Fatimah Az-Zahra Putri Kinasih Rasulullah – Upacara Mengesankan (5)

10 November 2015

Oleh: H.M.H Alhamid Alhusaini


Lanjutan dari kisah sebelumnya, Bagian 4: Lamaran Berdatangan

Pada malam perkawinan Siti Fatimah, Rasulullah saw mendatangkan seekor baghal ( Hewan kecil perkawinan silang antara keledai dan kuda) yang bernama “ Syahba”. Pada punggung hewan itu dihamparkan sehelai permadani. Setelah itu Siti Fatimah dimintai mengendarainya. Seorang sahabat yang bernama Salman Al-farisiy, diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk menuntun Baghal tersebut. Sedangkan Rasulullah sendiri berjalan di belakang mereka bersama Hamzah, paman Rasulullah saw dan orang-orang Bani Hasyim lainnya. Mereka berjalan perlahan-lahan dan teratur, berpakaian rapi dan masing-masing mengangkat pedang terhunus. Barisan yang berfungsi sebagai pasukan kehormatan itu tampak anggun dan tertib.

Sementara para wanita dari kaum muhajirin dan anshor ikut mengiring sambil mengumandangkan Takbir, tahmid dan puji syukur kehadirat Allah swt.
Beberapa orang wanita, isteri para sahabat nabi yang pandai bersyair, secara bergantian mendendangkan syair-syair berisi pujian kepada Allah swt atas kemuliaan yang dilimpahkan kepada Siti Fatimah r.a. Salah satu syairnya antara lain :
Wahai Fatimah, wanita utama
Wajahmu bercahaya laksana bulan purnama
Dimuliakan Allah atas seluruh hamba-Nya
Kemuliaan besar tiada tara
Dinikahkan Allah dengan Ksatria perkasa
Imam Ali seorang yang terkemuka
Pahlawan islam kebanggaan bangsa
Pelindung ummat, pembela agama.

Iring-iringan mendapat sambutan hangat dari penduduk Madinah dan akhirnya tiba di rumah kediaman Ali bin abi Thalib r.a. Upacara penyerahan Siti Fatimah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, disertai doa: “ Ya Allah, ya Tuhanku, inilah puteri yang paling aku cintai. Dan inilah saudaraku yang paling aku kasihi. Limpahkanlah ya Allah, kepada mereka itu, lindungan dan pertolongan-Mu. Muliakanlah mereka dengan ketekunan berbakti kepada-Mu. Berikanlah ya Allah, rahmat dan berkah-Mu kepada keluarga mereka.”



Selesai berdoa, Beliau saw mempersilahkan Ali bin Abi Thalib masuk kedalam kamar bertemu dengan istrinya. Sebelum meninggalkan rumah yang bakal menjadi kediaman baru puterinya itu, sambil berpegang pada daun pintu, sekali lagi Beliau saw berdoa:

“ Semoga Allah swt mensucikan kalian dan keturunan kalian berdua. Dengan ini kalian berdua kuserahkan kepada Allah swt”. Pintu kemudian ditutup dan Beliau saw meninggalkan rumah puterinya yang mulai saat itu hidup sebagai isteri Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Mereka tinggal tidak jauh dari dari kediaman Rasulullah saw. Keduanya berada dalam lingkungan masjid. Tidak jauh dari rumah mereka terdapat rumah sahabat Abu bakar dan sahabat Umar Ibnul Khattab. Semua mempunyai pintu-pintu yang langsung menjurus ke Masjid. [Ahmad Syofwandi]

Baca kisah selanjutnya di Bagian 6: Keistimewaan Sang Suami
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang