Hijab dan Modernitas

24 November 2015

oleh : Prof. Dr. Mahmoud Hamdi Zaqzouq



SANTRIJAGAD ~ Bagi mereka yang mengatakan bahwa hijab tidak cocok untuk kehidupan modern, seharusnya menyadari bahwa setiap umat sesungguhnya memiliki karakter dan keunikan sendiri. Pada setiap umat terdapat kebiasaan-kebiasaan khas yang mentradsii, misalnya, tata cara makan, minum, berpakaian, bentuk tempat tinggal dan sebagainya. keunikan dan kekhasan seperti ini sebenarnya merupakan refleksi kebudayaan, peradaban dan sistem keyakinan yang khas pada setiap komunitas umat.

Allah swt. memang menciptakan manusia dengan keunikan dan kekhasan yang beragam dan membedakan antara satu dengan yang lain. Dan keragaman ini yang ada ini akan terus berlaku sampai akhir zaman. Dengan demikian, boleh jadi sesuatu dianggap layak oleh satu umat, menjadi kurang pas dalam pandangan umat yang lain. Kaum perempuan di India, umpamanya, mereka menjadikan pakaian sari sebagai busana nasional mereka. Kendatipun terlihat kurang praktis dan tidak produktif untuk ukuran dunia modern, namun tak seorang pun-termasuk mereka yang hidup dibarat-yang mengajukan keberatan dengan model pakaian yang telah mentradisi di India dan di kenakan banyak orang, mulai dari kalangan rakyat biasa sampai kelompok elit dan pejabat tinggi negara seperti Indira Gandi. Sebab, kendatipun terasa kurang praktis dan tidak modern menurut pandangan orang luar India, namun pada praktiknya, model pakaian tersebut tidak pernah menghalangi kaum perempuan india untuk bekerja secara produktif.

Sampai permulaan abad keduapuluh, kaum wanita eropa-umumnya-masih mengenakan model pakaian dengan tutup kepala ( tudung) dengan balutan busana panjang. Tak seorangpun kala itu berkomentar sinis terhadap model pakaian tersebut. Perkembangan zamanlah kemudian mengubah gaya berbusana orang-orang barat, hingga akhirnya sampai pada model mutakhir seperti sekarang ini. Perubahan model busana itu tentu saja berjalan alami tanpa memerlukan standar dan aturan yang mengikat. Dengan demikian, sangat mungkin bila di masa depan akan terjadi perubaha dalam gaya busana eropa, seiring dengan kecenderungan industri-industri modeling dan fashion yang berkembang di belahan bumi utara.
Adapun Hijab yang dikenakan paa wanita Muslimah, Islam sebenarnya tidak menentukan spesifikasi dan modelnya secara terperinci. yang pasti adalah hijab tersebut hendaknya dapat menampilkan pemakainya menjadi tampak elegan, sopan dan tidak mengundang keusilan atau memancing sikap tidak respek kaum lelaki.

Sangat disayangkan bahwa sampai saat ini masih saja muncul hujatan bahwa Muslimah (Hijab) ini dianggap telah menghambat kaum perempuan dalam melakukan aktivitas mereka secara produktif, dan karenanya dikatakan tidak modern. Hujatan ini sama sekali tidak tepat, terutama bila kita melihat banyak wanita Muslimah-dari berbagai usia-yang mengenakan hijab dan bekerja di instansi-instansi pemerintah, ternyata memiliki tingkat produktivitas yang sama baiknya dengan kolega mereka yang tidak menggunakan hijab. Dengan demikian, mempermasalahkan hijab sebagai kontra-produktif dan anti kemajuan adalah sesuatu yang megada-ada dan tidak didukung data-data Ilmiah. 

Dari sini, barangkali bisa dibenarkan bila ada yang curiga bahwa pandangan sinis dikalangan Barat terhadap hijab, sebenarnya, muncul dari sudut pandang etnosentrisme yang ingin memaksakan kultur barat menghegemoni kultur-kultur lainnya di dunia. Pandangan etnosentrisme-atau tepatnya euro-sentrisme-seperti ini, tentu akan menimbulkan situasi yang kontra -produktif dan bertentangan dengan karakter peredaban yang multikultural. Sebab, setiap komunitas umat atau peradaban, sebenarnya memiliki identitas dan kultur yang unik dan khas. Karenanya, merupakan satu hal yang wajar bila para wanita muslimah akan terus berusaha mempertahankan identitas dan keunikan mereka dalam berpakaian dan bertingkah laku, sebagaimana halnya kaum wanita di India atau Eropa, misalnya, memiliki hak yang sama dalam mempertahankan identitas dan keunikan mereka. [Akhmad Syofwandi]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang