Ketika Bilal Menolak Adzan

14 November 2015

Oleh: Habib Ali bin Abdurrahman Al-Jufri – Abu Dhabi

Bagaimana reaksi kita saat diceritakan tentang Rasulullah, makhluk yang sangat dicintai di dalam hatimu? Seagung-agung makhluk yang paling dicintai Allah daripada yang lain.

Ketika kau mendengar nama ‘Muhammad’, apa yang kau rasakan di dalam hatimu terhadap nama ini? Apakah tergerak hatimu itu?

Ada kisah tentang Sayyiduna Bilal ra., ketika berpindahnya Baginda al-Habib saw. kepada ar-Rafiq al-A’la (wafat). Kisah ini berpredikat ‘hasan’ menurut sebagian ahli hadits. Setelah wafanya Baginda Nabi saw., Bilal tidak lagi mampu menetap di Madinah, karena semua hal di kota itu mengingatkan Bilal terhadap semua peristiwa ketika masih bersama Rasulullah.
Ilustrasi Bilal

Lantas Bilal berpindah ke negeri Syam, negeri yang juga penuh berkah sebab pernah didoakan oleh Baginda Nabi. Tepatnya beliau menetap di wilayah Daraya, dekat Damaskus. Ia menikah di sana.

Suatu hari, Bilal terjaga dari tidurnya dalam keadaan menangis. Istrinya bertanya,
“Apa yang membuatmu menangis?”
“Aku bermimpi melihat Rasulullah malam tadi..” jawab Bilal.

Saudaraku, apakah ada makna lain bagimu ketika mendengar kata-kata Bilal ini; “Aku bermimpi melihat Rasulullah,” adakah? Adakah tergerak hatimu suatu kerinduan untuk bisa juga melihat beliau? Baginda Rasulullah saw. bersabda, seperti yang disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa melihatku di dalam mimpi, sesungguhnya ia melihatku sebenar-benarnya.” Sungguh, tidaklah Baginda bersabda demikian melainkan hanya untuk menggerakkan hatimu agar rindu kepadanya.

Kata Bilal kepada istrinya, “Aku semalam bermimpi melihat Rasulullah, beliau berkata; ‘Wahai Bilal, kecanggungan macam apakah ini? Bukankah sudah saatnya kau mengunjungi aku?’”

Maka pergilah Bilal menuju kota Madinah. Dikisahkan bahwa ketika tiba di Madinah, beliau menangis dengan tangisan yang tak dapa dibendung. Sayyiduna Abu Bakr as-Shiddiq menjumpainya dan berkata, “Wahai Bilal, mengapa kau tidak mengumandangkan adzan bagi kami? Sebagaimana kau kumandangkan dahulu untuk Rasulullah?”

Bilal menjawab, “Maafkan aku wahai Khalifah Rasulillah. Demi Allah, aku tak mampu mengumandangkan adzan di kota Madinah ini selepas wafatnya Rasulullah. Karena dahulu setelah aku selesai adzan, lalu aku menuju kamar Rasulullah dan berkata; ‘Shalat waai Rasulullah..’ Dan sekarang, bagaimana aku akan berlaku semacam itu?”

Sayyiduna Umar ra. juga merayunya. Tapi Bilal tetap tidak berkenan. Lalu bertemulah ia dengan Sayyiduna Hasan dan Husain, cucu Rasulullah. Salah satunya berusia 8 dan lainnya 7 tahun, penghulu para pemuda ahli surga. Bilal memeluk dua anak ini dan menangis. Tercium di tubuh mereka wewangian kakek mereka. Sayiduna Hasan dan Husain meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. Bilal tidak mampu menolak permintaan mereka berdua.

Lalu Bilal naik ke tempat yang pernah ia berdiri untuk adzan di masa Rasulullah. Maka adzan pun ia kumandangkan,
“Allaahu Akbar! Allaahu Akbar!”
 Seketika terkejut penduduk Madinah.

“Allaahu Akbar! Allaahu Akbar!”
Orang-orang menjadi gempar, ‘Apakah Rasulullah diutus kembali?!’ kata mereka. Mereka teringat suara adzan ini persis ketika masa hidupnya Rasulullah dahulu.
“Asyhadu An Laa Ilaaha Illa Allaaah!”
Keluar semua lelaki dari rumah mereka, dari pasar-pasar mereka.
“Asyhadu An Laa Ilaaha Illa Allaaah!”
Keluar wanita-wania dari rumah mereka. Lelaki dan wanita semua keluar ke jalanan kota Madinah, di antara mereka berseru, ‘Apakah Rasulullah diutus lagi?!’

Ketika sampai lafal adzan Bilal pada kalimat;
“Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullaah..”
Tercekat suaranya. Terasa kesedihan yang begitu pilu. Beliau tak mampu melanjutkan adzannya, lalu turun dari tempat itu.



Perawi kisah ini mengatakan bahwa Madinah tidak pernah terlihat begitu sayu selepas wafatnya Nabi Muhammad, melainkan pada hari ketika Bilal mengumandangkan adzannya. Tepatnya ketika Bilal melafalkan ‘Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullaah’.

Kisah ini dipaparkan di sini agar kita rasakan sedalam-dalamnya kalimat ‘Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah!’. Sungguh jika tidak ada Baginda, tidaklah kau akan mengenal adzan, tidaklah kau akan kenal shalat, bahkan tak akan kau kenal ‘Laa Ilaaha Illa Allah’!

Tidak sempurna keimanan seseorang itu sehingga menjadikan Baginda sebagai orang yang sangat ia cintai daripada dirinya sendiri. Begitu sabda Baginda Nabi. Dan telah Allah jadikan kecintaan kepada-Nya bersangkut paut dengan kecintaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Tidaklah Allah sangkut pautkan kecintaan terhadap-Nya dengan kecintaan terhadap makhluk-Nya, kecuali dengan Sayyiduna Muhammad saw.
“Katakanlah (wahai Muhammad); jika kau benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku.” (Alu Imran: 31)
Dan hasil dari mencintai Rasulullah, maka Allah akan mencintaimu. Tidak cukup kau hanya sekedar mencintai Allah, melainkan kecintaanmu kepada Allah akan melahirkan kecintaan pula kepada Rasulullah.

Lalu, bagaimana kau mendengar suara adzan lima kali sehari, setiap hari, berulang-ulang disebutkan; ‘Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah’, kemudian menjawabnya sesuai sunnah dengan kalimat ‘Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah’. Adakah kau menjawabnya dengan hati yang hadir? Dengan hati yang senantiasa terhubung dengan Baginda yang mulia ini? Dengan kekasih yang dicintai ini?” [Zq]

*Sumber: Video Ceramah Habib Ali Al-Jufri tentang Kisah Bilal ra.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang