Fatimah Az-Zahra Puteri Kinasih Rasululllah ~ Kehidupan Suami-Isteri (7)

25 November 2015


Oleh : H.M.H Alhamid AlHusaini



Kehidupan rumah tangga puteri Rasulullah saw sangat sederhana. Bahkan demikian sederhananya, sehingga dapat dikatakan dalam keadaan serba kekurangan. Hasil Ghanimah (Rampasan perang) yang diterima oleh Imam Ali, ketika Ia menjadi khalifah sekalipun, tidak ada bedanya dengan yang diterima oleh prajurit-prajurit muslimin lainnya. Bagaimanapun besar keinginan Siti Fatimah untuk mempunyai seorang pembantu rumah tangga, tetapi syarat-syarat penghidupannya yang berat tidak memungkinkannya juga. 

Sebagai akibatnya, nyonya rumah yang masih muda itu harus menanggulangi sendiri semua pekerjaan rumah tangganya. Ia harus menggiling gandum, membakar roti, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan memasak. Selain itu iapun merawat sendiri putera-puterinya. Salah satu gamabaran tentang bagaimana beratnya kehidupan keluarga Imam Ali ra, dapat diketahui dari riwayat yang disampaikan oleh para sahabat Nabi saw. 

Malam hari mereka tidur diatas ranjang yang amat tipis, terbuat dari jemari yang dibungkus kain kasar. Pada musim dingin, jarang mereka dapat tidur nyenyak, karena tidak mempunyai selimut tebal untuk menghangatkan badan. Selimut yang mereka miliki sedemikian pendeknya sehingga tidak mencukupi kebutuhan. Jika muka dan leher terasa dingin, selimut ditarik keatas, akibatnya kaki mereka terbuka dan kedinginan serasa membeku. Satu-satunya cara adalah tidur melingkar, tetapi itupun tidak dapat bertahan lama karena badan terasa pegal.

Rasulullah saw pernah menyaksikan sendiri bagaimana mereka tidur. Betapa pedih perasaan beliau, karena beliau sendiri tidak mempunyai selimut untuk diberikan kepada puterinya.

Pada suatu hari ketika Ali bin Abi thalib r.a mengetahui Rasulullah saw pulang dari peperangan membawa sejumlah tawanan perang perempuan dan berbagai barang rampasan, ia menghimbau isterinya agar menemui ayahnya dan minta seorang diantara para tawanan perempuan itu untuk dijadikan pembantu rumah tangga. Fatimah az-zahra r.a yang saat itu sedang menggiling gandum berhenti, lalu dengan suara terputus-putus kecapaian menjawab, “ Insya Allah”, himbauan suaminya akan dilakukan….

Fatimah r.a keluar dari rumah, melangkah menuju rumah ayah-nya yang terletak disebelah. Rasulullah saw melihat puterinya datang segera bertanya, “ Ada keperluan apa anakku?” Fatimah r.a menjawab “Aku datang untuk menyampaikan salam, ayah”. Karena malu ia merasa berat menyampaikan permintaan yang sudah direncanakan sebelum berangkat…

Setibanya kembali dirumah, ia berkata terus terang kepada suaminya bahwa ia malu menyampaikan permintaan itu kepada ayahnya. Dengan disertai suaminya ia datng lagi menemui ayahnya dan barulah ia berani menyampaikan keinginannya kepada Beliau saw walau dengan suara tersendat karena malu. Akan tetapi apakah jawab Rasulullah saw? Beliau saw tidak akan memberikan seorang tawanan pun kepada puterinya. Mereka semua akan dijual kepada orang-orang kaya dan uangnya akan dibagikan kepada orang-orang kelaparan.

Pada malam harinya udara dingin terasa menggigit kulit. Ali r.a dan isterinya tidak dapat tidur karena kedinginan. Pintu rumah tertutup tapi tidak terkunci. Karena tertiup angin lambat laun pintu terbuka. Raulullah saw datang dan melihat pintu terbuka beliau yakin dua orang suami isteri ini belum tidur. Secara diam-diam beliau memperhatikan mereka sambil tersenyum melihat menantu dan puterinya “berebut” selimut berukuran pendek. Melihat beliau datang secara tiba-tiba mereka agak terperanjat lalu segera bangun dan memeberi salam, walaupun beliau meminta supaya mereka tetap saja ditempat tidur.
Beliau mendahului bertanya dengan rasa kasih sayang, “ Maukah kalian kuberitahu mengenai permintaan kalian siang tadi?” Mereka menyahut, “ Tentu Rasulullah “. Beliau melanjutkan “ Malaikat jibril telah memberi tahu kepadaku beberapa kalimat; seusai shalat; aku diberi tahu agar bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali dan takbir sepuluh kali. Setiap sebelum tidur kalian bertasbihlah (Subhanallah) sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid ( Alhamdulillah) sebanyak tiga puluh tiga kali dan bertakbir ( Allahu Akbar) sebanyak tiga puluh tiga kali.
Hanya untuk keperluan itu sajalah beliau datang dan setelah menyampaikan maksud kedatangannya beliau pergi. Kalimat-kalimat tersebut jika diucapkan dengan segenap pikiran dan perasaan merupakan bekal kehidupan rumah tangga yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Bekal kekuatan rohani yang dapat mengalahkan kesukaran dan kesulitan.

Imam Ali r.a mengatakan, bahwa setelah mendengar nasehat Rasulullah saw itu, ia tidak pernah tidur sebelum melaksanakan nasehat beliau. Ia berkata kepada beberapa sahabatnya,” Demi Allah, sejak Rasulullah saw mengajarkan kalimat itu kepadaku, tidak pernah kutinggalkan sekalipun”. Seorang sahabat bertanya, “ Apakah juga dalam perang Shiffin?” dengan tegas Ia menjawab, “ Ya, juga dalam perang Shiffin!”.

Dapat dibayangkan bagaimana berat kehidupan Siti Fatimah sebagai isteri seorang pejuang Islam yang selama hidupnya mengabdikan dirinya kepada kepentingan agama  Allahs swt. Meskipun demikian ia hamper tidak pernah berkeluh-kesah dan mengadu. Dengan penuh kesabaran ia menerima denganikhlas suratan takdir yang telah di tentukan oleh Allahswt atas dirinya.[Akhmad Syofwandi]

Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang