Sempurna Wudhu’mu, Bercahaya Wajahmu

22 November 2015

Oleh: Habib Munzir al-Musawa

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari bahwa Rasulullah sangat membanggakan umatnya, “Inna ummati yud’auna yaumal qiyamah Ghurran muhajjilin” (sungguh umatku di hari kiamat terang benderang wajah mereka itu). “famanisthatha’uu an yuthiila ghurratahu falyaf’al” demikian riwayat Shahih Bukhari. Maka kalian, kata Rasul “Yang mempunyai kemampuan maka luaskan anggota wudhu (wajah, tangan, kaki).”
berwudlu
Maksudnya, saat membasuh wajah jangan di wajah saja namun diteruskan sampai lewat leher sampai ke telinga dan airnya diperluas. Disaat membasuh tangan dipanjangkan sampai diatas siku, itu bukan mubazir, itu adalah ghurran muhajjilin. Panjangkan sampai melewati siku, demikian juga membasuh kaki panjangkan sampai diatas pertengahan antara lutut dan mata kaki (tengah tengahnya) jadi sampai betis panjangkan itu air.
Itu kenapa? itu membuat anggota tubuh kita terang benderang di yaumal qiyamah. Rasulullah membanggakan umatnya, anggota wudhu mereka terang benderang bercahaya. Dikenangnya umat Nabi Muhammad dengan anggota wudhunya yang diberi cahaya oleh Allah. Dan membasuh rambut, basuh seluruh bagian rambut sampai seluruhnya dan demikian pula telinga. Sempurnakan wudhu kita kalau kita berwudhu. Ini salah satu dari wasiat Nabi kita Muhammad.



Demikian pula diriwayatkan didalam Shahih Bukhari bahwa Sayyidina Utsman radiyallahu anhum berwudhu menghadap kiblat lantas beliau berwudhu dengan tenang dan dinikmati lalu melakukan shalat sunnah 2 rakaat. Setelah itu ditanya oleh sahabat lain, “Kau ini berbuat begini kenapa wahai khalifah Amirul Mukminin? Apakah Rasul saw mengajarkan begini?”

Sayyidina Utsman berkata, “Rasulullah berkata barangsiapa yang berwudhu dengan sebaik-baiknya, ia perindah wudhunya, perlahan-lahan, tidak terburu-buru, menghadap kiblat, menutup aurat, dalam keadaan seperti itu lalu ia shalat sunnah 2 rakaat tanpa berkata-kata dari mulai berwudhu sampai shalatnya usahakan tidak banyak bicara maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” Demikian dikatakan Sayyidina Ustman bin Affan radiyallahu anhu. [Zq] 

*Sumber: transkrip kajian Shahih Bukhari bersama almarhum Habib Munzir al-Musawa (www.majelisrasulullah.org)
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang