Kisah Kudeta Mekah 1979: Akar Gerakan Teror Modern (1/2)

15 November 2015

Kota suci Mekah terlihat tenang, saat abad baru mulai menyingsing, meninggalkan pegunungan terjal berbatu di belakang. Setelah membasuh muka dengan air dingin, Imam Masjidil Haram berjenggot itu mengaitkan sebuah jubah berwarna cokelat keabu-abuan di atas pundak. Mulutnya komat-kamit memanjatkan doa kepada Sang Khaliq. Waktu shalat subuh usai beberapa menit kemudian.

Di bawah jendela, sinar mentari segera memenuhi halaman masjid. Musim haji telah berakhir, saat di mana hamparan tanah luas yang dikelilingi pagar itu dijubeli  lebih dari satu juta jamaah. Namun begitu, Mekah masih disesaki oleh banyaknya kaum mukmin.  Sebagian besar mereka menghabiskan malam di tempat tersuci umat Islam itu, meringkuk di atas karpet wol, di lorong-lorong yang ada di hamper seribu ruang Masjidil Haram yang penuh sejarah.

Seperti biasa, para jamaah tinggal di situ dengan barang bawaan, kasur, serta jaket, yang tak seorang pun bisa mengganggu untuk alas an pemeriksaan. Tak ketinggalan juga sejumlah muatan dalam peti. Mereka berharap sang Imam akan melimpahkan berkah, serta memohonkan ampunan atas segala dosa yang hanya dapat dicapai di tempat suci.

Belakangan, beberapa peti tersebut berisi muatan yang tak biasa: senapan pemburu Kalashnikov, senjata FN-FAL buatan Belgia, sabuk peluru, dan berbagai macam pistol. Orang-orang iu elah menyelundupkan senjata ke dalam masjid dengan misi ambisius, yakni membalik gerak sejarah dunia, mengobarkan perang global, yang pada akhirnya sanggup membawa Islam pada kemenangan total, sekaligus menghancurkan kesombongan kaum Kristiani dan Yahudi.

Kala itu, awal bulan Muharram 1400 Hijriyah, yang dalam penanggalan masehi bertepatan dengan 2 November 1979.

Bagi penduduk asli Mekah, sebuah kota yang menggantungkan hidup dari membludaknya  manusia yang mengalir di antara tempat-tempat sucinya sejak zaman dahulu, Selasa pagi itu merupakan saat istimewa yang penuh suka cita: hari tahun baru tiba, yang sesuai tradisi, orang-orang Mekah melakukan ziarah dari kampong mereka masing-masing ke Masjidil Haram.

Dalam kegelapan, ribuan orang berangkat menuju pinggiran kota, melepas pakaian sehari-hari setelah lebih dahulu mandi, menggantinya dengan pakaian ihram berwarna putih salju – dua helai kain yang menutupi badan sebagai simbol penyucian, serta membiarkan pundak kanan kaum pria tersingkap.

Sekitar 100.000 jamaah datang dari pelbagai penjuru dunia, membaur dengan penduduk lokal – orang-orang Pakistan dan Indonesia, orang Maroko dan Yaman, orang Nigeria dan Turki. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang memutuskan untuk tetap tinggal di sana pasca-haji; jamaah yang punya jiwa bisnis, dari tahun ke tahun, berusaha menggani ongkos perjalanan mereka  dengan berjualan barang-barang unik, yang mereka bawa dari kampung halaman yang jauh, di Bazar Mekah. Sementara yang lain ke Mekah hanya unuk menyaksikan pergantian abad – sekali dalam seumur hidup.

Di antara lautan manusia itulah terdapat ratusan pemberontak dengan wajah garang. Sebagian dari mereka mengenakan hiasan kepala dengan tanda petak-petak berwarna merah. Beberapa di antaranya sudah berada di dalam masjid selama beberapa hari, mengintip kelokan jalan yang menghubungkan antargedung, juga jalan terusan. Sebagian lainnya diangkut dengan bus sepanjang malam. Sementara yang lain lagi mengendarai mobil sendiri menuju Mekah pagi harinya, tiba pada menit terakhir, lagu segera bergabung dengan anak-anak dan para istri untuk menghilangkan kecurigaan penjaga.

Kebanyakan anggota komplotan ini adalah orang Saudi keturunan Badui yang merasa kedudukan mereka tergeser oleh orang-orang asing, jika kalimat semacam ini punya makna bagi yang percaya akan kewargaan Islam yang tunggal. Di antara mereka bahkan terdapat warga keturunan Amerika-Afrika yang pindah agama, terinspirasi oleh keyakinan baru dan menjadi keras oleh keturunan ras di sebagian belahan dunia.

Langit yang sedikit berawan perlahan berubah, dari keabu-abuan menjadi merah muda. Saat permulaan ritual dimulai, inilah saat yang istimewa. Pukul 05:18 pagi, berkumandang kalimat ‘Laa Ilaaha Illa Allaah,’ dengan suara yang dalam, menggema dari pengeras suara baru yang dipasang di atas tujuh menara masjid: ‘Tiada Tuhan selain Allah.’

Dengan kaki telanjang, para jamaah bersujud di halaman Masjidil Haram. Sang Imam, sembari berdehem, mengambil mikrofon dan membaca doa. Melalui isyaratnya, kaum mukmin melemaskan diri ke tanah, membentuk lingkaran besar mengelilingi Ka’bah, sebuah bangunan kuno dibalut sutra hitam bersulam emas berdiri tepat di tengah bangunan yang memagarinya.



Lantas, manakala sang Imam menutup doa dengan harapan akan kedamaian, tiba-tiba senjata menyalak. Gelegar suara menggema di halaman masjid, seperti gema dalam ruangan. Para jamaah panik menyaksikan seorang pemuda di tangannya tergenggam senjata, melangkah bergegas menuju Ka’bah. Yang lainnya menembak kerumunan merpati yang biasanya bergerombol di atas bangunan plaza di luar Masjidil Haram.

Bisik-bisik segera menyebar di antara mereka. Ada apa gerangan? Keributan macam apa ini? Mungkin akan ada penjelasan mengenai ini, kata seseorang. Mungkin orang-orang bersenjata itu adalah pengawal salah seorang pangeran senior, atau bahkan raja Saudi sendiri, Raja Khalid? Mungkin tembakan itu hanya model khas Saudi untuk memeriahkan tahun baru?

Para jamaah yang paham merasa tidak suka. Bagi mereka, melepaskan tembakan  di Masjidil Haram adalah tindakan nista. Tidak pernah dalam sejarah terjadi peristiwa pelanggaran di tempat suci semacam itu. Para jamaah menyaksikan dengan penuh debar orang-orang bersenjata itu yang kian mendekati Ka’bah, membawa senjata yang diambil dari peti. Polisi Masjidil Haram sendiri, yang hanya bersenjatakan tongkat – biasa digunakan untuk menghalau jamaah luar negeri yang berbuat onar- perlahan menjauh tatkala dua orang penjaga yang mencoba melawan tewas di dekat tembok.

Di tengah keributan, Juhaiman al-Utaibi, pemimpin pemberontak, muncul dari dalam masjid. Seorang khatib Badui berumur 43 tahun, dengan mata hitam memikat, bibir sensual, dan rambut sebahu, dipadu janggut hitam berombak. Juhaiman segera member kesan mengenai sosok berwibawa, kendati postur tubuhnya kurang ideal. Menyamai kealiman yang pertama kali ditunjukkan oleh Nabi Muhammad sendiri, dia memakai jubah tradisional Saudi berwarna puih yang dipoong pendek di pertengahan kaki, sebagai simbol penolakan terhadap kekayaan materi. Idak seperti anak buahnya yang memegang senjata, dia tampil tanpa penutup kepala, dengan hanya memakai sebuah pita kepala tipis berwarna hijau yang disematkan secara asal. [Zq]
Juhaiman al-Utaybi

Muhammad bin Abdullah al-Qahthani, Sang 'Imam Mahdi'.
Juhaiman bin Muhammad bin Sayf al-Utaybi, dilahirkan di al-Sajir, Provinsi Qasim pada 1936, dari suku Utaybah, salah satu suku besar di Nejd. Masa mudanya bergabung di militer Saudi pada usia 19 tahun. Tahun 1955 ia keluar dari militer dan belajar di Uniersitas Islam Madinah, di sini ia terpengaruh pemikiran tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Akhir ‘60-an, ia merasa kecewa dengan pemerintah Saudi yang menurutnya tidak sesuai Syari’at Islam. Pada 1965, ia bersama iparnya, Muhammad bin Abdullah al-Qahthani (yang pada aksi teror ini didakwa sebagai Imam Mahdi) membentuk grup al-Jamaah as-Salafiya al-Muhtasiba sebagai wadah protes dan respon terhadap pemerintah Saudi, terinspirasi gerakan perlawanan terhadap Gamal Abdul Naser di Mesir. Pada 1974 ia keluar dari kampus, mematangkan gerakannya, kemudian mulai mempropagandakan ide-idenya. Pada 1978, Juhaiman ditahan bersama 100-an pengikutnya setelah mengadakan demonstrasi besar-besaran, kemudian dibebaskan.
Bersambung ke Kisah Kudeta Mekah: Akar Gerakan Teror Modern (2/2)
 

*Sumber: Yaroslav Trofimov, ‘Kudeta Mekah: Sejarah Yang Tak Terkuak’, bagian prolog hal. 6-15, Pustaka Alvabet: Jakarta, 2012.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang