Nasehat Adab dari Para Ulama Al-Azhar Mesir

10 November 2015

Di zaman ini, ketika umat dilanda kegersangan spiritual, petuah dan nasehat para ulama adalah laksana tuangan segar pelepas dahaga. Terutama di tengah keruwetan perdebatan umat Islam yang tak bosan-bosannya saling tuduh dan tebar kebencian. Belum lagi orang-orang jahil yang dengan entengnya menyalah-nyalahkan ulama terdahulu dan mayoritas kaum muslimin hingga sampai pada taraf menghalalkan darah. Na’udzubillah. Ini dia beberapa nasehat yang berkaitan dengan adab dari para ulama Al-Azhar, Mesir.

Syekh Usamah Al-Azhari
“Kalau ingin menjadi alim, maka seorang murid harus menguasai 12 cabang ilmu agama. Masing-masing cabang harus ditapaki dengan tiga tingkatan; pemula, pertengahan, dan tingkat tinggi. Semuanya harus dipelajari dengan seorang guru dalam sebuah majelis, maka dibutuhkan untuk itu 36 majelis. Supaya matang ilmunya, setiap ilmu dalam setiap tingkatan dipelajari dari tiga guru. Dengan begitu, dibutuhkan untuk menjadi seorang alim 36 dikalikan 3, berarti 108 majelis. Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seorang murid supaya menjadi alim? Dahulu para ulama ada yang menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk setiap tingkatanya.” ~ [Syekh Usamah Al-azhari]

Syekh Yusri Rusdi
“Semua makhluk adalah pintu menuju ridha Allah sekaligus hijab penutup dari rahmat-Nya, tergantung bagaimana kita bermuamalah dengan mereka. Berbaiklah kepada orang lain maka Allah akan berbuat baik kepadamu. Jika kamu berbuat baik, kamu selamanya tidak akan pernah menyesal. Janganlah menyakiti sesama, karena sesungguhnya binatang tidak mau melukai sesamanya. Berkhusnudzonlah, karena jika kamu melupakan kesalahan orang lain, maka kamu akan dilupakan kesalahannya oleh orang lain.” ~ [Syekh Yusri Rusydi]

Syekh Fathi Hijazi
“Jika seorang istri berbuat kesalahan, tutupilah kesalahannya. Jika dia berbicara sedikit keras, diamkanlah sejenak, dengarkan kemudian beri penjelasan dengan halus. Perceraian itu ibarat seorang laki-laki yang bersusah payang membangun sebuah rumah dan mempercantiknya, kemudian dia menghancurkannya dan meratakannya dengan tanah. Pernikahan ibarat membangun rumah, dan mengancurkannya adalah menceraikan istrinya.” ~ [Syekh Fathi Hijazi]

Syekh Thaha Rayyan
“Sesungguhnya menganggap remeh fatwa dan sembarangan dalam memberikan fatwa akan melahirkan generasi dai yang bodoh, yang mana mereka mendatangkan kerusakan pada turas dan fikih Islam. Gurauan fatwa di media massa yang para ulama telah mencegahnya sampai saat ini masih saja terus berlanjut. Fatwa aneh dan payah masih dipakai oleh musuh untuk menjelek-jelekkan agama.  Di sisi lain banyak pemuda tidak merujuk kepada para alim ulama tetapi menjadikan internet sebagai rujukan utama untuk kemudian menyebarkannya. Ini adalah sebuah kekacauan, dan Al-azhar telah berusaha menanggulanginya meskipun belum berhasil secara maksimal.” ~ [Dr. Thaha Rayyan]

Syekh Nasr Farid Wasil
“Para pencari ilmu agama tidak boleh keluar dari jalurnya, karena mereka adalah penjaga agama ini di masa depan. Mereka tidak boleh menganggap remeh dalam mencari ilmu dan harus bersungguh-sungguh selama mereka memilih jalan yang sulit ini. Hal itu karena mereka ‘bergaul’ dengan Allah, dengan kalam-Nya, dan kalam rasul-Nya. Maka tidak boleh bermain-main dan konsentrasi dengan para masyayikh, mengambil ilmu dari mereka, dan mendengarkan petuah-petuah mereka.” ~ [Syekh Nasr Farid Wasil, mantan mufti Mesir]

Syekh Ali Jumah
“Lukman berkata kepada anaknya: Anakku, dunia adalah lautan yang telah banyak orang tenggelam di dalamnya. Jika kamu memiliki kapal iman kepada Allah, isinya adalah ketaatan kepada Allah, dan layarnya adalah tawakkal, maka kamu akan selamat.” ~ [Syekh Ali Jumah]

“Berikan pada ilmu apapun yang kau punya, maka dia (ilmu) akan memberikan kepadamu sebagian darinya.” ~ [Syekh Ali Jumah]

“Mereka yang mengingkari empat mazhab, dikhawatirkan tidak bisa memahami Agama (dengan baik). Apalagi ISIS (dan semacamnya), ia malah tidak mengakui mazhab.” ~ [Syekh Ali Jumah]

Syekh Muhammad al-Ghazali
“Saya mempunyai cita-cita untuk memurnikan sunah nabawiyah dari hal-hal yang mencampurinya, juga menjaga keilmuan dari orang-orang yang menuntut ilmu pada hari Sabtu, kemudian mengajarkannya pada hari Ahad, lalu mengambil gelar professor padah hari Senin, dan hari Selasa mereka berdebat dengan para imam seraya berkata: ‘Nahnu rijal wa hum rijal’ ( kita ulama mereka juga ulama).” ~ [Syekh Muhammad Al-Ghazali]

Syekh Rabi' Al-Azhari
“Ilmu tidak dianggap jika tanpa adab. Karenanya, para murid di masa lalu melayani gurunya selama puluhan tahun untuk belajar adab darinya sebelum menimba ilmunya; belajar dari diamnya sebelum ucapannya. Renungkanlah beberapa ucapan para ulama ini yang menggerakkan kita untuk belajar adab. Imam Al-Zuhri berkata: ‘Kami mendatangi seorang alim. Kami lebih suka belajar adabnya daripada belajar ilmunya.’ Ibrahim bin Habib berkata: ‘Anakku, datangilah para fakih dan ulama, belajarlah dari mereka, ambillah adab, akhlak dan petunjuk dari mereka. Sesungguhnya hal itu lebih aku sukai dari hadits yang banyak.’ Imam Malik dinasihati oleh Ibunya: "Pergilah kamu kepada Rabia, belajarlah adabnya sebelum ilmunya." ~ [Syekh Rabi' Al-Azhari]



“Para pemudi yang saya sayangi, kesopanan bukan hanya dipahami pada pakaian saja; di sana ada tertawa yang sopan, ada cara berjalan yang sopan, ada perilaku yang sopan, dan akhlak yang sopan.” ~ [Syekh Usamah al-Azhari]

Itulah beberapa untai nasehat para ulama yang patut kita resapi. Semoga bisa menjadi penyejuk bagi kegersangan dan sumuknya hawa permusuhan di antara umat hari ini. Semoga bermanfaat. [Zq]

*Sumber: Fanpage Suara Al-Azhar
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang