Kesucian Jihad Rasulullah saw. dan Jihad Umatnya

28 November 2015


Oleh : Dr. Ali Jumu'ah





SANTRIJAGAD ~ Kita tahu bahwa Nabi Muhammad saw. dikenal sebagai panglima perang berkaliber international yang mengetahui kesejatian perang, bagaimana membuat pertahanan, serta kapan memulai dan mengakhiri perang. Dengan mengkaji secara mendalam kenyataan sejarah, menjadi kian kuatlah pernyataan tersebut. Diantara kenyataan itu adalah bahwasanya Nabi Muhammad saw. – walaupun telah di izinkan berperang- tidak pernah mencoba memulai agresi. Beliau hanya akan melancarkan serangan apabila para musuh benar-benar telah menampakkan permusuhannya, gemar  melakukan kedzaliman dan pelanggaran, atau memerangi agama Allah swt. dan orang –orang yang dilindungi. Selama memimpin Negara islam, Nabi Muhammad saw. mendapatkan kewajiban perang sebanyak 82 kali; 60 kali tidak sampai meletus peperangan dan 5 kali agresi tidak sampai menewaskan orang-orang di luar Islam. Adapun jumlah orang yang terbunuh dari kedua belah pihak adalah 1004 orang; 252 orang dari kaum muslimin gugur sebagai Syahid dan selebihnya adalah dari golongan Musyrikin.

Sederet angka di atas bukan lah factor pemicu yang membuat manusia di dunia takut terhadap islam, sehingga karena ketakutan itulah mereka terpaksa memeluk agama suci tersebut, yakni agama Islam. Tidak, sekali-kali tidak demikian ! karena faktanya, di  Negara manapun di belahan bumi ini, pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan oleh tangan-tangan kafir juga terjadi setiap hari hingga detik ini, bahkan menelan nyawa lebih dari sederet angka diatas. 

Hal ini menandaskan bahwasanya perang bukanlah pilihan pertama yang dipilih oleh Nabi Muhammad saw., justru Beliau saw. berusaha sekuat tenaga menghindari peperangan. Kalaupun akhirnya terjadi peperangan, itu hanyalah perintah terakhir yang wajib diambil karena mempertahankan diri, menolong orang teraniaya dan menyebarkan agama islam.

Peperangan ini telah menghasilkan tawanan sekitar 6500 orang, namun kemudian Rasulullah saw. mengampuni 6300 orang diantara mereka, sehingga jumlah yang di tawan akhirnya hanya 200 orang. Karena itulah, peperangan Nabi Muhammad saw. justru menjadi rahmat bagi dunia. Dialah pemimpin seluruh umat manusia yang tidak pernah angku dan tiada bandingannya.

Dengan akhlak Beliau saw. yang mulia dan angka-angka fantastis diatas, sejatinya Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara berperang dengan cerdas, bagaimana orang-orang yang bertaqwa mendekatkan diri kepada Allah swt.-bahkan dalam keadaan berkecamuknya peperangan- aerta bagaimana mengingat Allah swt. dalam setiap waktu terutama saat pecah perang. Sesungguhnya jihad Rasulullah saw. menyimpan banyak hakikat yang perlu diketahui oleh kaum muslimin, yaitu siapa yang harus diperangi ?  Bagaiamana Rasulullah saw. menundukan diri ( Tawadu’) dan berlindung ( Luju’) kepada  Allah swt. pada saat genting dan keadaan amat sulit ? bagaimana para sahabat – semoga Allahswt meridhoi mereka- tetap berpegang teguh pada petunjuk Beliau saw. dalam berperang, meski Beliau saw telah meninggal ?

Para sahabat Nabi Muhammad saw. yang mulia melanjutkan jejak langkah Beliau dalam menyebarkan islam dan mengajak manusia kepada Allah swt. dengan keteladanan, penuh hikmah ( Kebijaksanaan ), serta Mauidzah hasanah ( Pelajaran yang baik ). Mereka tidak terburu-buru melakukan peperangan itu menjadi keniscayaan yang tak terelakan karena adanya kekuatan dunia yang memaksanya. Jadi, tekanan dunia ( di Luar Islam ) itulah yang memaksa orang-orang Islam mengambil pilihan untuk berperang, bukan mereka yang menebar benih-benih peperangan. 

Orang islam tidak menyebarkan agamanya dengan pedang. Para penulis dan kaum moderat dari Barat telah banyak memebrikan kesaksian tentang hal tersebut. Seorang orientalis Prancis Gustaf Le Bone dalam bukunya Hadharatul Arab ( Peradaban Arab) memaparkan rahasia tersebarnya Islam pada masa Rasulullah saw,. dan masa-masa penaklukan setelah Beliau wafat. Ia mengatakan, “ Sejarah telah menegaskan bahwasanya agama-agama tidak mengharuskan penyebarannya dengan kekuatan, begitu pula al-Qur’an tidak tersebar dengan pedang, melainkan semata-mata dengan cara dakwah. Dengan dakwah itu pula, beberapa bangsa yang telah ditaklukkan oleh pasukan Arab, seperti Turki dan Mongol, justru menjadi bersatu dan bersaudara. Al-Qur’an bahkan menyebar ke India hingga jumlah pemeluk Islam di sana mencapai 50 juta jiwa. Padahal kita tahu, India bukanlah wilayah penaklukan dan kekuasaan Arab, tetapi sekedar jalan lewat dan penyeberangan saja. 

Orang-orang yang mau membaca sejarah dan mencermati penyebaran Islam sepanjang masa tentu akan mengetahui bahwa Islam tidak di sebarkan dengan pedang, tetapi islam disebarkan dengan cara alami tanpa paksaan dan pedang. Islam disebarkan dengan ditegakkannya Sholat oleh orang-orang Islam, dan dengan cara hijrah yang terorganisir dari dalam Hijaz hingga menyebar ke seluruh penjuru bumi.

Terdapat beberapa fakta sejarah di seputar penyebaran Islam, sebagaimana paparan statistic berikut :
- Pada abad pertama hijrah, penyebaran Islam di luar jazirah Arab adalah sebagai berikut :
Di Persia ( Iran) jumlah Muslimin ada 5 %, di Iraq ada 3%, di Suriah ada 2%, di Mesir 2%, dan di Andalusia ( Spanyol) kurang 1%.
- Adapun tahun-tahun saat jumlah orang Islam hampir 25% dari jumlah penduduk adalah sebagai berikut : 
Iran pada tahun 185 H., Irak pada tahun 225 H., Suriah pada tahun 275 H., Mesir pada tahun 275 H. dan Andalusia pada tahun 295 H.
- Tahun-tahun saat jumlah orang Islam mencapai 50% dari jumlah penduduk adalah sebagai berikut :
Persia pada tahun 235 H., Irak pada tahun 280 H., Suriah pada tahun 330 H., Mesir pada tahun 330 H., dan Andalusia pada tahun 295 H.
- Tahun-tahun saat jumlah orang Islam mencapai 75% dari Jumlah penduduk adalah sebagai berikut : 
Persia pada tahun 280 H., Irak pada tahun 320 H., Suriah pada tahun 385 H., Mesir pada tahun 385 H., dan Andalusia pada tahun 295 H.

Diantara sebab-sebab perkembangan penyebaran agama Islam adalah : Tidak dilakukan pembantaian terhadap rakyat, Adanya perlindungan terhadap berbagai agama; seperti yahudi, nasrani, majusi, bahkan Hindu dan Agama-agama lain di Asia Timur, pernyataan kebebasan berfikir (Mereka tidak di pasung untuk mengikuti satu pendapat tertentu oleh ahli yang berbeda ) dan Masih tetapnya Hijaz sebagai pusat dakwah dalam keadaan miskin sampai akhirnya ditemukan minyak bumi dimasa mendatang.

Semua kenyataan ini menjadikan kita semakin yakin bahwa Nabi Muhammad saw. adalah manusia sempurna. Beliau adalah penutup para Nabi yang mengajari manusia dengan akhlaknya yang mulia, tasamuh (Toleran), Cerdas, dan Berani. Dengan meneladani jejak Beliau, maka berjalanlah para sahabat dan para pengikut setelahnya. Kaum Muslimin mencontoh Akhlak beliau. Dunia ini menjadi terang benderang dengan akhlak kenabian ini yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. 

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang