Manusia Memiliki Dua Dimensi

27 November 2015

Oleh : Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Buthy


Manusia adalah kesatuan eksistensi fisik dan non-fisik yang kalau kita pisahkan, akan terdiri dari dua hal: akal yang dapat mengetahui sesuatu dan perasaan yang merupakan tempat bersemayamnya rasa cinta atau benci terhadap sesuatu. Sebuah konsensus para pakar menyatakan bahwa akal manusia yang dapat mengetahui sesuatu itu berada di otak, sedangkan perasaannya berada dalam hati. Ungkapan lebih detail lagi menyebutkan bahwa segala hal yang terkait dengan kepekaan, pengetahuan dan perasaan berada di ruh, yang seperti kita ketahui merupakan salah satu rahasia Allah swt. Ruh masuk dan mengalir ke sela-sela tubuh sehingga lahirlah kepekaan, masuk dan mengalir melalui otak, lalu lahirlah pengetahuan, masuk dan mengalir ke dalam hati maka lahirlah perasaan yang dapat memberikan motivasi, penolakan, juga pengagungan, yaitu cinta, kebencian dan kekaguman.

Jadi kita dapat mengetahui bahwa ruh manusia-lah yang senantiasa mengendalikan ilmu pengetahuan. Ruh manusia-lah yang memberikan manusia hakekat kepekaan, perasaan cinta, benci dan penghormataan. Dengan begitu, tidak ada yang tersisa dari diri manusia, kecuali daging, darah dan tulang. Tetaplah dengan keyakinan seperti ini bahwa pengetahuan itu lahir dari otak dan tidak terpengaruh oleh asumsi orang tentang ilmu, namun tidak mengetahui kandungannya. Jadi, akal lahir dari hakekat yang bersifat materi, perasaan lahir dari kebutuhan materi yang terakumulasi dalam diri manusia dan kepekaan tidak lain hanyalah anugerah kehidupan. Sementara itu, kehidupan lahir dari gerakan dan kehangatan, dari berbagai unsure, seperti karbon, ozon dan oksigen.

Mereka berasumsi kalau otak terkena penyakit, rusaklah proses pemahaman dan pengetahuan. Seorang anak kecil, sebelum ia tumbuh besar dan memiliki banyak keinginan, tidak memiliki perasaan apapun dalam dirinya; untuk memotivasi, mencegah, maupun menghormati. Saya katakan bahwa argumentasi ilmiah mereka itu tidak dapat memalingkanmu dari kenyataan yang telah saya jelaskan, bahkan argumen salah yang anda jadikan sebagai dalilpun tidak akan menipu anda, sebab bila sebuah monitor di tembok rusak, rusaklah bayang-bayang yang tampak padanya. Meskipun demikian, monitor itu hanyalah sebagai alat untuk menerima, sedangkan alat untuk mengirimkan tentu lain lagi. Anak kecil tidak mengetahui kebutuhannya, tetapi ia adalah secercah dari berbagai perasaan yang mendorongnya untuk mendapatkan keuntungan tanpa dirasakannya.

Jadi, saya ulangi dan saya tegaskan lagi bahwa manusia-jika dipisahkan dari fisiknya-memiliki susunan ganda; akal yang dapat mengetahui dan perasaan yang dapat mencinta dan membenci. Hanya saja, jika kita ingin mengungkapkan dengan detail, kita katakan bahwa sifat kemanusian yang tersembunyi di balik fisiknya tak lain adalah ruh yang mengalir dalam seluruh tubuhnya.ia berada di tempatnya, dengan tiga fungsi yang telah kami sebutkan. [Akhmad Syofwandi]
Share on :
Comments
0 Comments
 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang