Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

10 November 2015

Oleh : Turah Untung


“Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru, namamu akan selalu hidup, dalam sanubariku...” (syair lagu Pahlawan tanpa tanda jasa)

Cuplikan lagu tersebut tentu sudah dikenal sejak kita di bangku sekolah dulu. Bahkan seluruh bait lagu serta lirik dihafal benar dan mengerti artinya, namun belum terasa menyentuh hati sanubari. Lirik ini hanya terasa di lisan saja, namun belum masuk dalam hati. Belum menyatu, belum “nyurup” ke dalam sanubari.

Mungkin karena itu, seorang teman guru menyebut dalam suatu kesempatan, “suatu saat kamu akan mengerti”akan agungnya jasa guru dalam kehidupan kita. Mereka para guru menitipkan bekal kepada kita berupa ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge). Nantinya, kita pakai untuk meniti perjalanan hidup kita. Ilmu berguna seperti cadangan air ketika dahaga. Atau, jadi sistem reserve ketika ukuran fuel bensin merah mentok ke kiri, bahkan seperti bom waktu yang siap meledak melahirkan ide-ide brilian.

Memang perlu waktu memahami jasa “sang pahlawan tanpa tanda jasa” ini. Sama lamanya pemahaman kita, seperti saat kesabaran di dalam menuntut ilmu. Makanya, tidaklah kita menjadi heran ketika Imam Ahmad, seorang ulama besar perawi hadits menyebut, “Aku terus mempelajari permasalahan darah haid (tentang hadis darah haid) selama sembilan tahun, sehingga aku memahaminya”. Mungkin masalahnya bukan hanya waktu, tetapi juga perlunya “peristiwa” ini tuntas digali dan tentu atas`kehendak Allah SWT agar ilmu “haid” ini dapat bermetamorfosa menjadi hikmah.

Kembali kita membahas kata guru. Dalam kamus besar bahasa Indonesia dinyatakan guru adalah orang yang pekerjaannya (atau mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Jika dalam Wikipedia, guru berasal dari bahasa sansakerta yang secara harfiah berarti berat, namun dipahami juga dihormati.

Secara umum arti guru merujuk kepada pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik atau muridnya.

Dalam filosofi Jawa, guru dimaknai sanepo digugu lan ditiru , artinya mereka selalu dicontoh dan dipanuti.

Sebaliknya ada juga peribahasa guru kencing berdiri, murid kencing berlari, artinya, apabila ada seorang guru melakukan kesalahan walau sekecil biji sawi, maka murid akan mengikuti berbuat yang salah juga sebesar buah semangka, malahan akan lebih. Peribahasa ini menekankan arti penting guru dalam kehidupan hendanya sebagai contoh yang baik.

guru ngaji


Dalam Islam, guru memiliki beberapa istilah seperti mu’allim, mu’addib, murabbi, muddaris dan mursyid. Istilah – istilah ini memiliki pengertian hampir sama. Mu’allim adalah dari kata dasar “ilmu” yang berarti menangkap hakikat sesuatu. Dalam setiap “ilmu” terdapat dimensi teori dan dimensi amal. Karena itu, guru sebagai pengajar, penyampai ilmu pengetahuan secara teori, tetapi juga harus diselaraskan dengan praktiknya.

Sebagaimana dikandung dalam istilah mu’addib yang kata dasarnya adab, berarti etika dan moral atau juga kemajuan. Konsepsi guru di sini lebih menekankan sebagai pembina moralitas dan akhlak dengan keteladanan. Lain lagi penekanan istilah murabbi berakar dari kata dasar Rabb, yang berarti menumbuhkembangkan, memelihara alam, karena itu guru hendaknya menekankan bagi pengembangan dan pemeliharaan, baik aspek jasmani maupun rohani.

Istilah muddaris berakar kata darasa-yadrusu-darsan wadurusan wadirasatan yang berarti terhapus, hilang bekasnya, menghapus, menjadikan usang, melatih, atau mempelajari.

Dilihat dari pengertian ini, maka tugas  guru adalah berusaha mencerdaskan peserta didik dengan menghilangkan ketidaktahuan atau menghapus kebodohan mereka, serta melatih keterampilan mereka.


Sementara istilah mursyid biasa digunakan untuk  guru dalam Thariqah atau kelompok yang menganut mazhab tertentu. Sedangkan istilah yang umum dipakai dan memiliki cakupan makna luas dan netral adalah ustadz yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “guru”.

Seseorang yang melakukan sesuatu berdasarkan apa yang diyakini. Dan apa yang diyakini tersebut sangat bergantung dari apa yang dia ketahui. Dalam bahasa yang lain; amal perbuatan sangat bergantung pada iman, dan iman bergantung  pula pada ilmu. Betapa penting posisi ilmu, oleh karena itu dalam Islam sangat mengedepankan orang-orang yang berilmu.

Dari Abi Darda, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda”, “Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena ridho (rela) terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang mencari ilmu akan memintakan bagi mereka siapa - siapa yang ada di langit dan di  bumi bahkan ikan-ikan yang ada di air. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama atas seluruh cahaya bintang. Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para Nabi, sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambil bagian untuk mencari ilmu, maka dia sudah mengambil bagian yang besar (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majjah)

Telah bersabda Rasulullah saw, “Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai), atau orang yang belajar, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka (HR. Baihaqi)

Jika kita memahami betapa besar jasa guru kepada kita semua, dan mestilah kita berupaya masuk kedalam keutamaan menjadi guru dalam arti sebenar-benarnya, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-NYA. Dalam sehari-hari setidaknya  menjadi guru bagi anak - anak kita di rumah, guru bagi anak buah, jika kita di kantor dan lain sebagainya. Sebagi bentuk takzim kita, mari doakan para guru kita, barakallahu fiikum. Aamiin Yaa Rabb 


(Turah Untung adalah Staf Pemkot Tegal)
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang