Fatimah Az-Zahra Putri Kinasih Rasulullah - Lamaran Berdatangan (4)

6 November 2015

Oleh : H.M.H Alhamid alhusaini


Lanjutan dari kisah sebelumnya: Bagian 3: Menempuh Hidup Baru

Dimulai oleh Abu bakar Ash-Shidiq, kemudian Umar Ibnul Khattab, menyusul lainnya lagi dari kalangan Quraisy yang terkemuka. Semua mengajukan lamaran untuk memperistri Siti Fatimah. Akan tetapi  Rasulullah saw tidak mengabulkan keinginan mereka. Beliau saw hanya menjawab: “ Belum tiba suratan takdirnya”.

            Pada suatu hari, seperti biasa ketika para sahabat sedang berkumpul di masjid. Rasulullah saw, termasuk Abu Bakar, Umar dan Sa’ad bin Ma’ad, sampailah juga pembicaraan mereka kepada Siti Fatimah. Mereka memuji kecantikan dan keagungannya, tetapi mereka juga memepertanyakan mengapa ia belum menikah. Abu bakar mengatakan: “ Ia telah dipinang oleh orang-orang muli dan terhormat, tetapi di tolak oleh Rasulallah saw dengan ucapan – Urusan Fatimah berada di tangan Allah yang Maha Agung”.

Beberapa waktu kemudian Rasulullah saw memanggil sahabatnya, Abu Bakar dan mengatakan kepadanya: “ Abu Bakar, tidak dapatkah engkau mengemukakan persoalan Fatimah kepada Ali ? menurut perasaanku, Ali tidak menyebut-nyebut Fatimah hanya karena ia sadar bahwa ia tidak mempunyai apa-apa”.

            Tanpa menyahut lagi Abu bakar segera pergi menemui Ali bib Abi Thalib. Kepadanya Abu Bakar berkata: “ Hai Ali, semua keutamaan dan kebajikan ada pada dirimu. Sedangkan kedudukan dan hubunganmu dengan Rasulullah saw dekat sekali. Seperti kau tahu, banyak orang terhormat berdatangan untuk meminang Fatimah Az-zahra, tetap tidak seorangpun yang lamarannya di terima oleh ayahandanya. Beliau hanya menjawab: ”Urusan Fatimah terserah kepada Allah swt”. Dan engkau, apa yang menjadi penghalang bagimu sehingga engkau tidak meminangnya ? Aku berharap semoga Allah dan Rasul-Nya menahan Fatimah untukmu”.

            Mendengar saran dari AbuBakar seperti itu Imam Ali tidak segera memberikan tanggapan, hanya air matanya berlinang. Baru beberapa saat kemudian dengan suara parau ia berkata: “ Hai Abu Bakar, sesungguhnya engkau telah mengingatkan sesuatu yang sudah lama aku lupakan. Demi Allah, minatku memang sangat besar terhadap Fatimah dan tidak ada yang menjadi penghalang bagiku untuk meminangnya, terkecuali kemiskinan dan kepapaanku…”

“ Ali, jangan engkau berkata seperti itu,” jawab Abu Bakar, “Sesungguhnya bagi Allah dan Rasul-Nya semua yang ada di dunia ini laksana debu yang berhamburan”.

Setelah mempertimbangkan saran dan nasihat Abu Bakar, akhirnya Imam Ali memberikan diri dan bertekad hendak menghadap Rasulullah saw. Ia segera pulang, mandi, mengambil Air Wudhu, berpakaian rapi, lalu sholat dua roka’at. Setelah mengenakan terompah, ia berangkat untuk menemui Rasulullah saw yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salamah, isteri Beliau.

            Salam Imam Ali di jawab oleh Rasulullah saw, Imam Ali lalu duduk di hadapan Beliau saw. Rasulullah saw yang membuka pembicaraan dengan bertanya: “ Apakah engkau datang untuk sesuatu keperluan? Katakanlah apa yang terkandung dalam hatimu. Segala kebutuhanmu akan kupenuhi, Insya Allah”.

“Ya Rasulullah,” sahut Ali dengan suara tertahan dan sedikit gemetar,”….. anda mengetahui benar, bahwa andalah yang mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib, ketika aku masih kecil dan belum tahu apa-apa. Andalah, ya Rasulullah, yang memelihara, mengasuh dan mendidik aku. Kasih sayang anda terhadap diriku, aku rasakan melebihi kasih sayang ayah bundaku sendiri. Dengan perantaraan anda, Allah yang Maha Besar telah melimpahkan Hidayah-Nya kepada aku dan menyelamatkan diriku dari menyembah berhala. Andalah, ya Rasulullah, yang menjadi peganganku di dunia dan akhirat”.

Kata-kata saudara sepupu itu didengarkan dengan penuh perhatian oleh Rasulullah saw. Dengan suara semakin lirih tetpai lancer, Imam Ali meneruskan: “ Di samping itu aku ingin tetap diberi kekuatan untuk dapat terus berjuang bersama-Mu, aku juga ingin berumah tangga. Hidup bersama seorang istri yang akan memberikan ketenangan kepadaku. Itulah sebabnya aku datang menghadap anda, ya Rasulullah…., untuk meminang putri anda, Fatimah Azzahra. Apakah kiranya anda berkenan menikahkan aku dengannya?”

Ummu Salamah yang menyaksikan peristiwa tersebut, di kemudian hari pernah menceritakan sebagai berikut:

“Aku melihat wajah Rasulullah saw berseri-seri gembira dan tersenyum. Beliau masuk menemui puterinya, lalu berkata: “ Fatimah, engkau telah mengenal Ali bin Abi Thalib dan telah pula mengetahui hubungan kekerabatannya dengan kami. Engkau juga sudah mengenal keutamaannya dalam Islam. Aku mohon kepada Allah, Tuhanku, mudah-mudahanakan menjodohkan dirimu dengan hamba-Nya yang terbaik dan paling dicinta. Ia telah menyebut-nyebut tentang sesuatu mengenai dirimu, lalu bagaimana pendapatmu sendiri ?”

Fatimah diam. Rasulullah saw kemudian keluar sambil berkata pada dirinya sendiri: “…Diamnya, menunjukan persetujuannya..” setelah itu beliau bertanya kepada Imam Ali: “ Hai Ali, apakah engkau mempunyai sesuatu bekal untuk maskawin pernikahanmu?”

Ungkap Ummu Salamah lebih jauh: “ Menanggapi jawaban Imam Ali, Rasulullah saw menyahut:” Tentang pedangmu, engkau tetap membutuhkannya untuk berjuang di jalan Allah dan dengan pedang itu engkau berperang melawan musuh-musuh Allah. Mengenai untamupun engkau tetap membutuhkannya untuk mengangkut Air dan Menyiram pohon-pohon kurma tanamanmu. Selain itu juga untuk angkutan perjalanan jauh. Oleh karena itu, biarlah baju besi itu saja….”

Imam Ali kemudian segera pergi menjual baju besi miliknya kepada Utsman bin Affan dengan harga 480 dirham. Semua uangnya di serahkan kepada Rasulullah saw..”’ demikian ungkap Ummu salamah.

Rasulallah saw kemudian memanggil bilal bin Rabbah untuk di suruh belanja beberapa jenis wewangian. Sisanya diserahkan kepada Ummu Salamah r.a untuk biaya persiapan pengantin.

Atas permintaan Nabi saw, Anas bin Malik mengumpulkan sejumlah sahabat guna memberitahukan tentang rencana pernikahaan Siti Fatimah AzZahra dengan Ali bin Abi Thalib. Di antara para sahabat yang hadir pada waktu itu adalah Abu Bakar ash Shidiq, Umar Ibnul Khattab, Utsman Bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al awwam dan beberapa pemuka Anshor. Kepada mereka Rasulullah saw berkata: “ Segala puji bagi Allah yang Maha Kuasa, Maha Terpuji, Tuhan yang melimpahkan nikmat kepada hamba-Nya. Tuhan Yang disembah dengan khidmat, ditaati semua perintah-Nya dan di takuti adzab siksa-Nya. Tuhan yang semua Hukum-Nya berlaku di bumi dan Langit. Yang dengan kekuasaanya-Nya menciptakan makhluk manusia dan dengan kemurahan-Nya mengangkat maratabat manusia melalui agama-Nya, serta di muliakan dengan mengutus Nabi dan Rasul-Nya. Sesunggunyalah, bahwa Allah swt menjadikan pernikahan sebagai tali penerus keturunan dan merupakan perintah yang wajib di amalkan sebagai hokum yang adil guna menjamin kemaslahatan umum. Pernikahaan mengokohkan hubungan kekeluargaan dan menjadi keharusan bagi segenap manusia..”

Selanjutnya Beliau saw berkata: “… Allah memerintahkan supaya aku menikahkan anakku, Fatimah, dengan Ali bin Abi Thalib atas dasar mas kawin 400 dirham yang di haruskan. Semoga Allah melimpahkan berkahn-Nya kepada kedua mempelai dan memperbanyak keturunannya, sebagai nikmat kebahagian, sebagai penyebar ilmu dan pembawa rahmat serta ketentraman bagi segenap muslimini. Kuucapkan semuanya itu disertai permohonan ampun kepada Allah swt bagiku dan bagi mereka berdua”.

Tentang jalannya peristiwa bersejarah itu, Ibnu mardawih meriwayatkan, bahwa atas permintaan rasulullah saw, Ali bin abi Thalib kemudian menyampaikan kata sambutan yang isinya sebagai berikut: “ Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang mendekatkan kepada-Nya tiap manusia yang bersyukur dan mendekati mereka yang mohon kepada-Nya. Yang menjanjikan surge bagi yang berbakti kepada-Nya dan mengancam dengan siksa api neraka bagi mereka yang durhaka. Kupanjatkan puji syukur atas segala pertolongan, rahmat dan karunia-Nya. Sebagai hamba yang sadar aku yakin bahwa Tuhanlah Maha Pencipta Yang Mewujudkan, yang menghidupkan dan mematikan semua makhluk. Kepada Allah ‘Azza Wa jalla, aku  mohon pertolongan dan kepada-Nya pula aku beriman”.

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah melainkan allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Rasulullah menikahkan aku dengan putrid Beliau, Fatimah, atas dasar maskawin 400 dirham. Aku minta agar kalian menjadi saksi atas pernikahan ini”.

Sementara mengenai hal ini Anas bin Malik lebih jauh mengungkapkan bahwa Rasulullah saw kemudian mendoakan kedua mempelai: “Semoga Allah merukunkan kalian berdua, melimpahkan kebahagiaan dan memberkahi kalian dan semoga pula akan memberikan keturunan yang baik dan banyak kepada kalian”. Pada akhir riwayatnya Anas bin Malik mengatakan kesaksiannya: “ Demi Allah, ternyata Allah benar-benar menganugerahkan keturunan yang baik dan banyak kepada kedua orang suami isteri itu”.

Pernikahan itu terjadi di madinah ketika Siti Fatimah AzZahra mencapai usia 18 Tahun, sedangkan Ali bin Abi Thalib 23 tahun. Modal mereka dalam hidup berumah tangga adalah antara lain berupa sebuah balai-balai, dua buah kasur yang terbuat dari kain kasar mesir ( yang satu berisi ijuk kurma sedangkan yang lainnya berisi bulu kambing), empat buah bantal kulit buatan Thaif yang berisi idzkir, kain tabir tipis, selembar tikar buatan Hijr, masing-masing sebuah gilingan tepung, ember tembaga, kantong kulit untuk tempat air minum, mangkuk susu dan mangkuk air, wadah air untuk mensucikan diri, kendi warna hijau, kuali tembikar, beberapa lembar kulit kambing, sehelai ‘ahabah (sejenis jubah) dan sebuah kulit menyimpan Air.

Sangat sederhana untuk ukuran puteri seorang Rasulullah saw dan pemimpin ummat yang sedang tumbuh dengan jaya-jayanya. [Akhmad Syofwandi]

Baca kisah selanjutnya di Bagian 5: Upacara Yang Mengesankan

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang