Ilahi. Dalam pernikahan itu tentu terdapat hubungan manusiawi yang amat penting, antara siti Fatimah binti Rasulullah saw dengan putera paman Nabi saw atau saudara misan beliau yaitu Imam Ali. Orang yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga Rasulullah saw sendiri dan senantiasa hidup bersama beliau. Sampai usia dewasa ia hidup di bawah naungan wahyu. Ia tumbuh subur dalam “sekolah” kenabian.

Benarlah kalau imam Ali yang kemudian menjadi suami Siti Fatimah menyebut hubungannya dengan Rasulullah saw melalui ucapan: “ Kalian mengetahui kedudukanku sebagai kerabat yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Beliau mengasuhku di tengah-tengah keluarganya sejak aku masih anak-anak. Beliaulah yang menimang-nimang dan mendukungku di dadanya. Beliaulah yang mendekapku diatas tempat tidurnya. Beliaulah yang menyebarkan keharumannya kepadaku. Seolah-olah tiap hari Beliau mengunyahkan makanan untuk disuapkan kepadaku. Aku tidak pernah melihat beliau berdusta dalam ucapan atau berlaku buruk dalam perbuatan.

Selain itu Imam ali juga mengatakan: “ Aku mengikuti jejak beliau seperti anak kecil mengikuti jejak ibunya. Tiap hari dengan akhlaknya beliau memberi ilmu kepadaku dan menyuruhku bertauladan padanya. Tiap tahun beliau berkhalwah di gua hira dan akulah yang menyaksikan beliau. Tak ada orang selain aku yang menyaksikan beliau. Waktu itu tak ada keluarga yang seisi rumahnya terdiri dari islam semua, kecuali Rasulullah saw, khadijah r.a dan akulah orang ketiga. Aku menyaksikan cahaya wahyu dan mencium bau kenabian.”

Semuanya itu bukan tanpa persiapan atau tidak diketahui tujuannya oleh Rasulullah saw. asuhan dan didikan yang diberikannya kepada puteri bungsunya Fatimah bukan karena sekedar hubungan kekeluargaan saja. Persoalan itu ada kaitannya dengan kehidupan ummat ini. Yakni berkaitan dengan kelanjutan dan kelestarian keturunan Nabi saw dengan masalah pengokohan Iman dan Islam. Oleh sebab itu Allah menghendaki supaya wanita pilihan dari kalangan ummat ini dan dinyatakan sebagai bagian dari Rasulullah saw, menikah dengan pria oilihan dari kalangan ummat ini juga.

Imam Ali adalah orang yang seperti dikatakan oleh Rasulullah kepada Siti Fatimah:” Aku mohon kepada Tuhanku supaya menjodohkan engkau dengan hamba-Nya yang terbaik”.

Kepada Imam ali, Rasulullah saw juga pernah mengatakan:” apakah engkau tidak puas dengan kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Tetapi tidak ada Nabi sesudah aku…!” sedangkan kepada siti Fatimah, Rasulullah saw pernah mengatakan: “ Apakah engkau tidak puas menjadi wanita paling terekemuka di kalangan semua wanita kaum muslimin?”


Dengan demikian maka keduanya, yakni Imam Ali r.a. dan siti Fatimah r.a., adalah orang-orang yang paling dicintai Rasulullah saw dan paling dekat dengan beliau. Siti Aisyah pernah ditanya oleh seseorang: "Siapakah yang paling dicintai Rasulullah?” ia menjawab” Fatimah”. Ditanya lagi:” Dari kalangan pria..?” Ia menjawab: ”Suaminya. Sepanjang pengetahuanku ini ia adalah orang yangselalu berpuasa dan tekun sekali sholat."

Berlangsunglah sudah pernikahan antara Imam Ali r.a. dengan siti Fatimah r.a. Berdirilah suatu rumah tangga dari keluarga Nubuwah di bawah naungan Rasulullah. Beliau memperkenalkan mereka kepada kaum muslimin dan menekankan, bahwa Ali bin Abi Thalib, siti Fatimah dan keturunan mereka itu adalah ahlul-Bait beliau. Keturunan mereka juga dinyatakan sebagai dzurriyah dan ashabah beliau.

Ibnu Abbas r.a meriwayatkan sebagai berikut: Pada suatu hari aku bersama ayahku (Abbas Ibn Abdul Mutholib) duduk-duduk di kediaman Rasulullah saw. waktu itu datang-lah Ali bin abi thalib sambil mengucapkan salam. Setelah menjawabnya, Rasulullah berdiri menyambut kedatangannya. Ali dicium keningnya, lalu dipersilahkannya duduk di sebelah kanan beliau. Ayahku bertanya: “Ya Rasulullah, apakah engkau mencintai dia?” Beliau menajwab: “Wahai paman, demi Allah, allah lebih mencintainya dibanding aku mencintainya. Sesungguhnya Allah menjadikan keturunanku melalui tulang sulbi orang ini.”

Demikian, Allah swt telah menghendaki agar keturunan Rasulullah saw berkesinambungan melaui Imam Ali r.a dan Siti Fatimah. Dari suami isteri yang mulia itu lahirlah al-Hasan, al-Husain dan keturunan suci anak cucu mereka yang menjadi para pembimbing ummat ini. Untuk tujuan yang sangat penting itulah pernikahan Siti Fatimah bersifat Urusan Ilahi, yang Rasulullah saw sendiri tidak mendahuluinya sebelum turunnya takdir Ilahi, sebagaiamana yang dikatakan oleh beliau sendiri. [Akhmad Syofwandi]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang