Sayyidati Fatimah Az Zahra

5 November 2015

Allah swt memerintahkan Rasul-Nya supaya berhijrah meninggalkan Makkah menuju Madinah. Di Madinah, siti Fatimah tinggal serumah dengan ayahandanya. Sebuah rumah yang sangat sederhana, di tanah islam yang baru. Disana ia menikmati asuhan, perlindungan dan kecintaan ayahandanya.

Yang disebut “rumah” itu tidak lebih dari beberapa ruangan (kamar) sederhana menghadap ke halaman masjid. Bagian-bagiannya ada yang terbuat dari batu-batu bata yang di susun dengan perekat tanah dan ada pula yang terbuat dari batang serta pelepah kurma. Bagian atapnya terbuat dari  pelepah kurma yang tersusun sedemikian rupa. Adapun tingginya-sebagaiamana yang dikatakan al-Hasan bin ali r.a., “ Ketika aku masih muda remaja setiap masuk kedalam, aku dapat memegang atapnya”. Perkakas yang ada di dalamnya sangat sederhana, kasar dan di bawah standar. Tempat tidur beliau terbuat dari kayu yang diperlunak sedikit dengan “kasur” terbuat dari serabut (Ijuk) pohon kurma.

Istri ayahandanya, yaitu siti Aisyah sendiri pernah menceritakan betapa istimewanya hubungan anatara Rasulullah saw dengan putrid kesayangannya itu. Berkata siti Aisyah “ Aku tak pernah menyaksikan ada orang selain Siti Fatimah, yang baik waktu berdiri maupun waktu duduk, lebih menyerupai Rasulullah saw dalam hal ketenangannya, kebaikan perilakunya dan pembicaraannya. Apabila Siti Fatimah datang kepada Rasulullah saw, beliau berdiri menyambutnya, kemudian dicium dan dipersilahkan duduk di tempat duduk Beliau. Apabila Rasulullah saw datang kepada Fatimah, puterinya itu berdiri dari tempat duduknya kemudian mencium dan mempersilahkan ayahnya untuk duduk di tempatnya.

Itulah siti Fatimah Azzahra, seorang remaja putrid yang memiliki kemuliaan, kecantikan, keluhuran dan keanggunan, hidup dibawah naungan langsung ayahandanya. Semua pandangan mata terarah padanya. Diantara para sahabat Rasulullah saw banyak yang ingin mendapat keberuntungan menjadi teman hidup Siti Fatimah, agar memperoleh kemuliaan dari hubungan kekeluargaan dengan ayahandanya.

Siti Fatimah memang merupakan wanita yang paling tinggi kemuliannya, agamanya dan kedudukannya. Rasulullah saw sendiri pernah berkata kepada puterinya: “ Hai Fatimah, sesungguhnya Allah marah karena kemarahanmu dan Ridho karena keridhoanmu”.

Pada suatu kesempatan beliau member tahu bahwa puterinya itu adalah wanita yang paling terkemuka dan paling baik. “ Apakah engkau tidak puas menjadi wanita paling terkemuka di antara semua wanita kaum muslimin atau wanita yang paling terkemuka di kalangan ummat ini?” Sabda Rasulullah.

Dalam kesempatan lain Nabi Muhammad saw pernah mengatakan kepada kaum muslimin bahwa: “ Wanita-wanita penghuni surga yang paling mulia ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah Binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun”.

Jadi kalau Siti Fatimah seorang wanita yang sedemikian tinggi martabat dan kedudukannya di kalangan keluarga Nubuwah, siapa diantara para sahabat terkemuka atau kaum Muslimin yang terpandang yang tidak ingin memperoleh kemulian menjadi teman hidup Siti Fatimah dan menjadi menantu Rasulullah saw ?   [Syofwandi Akhmad]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang