Mengenang Rasulullah adalah Benteng dari Kemaksiatan

21 November 2015

Oleh: Habib Abu Bakr al-Masyhur, Jeddah
Rasulullah datang kepada kita  mengajarkan perkara-perkara yang baik, perkara-perkara yang benar. Sehingga  kita tidak lagi mengikuti langkah-langkah orang sebelum kita, yaitu jalan jahiliyah, yang  mana mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dengan mengingat Rasulallah, kita diingatkan tentang kekhusyukannya, kesucian hatinya, yang membuat kita terhindar dari perbuatan zina, homoseksual, perbuatan-perbuatan yang menjauhkan kita dari Allah. Ini adalah hasil daripada  kesesatan yang disebarkan oleh orang-orang di luar Islam  sehingga perkara seperti zina dan homoseksual, yang pernah terjadi di zaman jahiliyah, kemudian kembali terjadi di zaman umatnya Nabi Muhammad, karena teledor dengan akhlak dan sirah Nabi Muhammad.
Habib Abu Bakr al-Masyhur
Telah banyak beredar mengenai gambar-gambar yang tidak baik, kabar-kabar yang tidak baik, film-film yang menjauhkan kita dari Allah, yang menimpa anak-anak kita, keluarga kita. Bukankah sepantasnya  kita ubah apa yang menjadi kebiasaan mereka, berupa mendengarkan kisah-kisah yang tidak ada artinya, agar kembali mendengarkan kisah Baginda Nabi Muhammad?

Juga kita banyak melihat bagaimana orang-orang dibesarkan oleh media, baik dengan penelitianya, ketenaranya, pangkatnya, lagunya, filmnya, permainan bolanya, sehingga anak-anak kita terpengaruh oleh mereka, mencintai mereka, bahkan sampai seperti orang gila, ingin meniru gaya  mereka. Bukankah hendaknya kita lebih patut mengenalkan kepada mereka tentang sirah Baginda Nabi Muhammad?

Sirah Nabi Muhammad akan mendekatkan kita menjadi orang yang baik, orang yang berakhlak, walupun  sebagian orang mengingkari  sirah nabi Muhammad, sayang sekali. Dan pengajian yang kita adakan ini, dengan bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad, kemudian membaca ilmu-ilmu yang bermanfaat adalah bentuk khidmahnya kita untuk menyebarkan syari’at Nabi Muhammad. Kita berkumpul di tempat  ini dengan satu hati; cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah,  sehingga kita dapat mengikuti Baginda Nabi Muhammad dari zaman ke zaman.



Waktu demi waktu  dengan majelis seperti ini adalah sama seperti wasilah-wasilah yang diadakan  salafunasshaleh. Sehingga dengan wasilah seperti ini banyak orang yang memeluk Islam, baik di Indonesia, Malaysia, India, dan Afrika. Semua itu mereka lakukan, mereka dapati  keislaman mereka berkat majelis-majelis seperti ini, dengan mendengarkan nasihat sehingga mereka  mengikuti dengan benar Baginda Nabi Muhammad.

Negeri ini kedatangan Islam berkat Walisongo yang sampai saat ini disebut-sebut namanya. Mereka menyebarkan Islam pertama dengan hikmah dan mau’idzah hasanah, kemudian dengan menyebarkan kisah-kisah Nabi Muhammad di dalam majelis-majelis mereka, juga menebar kasih sayang di antara mereka. Dengan inilah Islam datang ke negeri Indonesia ini dengan penuh keamanan.

Jika kisah-kisah para wali dan orang-orang shaleh disebutkan ialah sangat baik, lalu bagimana jika yang kita sebutkan adalah kisah Baginda Nabi Muhammad, yang karena beliaulah kita dapat mengenal keutamaan masjid, keutamaan ilmu dan keutamaan Islam? [Zq]

*Sumber: transkrip tausiyah Habib Abu Bakr al-Masyhur di Majelis Rasulullah, Masjid al-Munawwar Pancoran, Jakarta Selatan (www.majelisrasulullah.org)
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang