Perjalanan Jiwa Sang Alkemi Kebahagiaan

4 November 2015

Oleh: Zia Ul Haq

Ini bukan film biografi Imam al-Ghazali yang letak kuburnya masih misteri hingga kini. Bukan pula film dokumentasi biografis tentang beliau, bukan. Karena film ini tidak membeberkan data-data historis terperinci tentang tahap-tahap kehidupannya, kolega-koleganya, hingga karya-karyanya, tidak.

Film dokumenter berdurasi 80 menit ini hanya merekam satu sisi dalam kehidupan seorang legenda bernama Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, yakni perjalanan spiritualnya. Film ini berhasil menampilkan dengan apik bagaimana tahap perjalanan jiwa seorang Al-Ghazali, hingga menjadi sosok yang kita kenal saat ini. Film ini, menurutku, juga cukup berenergi untuk menggugah kesadaran yang lama terlelap tentang bagaimana sejatinya sebuah perjalanan sejati.

Diproduseri oleh Ovidio Salazar, film ini menampilkan latar belakang masa kecil Al-Ghazali, perjalanan intelektualnya di berbagai perguruan bergengsi saat itu, kegalauan pemikirannya tentang eksistensi, kecemerlangan karirnya pada masa Nizham al-Mulk, teguran sufistis Ahmad Al-Ghazali adiknya, hingga keputusannya untuk mengembara dalam kesendirian selama 10 tahun.

Film ini menampilkan deskripsi dan dialog serta kutipan-kutipan oobiografis Imam al-Ghzali dari kitab Al-Munqidz min ad-Dhalal. Lebi mantap lagi, film ini juga disisipi anotasi-anotasi mendalam dari para pakar favoritku, di antaranya Syaikh Hamza Yusuf (Zaytuna College), Abdul Hakim Murad (Cambridge University), dan Dr. Hossein Nasr (George Washington University). Maka praktis, kekuatan film dokumenter ini terletak pada sudut pandang sutradara yang ingin menggambarkan betapa manisnya kehidupan spiritual, dan terletak pada narasi kutipan kata-kata Sang Imam.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan mengulas tentang detil film yang berlatar di wilayah Persia (Iran) ini. Saya hanya akan menyajikan beberapa kutipan narasi yang powerful dari film ini. Tentu semuanya adalah hasil saduran dan suntingan dari subtitle berbahasa Indonesia. Terbagi menjadi tiga bagian; (I) Santri (II) Kiai (III) Salik

Sungguh patut kita merasa beruntung dan berterima kasih kepada Imam al-Ghazali atas warisan-warisannya. Berupa karya tulis tentang ‘penelitian’ dan ‘pengalaman’ batin, terutama karya-karyanya tentang adab (disiplin spiritual dan moral) semisal Bidayatul Hidayah hingga Ihya ‘Ulumiddin yang hingga hari ini menjadi semacam petunjuk teknis bagi para ‘salik’ untuk menempuh perjalanan batin. Berikut ini beberapa kutipannya, selamat berkontemplasi.

(I) SANTRI

“Sejak usia mudaku hingga menjelang lima puluh, sampai kini saat aku melebihi lima puluh tahun, aku dengan nekat menerjang ke kedalaman samudera. Aku selalu bertolak menuju laut lepas. Mengesampingkan seluruh rasa cemas, aku menghujam setiap ceruk gelap. Aku telah menggempur setiap masalah. Aku telah menerjuni setiap palung. Aku telah menelaah keyakinan dari setiap aliran. Aku telah berupaya menelanjangi doktrin terdalam dari setiap umat. Semua ini kulakukan agar dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Antara tradisi yang masuk akal dan bid'ah yang munkar.

Kita datang ke dunia ini lalu meninggalkannya, sejauh itu sudah pasti, kurasa. Jalan tempat kita mengarungi dunialah yang perlu kita pahami. Namun pengetahuan seperti ufuk, ia menjauh kala kita kian mendekat, jadi selalu ada kebutuhan untuk tahu lebih banyak. Dari Malibu ke Mekah dan kini Masyhad. Aku tengah mencari jawaban dari filsafat dan agama, dan berpaling ke ajaran Islam.

Mungkin bukan pilihan yang lazim. Terutama jika kau termakan skenario "Benturan Peradaban”. Namun dengan banyak hal terjadi di dunia kini, hal-hal yang kuanggap lumrah kini menjadi dipertanyakan. Bagaimanakah caraku ke esensi masalah ini? Beberapa tahun lalu, aku menemukan tulisan seseorang yang hidup hampir 1000 tahun lalu, yang ajarannya bergaung dalam diriku. Beliau memberikan pengaruh besar pada pemikir di Timur dan Barat, Muslim ataupun Non-Muslim. Hidupnya diabdikan untuk menyelidiki rahasia keperiadaan, dan dengan mengatasi keraguan falsafinya serta mencapai pencerahan spiritual, beliau menjadi teladan bagi pencari kebenaran di mana-mana. Namanya Al-Ghazali. Itulah alasan aku memulai perjalanan ini, untuk tahu lebih banyak tentang hidupnya dan perburuannya akan Realitas Puncak.”

[Ovidio Salazar, opening]

“Semoga para murid meyakini bahwa ia lebih berhutang budi kepada guru daripada kepada ayah. Sebab guru menuntunnya ke kehidupan abadi sementara ayah hanyalah sebab bagi kehidupan fananya.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Gagasan bahwa ‘ayah’ dalam arti guru lebih penting daripada ayah biologis seseorang. Ini tema klasik, dan Plato menulis Sokrates menyatakan ini dalam "Republik”. Apa yang Imam Al-Ghazali tekankan di sini adalah gagasan “keabadian Ilahiah”. Gagasan tentang apa yang pasti dating, tentang apa yang fana dan apa yang abadi. Jadi ini gagasan untuk mempelajari hal-hal yang dibutuhkan seseorang untuk perjalanan abadi ini. Sebab yang diberikan seorang ayah, ia memberimu kehidupan untuk perjalanan duniawi ini. Tapi ia tak memberimu sarana untuk melintasi dunia ini.” [Hamza Yusuf]


Al-Ghazali bersaudara, darwisy tua, dan ayahnya
“Sejak usia dini aku dahaga akan pemahaman segala hal sebagaimana sesungguhnya. Bagiku itu suatu sifat bawaan. Bagian anugerah Tuhan. Sifat alamiah dan bukan pilihan yang sengaja.” [Al-Ghazali]
Komentar:
“Beliau pembaca yang bersemangat. Beliau seseorang yang ingin memahami semua hal. Beliau memiliki selera tak terpuaskan akan pengetahuan. Beliau bahkan berkata soal "Kalam", yakni teologi. Ia bilang tidak menulis apapun soal Ilmu Kalam hingga setelah menghafal 12.000 halaman kajian ahli ilmu kalam besar Islam. Beliau menyerap pengetahuan ini dalam kerangka pemikiran yang jelas berbasiskan konsep Islam "Tauhiid" atau keesaan puncak Tuhan dan bagaimana keesaan itu mewujud melalui keragaman di dunia.” [Hamza Yusuf]

“Pergeseran tradisi serta keyakinan otoritas agama dan turun-temurun tak lagi membelengguku. Sebab kusaksikan sendiri anak-anak Kristen selalu dibesarkan menjadi orang Kristen. Anak-anak Yahudi menjadi Yahudi. Dan anak-anak Muslim, menjadi Muslim. Aku juga mendengar hadis Rasulullah [saw]; Setiap anak terlahir dalam fitrah, orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Kristen, atau Majusi." [Al-Ghazali]

Komentar:
“Fithrah sebenarnya berarti "sifat alamiah." Tapi terkait dengan sifat alamiah asli manusia sebagaimana diciptakan Tuhan. Dan jika ditanyakan apa isinya? Boleh dikatakan; cinta Tuhan dan ibadah kepada Tuhan. Manusia diciptakan untuk itu. Dan ibadah tertinggi atau bentuk ibadah tertinggi adalah mengenal Tuhan (ma'rifah). Dan jika beribadah (mengabdi) kepada Tuhan bagi umat manusia berarti mengenal Tuhan, maka itu meniscayakan Tuhan telah mengaruniai manusia fitrah agar ia bisa mengenal Dia. Pengenalan ini secara alamiah adalah pengenalan atas Yang Dikenal dan yang mengenali. Boleh dibilang bahwa manusia diciptakan untuk ini sejak waktu diciptakan. Itu sebabnya kukatakan sifat alamiah asli (asal). Secara alamiah manusia adalah pengabdi (pelaku ibadah) sebagaimana diciptakan oleh Tuhan.” [Mahmoud Bina]

“Tuhan adalah Perhatian Utama. Jika kita singkirkan Perhatian Utama dari hidup kita, kita pasti mencari gantinya. Ini sifat alamiah manusia. Kita akan mencari ganti untuk mengisi ruang kosong dalam diri itu, sebab manusia sejatinya makhluk yang kopong.” [Hamza Yusuf]

Madrasah
“Dunia selalu berisikan ancaman bahaya. Dan seperti dikatakan Ghazali; ‘Milikmu hanyalah apa-apa yang tak hilang saat kapal karam.’ Jadi apakah kita habiskan saja waktu menonton dari pinggir pantai? Atau meski bahaya, tetap berlayar, mencari pengetahuan yang lebih dalam. Yang tak bisa ditemukan hanya dalam buku-buku.” [Ovidio Salazar]

“Dalam mimpi, kita yakin apa yang kita lihat nyata. Namun saat terbangun, kita tahu apa yang kita anggap fakta lugas ternyata ilusi. Jadi bukti apa yang bisa diberikan teologi atau filsafat, yang menjamin indra kita tak mengelabui kita? Kendati semua pengetahuan yang kudapatkan, aku masih tak bisa menuntaskan masalah sederhana dan mendasar ini. Pergulatan berkobar antara hati dan kepalaku. Dan akhirnya aku jatuh sakit. Itu masa yang membingungkan. Sakit itu berlangsung 2 bulan. Akhirnya, Tuhan mengobatiku. Kutemukan diriku kembali sehat dan seimbang. Sekali lagi aku mampu menerima kebenaran yang perlu bagi akal saat pulih keyakinanku akan sifatnya yang pasti, dan andal. Ini tak datang lewat pemaparan sistematis atau argumen runtut. Tapi lewat cahaya yang dihempaskan Tuhan ke dadaku. Cahaya itu adalah kunci ke pengetahuan yang lebih luas.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Di masa Imam Al-Ghazali, otoritas tengah dipertanyakan. Siapa memiliki wewenang akhir? Kaum beragama tak mengakui otoritas sekular. Dan para fanatik agamis mulai membunuhi mereka yang dianggap merintangi jalan mereka untuk mencapai suatu dominasi keagamaan. Di masanya kekisruhan meraja. Kekisruhan ada di mana-mana. Dan kurasa mayoritas kita akan setuju, di dunia modern, bahwa kita hidup di masa yang sangat gamang, sulit. Masa di mana segala sesuatu dipertanyakan. Dan tak ada yang melihat cahaya terang. Dan kurasa beliau berada di masa seperti ini. Dan itu sebabnya beliau sangat luar biasa.” [Hamza Yusuf]


Pesulap pasar dengan tongkat-ularnya
“Mereka yang mendengar seseorang berkata, "Tiada tuhan selain Allah dan 'Isa adalah rasul-Nya" dan tetap menganggapnya kafir sebab ia Kristen, adalah jahil. Bahaya muncul dari mereka yang kurang pengetahuan. Mereka yakin bahkan argumen masuk akal yang ditulis para filsuf, hanya karena ditulis oleh para filsuf, maka mesti ditolak. Tak peduli dari mana atau siapa mereka mendengar argumen ini. Karena tak memiliki cahaya pengetahuan, mereka tolak. Kepicikan dan kurangnya pengetahuan membuat mereka menolak segala argumen. Jika karena itu kalian menganggapnya kafir, maka menolak hal-hal benar yang ia katakan, itu salah dan zalim.” [Al-Ghazali]
Komentar:
“Ghazali berulang kali menyampaikan bahwa tabir utama yang menghalangi manusia menyaksikan Tuhan adalah fanatisme agama. Beliau menyatakan tak jadi masalah mana mazhab hukum yang kalian ikuti. Ada banyak pandangan akidah berbeda yang sah untuk diikuti. Upayakan menjadi ortodoks. Bahkan, perlu untuk menjadi ortodoks, tapi apapun yang kau pilih, jangan jadikan itu fanatisme ekstrim. Hingga agama sekadar jadi alat untuk merasa lebih unggul daripada yang lain. Hingga menabirimu dari Tuhan. Muslim yang jahil lebih berbahaya daripada orang kafir. Hanya orang jahil yang menerima kebenaran karena siapa yang mengucapkan, bukan apa yang diucapkan.” [Ovidio Salazar]

“Nizham al-Mulk menemukan dalam diri beliau sosok yang memiliki kekuatan dan tak hanya memberikan legitimasi pada tradisi Islam sebagai tradisi pengikat yang universal, dan bukan sebagai sektarianisme yang akan berbelah menjadi banyak kelompok. Beliau memberikan pondasi bagi penerimaan otoritas negara. Bukan sebagai semacam penggunaan agama sebagai candu, tapi sebagai penyadaran bahwa itu demi manfaat bagi para warga negara sendiri, bahwa anarki itu cara yang celaka untuk hidup.” [Hamza Yusuf]

“Orang yang dikejar singa ganas takkan peduli apakah ditolong orang asing atau orang terkenal. Jadi kenapa orang mencari pengetahuan dari para pesohor? Dan apa jadinya bila si pesohor ikut meyakini keterkenalannya sendiri?” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Ilmu Kalam (teologi) adalah ‘rock and roll’ di masa itu dan Ghazali superstar-nya. Memikat ratusan murid yang berkerumun mendengarnya mengulas masalah akidah dan fiqh. Ada banyak bukti bahwa prestasi luar biasa Ghazali di universitas di masanya membuatnya besar kepala. Beliau mengajar dari mimbar masjid paling istimewa, paling agung di dunia Islam, dengan semua teks hebat peradaban Yunani dan Islam dalam jangkauannya. Menulis buku-buku yang laris keras di lingkaran ulama dan jelas-jelas mengubah arah pemikiran Islam. Dengan ratusan murid cerdas di penjuru dunia Islam mengarungi ribuan kilo untuk duduk di kelasnya.” [Abdul Hakim Murad]

Bersama para murid
(II) KIAI

“Segala yang kutahu perihal ajaran Ilahi kini dapat diungkapkan apa adanya kepada para murid yang dahaga akan tuntunan. Tinggalkan penjara para pembuat kerusakan, walau badai atau hujan. Tinggalkan kawananmu. Tinggalkanlah wahai saudara-saudaraku, kita semua akan Dipanggil Kembali.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Beliau dengan demikian menuduh kepemimpinan mapan dunia Islam masa itu terjangkiti semacam kesadaran palsu. Beliau menyuarakannya dalam debat publik yang hebat dan berdalil kuat di depan sultan, menggemuruh dari atas mimbar, atau jamaah kecil, bahwa ada suatu jenis kemunafikan. Bahwa mereka tak mengamalkan yang mereka dakwahkan. Dalam dahaga, meski di tengah kecemerlangan nalar dan hati, kata beliau, tetap gelap dan membusuk. Dan beliau melihat itu sebagai tantangan mendasar yang mengancam jati diri Islam. Beliau melihat ini akan berakibat politis yang berbahaya. Beliau melihat ini berefek pada kredibilitas. Beliau menunjuk pertama dan terutama pada dirinya. Dan tentu saja inilah persoalan krisis dirinya. Beliau curiga, ia tak mengamalkan apa yang ia ajarkan.” [Abdul Hakim Murad]

“Kita hidup di masa seperti masa beliau. Saat agama mandek. Agama sekadar pelajaran. Agama menjadi praktek hampa, perdebatan, debat kusir di antara santri. Imam Al-Ghazali, saya rasa, dari semua prestasinya, dan ini bisa dilihat dalam otobiografinya, satu hal yang ingin beliau lakukan adalah, 'Mari kita akhiri debat demi debat'." [Hamza Yusuf]

“Aku tertekan dengan yang terjadi di ibu kota imperium. Kuputuskan berterus terang. Dan kukutuk kemunafikan di sekeliling Khalifah. Aku kritis kepada ulama dan pemimpin politik. Aku bertekad mengungkap seluruh kebenaran.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Beliau benar-benar menyadari penyakit spiritual, hasrat dari ego dan diri untuk mengalahkan lawan. Dan beliau ingin kembali ke yang lebih murni dan bukan; ‘Aku berkubu pada pandangan, agenda, posisi politik-ku dan tak mengakui lawan bicaraku.’ Tapi untuk menyadari bahwa; ‘Lawanku dan aku harus, bersama-sama, dalam pencarian kebenaran. Dan jika kita bedua dalam pencarian kebenaran, kita bisa bicara. Tapi jika kita mencari keagungan diri, jika kita mencari suatu, pengalaman pemuas ego dari mengungguli lawan debat maka kita dalam kesia-siaan.’ Dan karena beliau sosok yang bisa memenangkan debat apapun, beliau menyadari betapa pentingnya bahwa ego jangan dijadikan tujuan. Ego mesti dikesampingkan agar debat menghasilkan buah bermanfaat.”[Hamza Yusuf]

Sang Guru Besar
“Kendati suksesku, kekayaan, dan statusku, keraguanku kembali. Bukan pada imanku, tapi caraku menjalani hidup.” [Al-Ghazali]
Komentar:
“Kurasa yang terjadi pada Imam Al-Ghazali adalah beliau ingin menjadi apa adanya. Dan kurasa beliau menyadari betapa palsunya dia. Sesuatu yang di Barat kita sebut ‘personality’ (kepribadian), yang berasal dari kata Romawi ‘persona’ yang berarti ‘topeng’. Beliau menyadari bahwa kepribadian itu, entah bagaimana, bersembunyi di balik sesuatu. Dan kurasa yang terjadi adalah beliau menyadari kepribadiannya itu. Beliau menyadari topengnya, penampakan luar yang ia tebarkan kepada dunia sebagai ‘anak ajaib’, ‘si jenius’, ‘pendebat cemerlang’. Dan beliau sadar bahwa ‘ini tak mungkin aku’, sebab beliau menyadari betapa mengerikan ‘orang itu’.” [Hamza Yusuf]

“Kau uluri mereka tangan padahal mereka enggan, dan kau sendiri tertinggal di belakang, sementara mereka di depan. Kau mengambil peranan penuntun, tapi kau enggan dituntun. Kau berdakwah, tapi tak mau didakwahi. Wahai batu asah, sampai kapan kau menajamkan besi, tapi kau sendiri tak kunjung tajam?” [Ahmad Al-Ghazali, sang adik]

Komentar:
“Dikelilingi kekayaan materi melimpah. Kemungkinan ketulusan, kespiritualan dan kualitas kelapangan dari Islam-nya Ahmad al-Ghazali (adiknya) menjadi semacam kebalikan dari akidah sistematis, berbasis buku teks yang dihayati Al-Ghazali dan ia ajarkan di masjid-masjid. Bisa jadi akhirnya teladan Ahmad-lah sosok yang menguak masalah makna kehidupan melalui cinta Ilahi dan pengalaman daripada penjagalan logika, menjadi pemicu yang akhirnya memulai krisis itu.” [Abdul Hakim Murad]

“Beliau akhirnya menyadari bahwa semua pengetahuan intelektual ini ternyata kejahilan yang sangat, sangat samar. Dan sebab ia jahil pada hal paling penting, yakni dirinya. Beliau menyadari, ‘Waktuku terbatas’. Mayoritas kita tak mau memikirkan itu. Bahwa tak ada jaminan tentang hari esok. Beliau benar-benar pada titik di mana, beliau sadar, ‘Aku fana, aku akan mati. Sudahkan kupersiapkan perjalanan itu?’ Dan ini satu-satunya krisis yang bermakna bagi seorang manusia. Jadi beliau, sungguh, dalam krisis keperiadaan, keadaan manusia, yang semuanya fana.” [Hamza Yusuf]

“Tuhan membuat lidahku kelu hingga aku tak bisa mengajar. Tiap hari kucoba keras mengajar, demi menyenangkan para murid. Tapi lidahku tak mau mengucapkan sepatah katapun. Atau menyampaikan apapun.” [Al-Ghazali]

“Bagi orang yang ternama karena lidahnya, diambil lidahnya sama dengan diambil keternamaannya. Beliau kehilangan segalanya lewat ketakmampuannya bicara.” [Hamza Yusuf]

“Krisis tak dimulai secara fisik seperti depresi, dalam peristilahan modern. Itu dimulai dengan krisis mental, intelektual dan bertahap merembesi realitas psikologis dan psikosomatik (kekalutan) bagi jiwa dan raga, begitulah. Dan itu menerpurukkan, dan pelan-pelan merusak waktu makan, selera makan, tidurnya, dan iapun jatuh sakit.”[Hossein Nasr]


"Bukan tubuhnya yang sakit, tapi jiwanya," kata para tabib.
“Kuteliti niatku dan kusadari kiprahku tak digerakkan hasrat murni akan Tuhan. Alih-alih, aku didorong hasrat akan jabatan berpengaruh dan puja-puji masyarakat. Kuyakini bahwa aku di tepi onggokan pasir yang runtuh dan di dekat bahaya api neraka, kecuali aku mengubah jalan hidupku. Kutahu bahwa jalan Shufi menggabung keyakinan nalar dan amalan nyata. Amalan itu berbentuk menggilas aral dalam jiwa dan memupus habis sifat rendah dan moral kejinya. Agar hati bisa mencapai kebebasan dari apapun selain Tuhan. Keyakinan nalar itu lebih mudah. Tapi menjadi jelas bagiku bahwa hal paling menyolok dalam tashawuf tak bisa dipahami hanya dengan membacanya. Tapi hanya dari pengalaman langsung melalui ekstase dan hijrah moral. Para Shufi bukan kaum kata-kata, tapi pengalaman. Tiada asaku bagi hari kemudian, kecuali aku menjalani hidup yang sadar-Ilahi dan menarik diri dari nafsu sia-sia.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Tokoh besar agama mengubah masyarakat dengan teladan mereka, juga dengan apa yang mereka katakan. Dan akan ideal untuk menyaluti pengaruh Ghazali cukup dengan kecemerlangan dan kejernihan buku-buku yang beliau tinggalkan. Beliau dipuji sebagai sangat jelas seseorang yang menjalani realitas Islam dan tashawuf, spiritualitas Islami. Sebagai seseorang yang berada pada jalur untuk menjadi seorang wali.” [Abdul Hakim Murad]

“Aku bisa melakukan hal yang tak bisa dilakukan para dokterku. Menyembuhkan diri. Namun obatnya jelas. Aku harus meninggalkan segalanya. Jabatanku. Ketenaranku. Rumahku. Dan keluargaku.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Beliau melakukan hal yang menjadikan Ghazali itu Ghazali seperti yang kita bicarakan, 900 tahun kemudian. Yakni beliau meninggalkan jabatannya, kekayaannya, keluarganya, dunia, lalu menghilang. Beliau pergi dari semua kehidupan yang sangat sukses dekat dengan Khalifah, di ibu kota Islam, serba cukup, sangat terkenal, beliau tinggalkan semua demi menemukan keyakinan. Demi jujur kepada dirinya sendiri. Dan memahami hakikat dari Realitas Ilahiah (Al-Haqq).” [Hossein Nasr]

“Kudermakan kekayaanku, hanya menyisakan yang cukup bagiku dan nafkah bagi keluargaku. Dan berharap tak pernah pulang ke Baghdad.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Saat memulai perjalanan batin dalam jiwa, akan sangat baik untuk juga memulai perjalanan lahiriah, di dunia luas sana. Bukan seperti turisme modern di mana kau berkelana memuaskan hati tak memikirkan apakah akan kembali menjadi lebih baik atau tidak, setelah menghamburkan ribuan dolar dan merusak iklim serta lingkungan. Sama sekali bukan begitu. Tapi saat seseorang berkelana dengan kesadaran bahwa rumahnya bukan di jalan tertentu dan tak menghuni tempat tertentu, kecuali dalam Tuhan. Perjalanan sejati, secara spiritual bermakna demikian. Jadi perjalanan lahiriah dipandang menjadi sangat mendukung perjalanan batin.” [Hossein Nasr]


(III) SALIK

“Secara luas, aku menyatakan aku berniat berhaji ke Makkah tapi diam-diam aku menuju Suriah. Aku melakukan ini berjaga-jaga khawatir khalifah dan kolegaku menghalangiku pergi. Aku tinggal di Damaskus 2 tahun, tak melakukan apapun selain membina ketawakalan dan khalwah (menyendiri). Aku pun berkhalwah di masjid Umayyah. Mendiami menara masjid sepanjang hari. Menutup diriku, agar bisa sendirian.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Satu hal soal jalan Shufi atau pengalaman langsung akan Realitas (Al-Haqq) adalah bagi Imam Al-Ghazali, itu adalah sains. Sebab di akar sains -dan ini dikenal luas di dunia Muslim di masanya yang kemudian beralih dari Muslim ke Barat- akar sains adalah kemampuan untuk mengulang percobaan. Jika percobaan bisa diulang, maka kita dapatkan kesimpulan ilmiah. Beliau ingin tahu apakah ini, pengalaman-pengalaman yang diklaim banyak pihak ini, ‘jika kujalani jalan ini -dan beliau adalah ilmuwan eksperimental- bisakah kuulangi pengalaman itu?’ Dan ternyata beliau berhasil. Dan itulah cara beliau menjadi yakin akan itu.” [Hamza Yusuf]

“Selama masa pengasingan ini disingkapkan kepadaku hal-hal tiada hingga dan tak terukur. Hanya itu yang bisa kukatakan agar yang lain bisa memahami. Kutemukan dengan yakin bahwa di atas semua, para Shufi yang meniti jalan Ilahi. Hidup mereka hidup terbaik. Cara mereka cara paling masuk akal. Sifat mereka sifat paling murni.” [Al-Ghazali]

Komentar:
“Al-Ghazali, akhirnya, memang pulang ke kota metropolitan besar Islam. Tapi inti dari semua kisah ini bagi Muslim, tentu saja bahwa beliau kembali ke ortodoksi tapi dengan perspektif baru. Visi beliau adalah saripati Islam, adalah pengalaman (amalan). Sesuatu yang beliau sebut ‘dzauq’, ‘menyicipi’ hakikat-hakikat di balik tabir keperiadaan fisik. Itulah argumen nyata bagi agama (Islam). Dan itu tak muncul melalui ulasan sistematis metafisika (alam gaib). Itu muncul lewat mengingat Tuhan, memurnikan niat, memurnikan hati, dan mencoba membuka diri kepada curahan dari Atas (‘ladunni’).” [Abdul Hakim Murad]


Pengasingan diri untuk mengalahkan 'diri'
“Hari kemudian mendekat dan dunia ini berlalu. Perjalanannya panjang tapi perbekalan minim, dan bahaya demikian dahsyat." [Al-Ghazali]

Komentar:
“Setelah memulai perjalanan ini agar lebih mengenal Ghazali, sambil meluruhkan keraguanku sendiri. Aku tersadarkan bahwa keyakinan pengetahuan terletak pada ‘mencicipi’. Meski tak mencapai keyakinan setingkat Ghazali, setidaknya aku mulai mengerti apa yang kubutuhkan di jalan ini.” [Ovidio Salazar]

“Senin, (18 Des 1111) kakakku Abu Hamid Muhammad bangun. Saat subuh datang ia bershalat, dan bersiap bagi kematiannya. Ia memintaku membawakan kain kafannya, dan kupenuhi.” [Ahmad Al-Ghazali, sang adik]

“Katakan kepada teman-temanku saat menyaksikanku mati, menangis dan berduka dalam kesedihan; Jangan percaya bahwa mayat yang kalian lihat ini diriku, demi Tuhan, kukatakan, itu bukan aku. Aku adalah ruh dan ini hanyalah daging. Itu kediaman dan busana untuk sementara waktu, tapi aku kini demikian, juga kalian nanti, sebab kutahu bahwa kau, sebagaimana aku, jiwa seluruh umat manusia, berasal dari Tuhan. Jasad kita semua bersenyawa sama, baik atau buruk perangai kita sama, itulah kita. Kusampaikan kabar gembira, 'Semoga salam serta kasih Ilahi selamanya bagimu'.” [Al-Ghazali]



Sang Pejalan Sejati
Lahu al-Faatihah.
Jogja, Sumpah Pemuda 2015
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang