Tuhan Kalian di Bawah Telapak Kakiku!

22 November 2015

Oleh: Yaser Muhammad Arafat

Waktu itu Syeikhul Akbar Ibnu Arabi belanja ke pasar. Banyak orang bertransaksi. Di ujung pasar, sekawanan preman lagi duduk-duduk minum arak, memerli perempuan, berjudi, dan menghardik pedagang yang gak mau bayar uang keamanan. Waktu mereka tahu Syeikh Ibnu Arabi lewat, mereka mencemooh dengan pertanyaan;

"Wahai syeikh, di mana Tuhan berada, Syeikh?" Syeikh Ibnu Arabi langsung menjawab dengan wajah yang teduh, "Tuhan yang kalian sembah itu, ada di bawah kakiku!" Berulang-ulang.
Syaikhul Akbar Ibnu Arabi
Para preman tiba-tiba menyemburkan arak, melotot, tersentak. Yang jongkok tiba-tiba berdiri. Mereka marah-marah. Walaupun tiap hari kerjaannya cuma mabuk-mabukan, tapi mereka ini preman religius. Kalau mereka kira ada yang menghina agama, mereka gak segan-segan main golok, pedang, parang, dan beraninya keroyokan. Itulah yang terjadi waktu itu. Syeikh Ibnu Arabi tiba-tiba dikeroyok. Dipukuli, ditunjangi, dibacoki. Mungkin persis kayak yang dialami sama almarhum Pak Salim Kancil dan Pak Tosan di Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Sebenarnya Syeikh Ibnu Arabi itu bisa aja membela diri supaya para preman itu gagal nyerang. Mungkin dengan pake aji lembu sekilan, misalnya. Cuma, Sang Syeikh tahu apa yang harus terjadi dan apa yang harus tidak terjadi. Dalam kasyf-nya, yang terjadi adalah bahwa ia harus disiksa dan dikeroyok oleh para preman. Memang, dia punya otoritas untuk mengubah apa yang tertulis dalam kasyf-nya itu. Cuman, sebagai hamba yang baik, gak baik 'ngalahkan' kehendak Tuhan dan 'memenangkan' kehendak sendiri. Alhasil, Syeikh Ibnu Arabi tumbang.

Setelah beberapa orang melerai, akhirnya sang syeikh dibawa pulang. Cerita punya cerita, gak berapa lama setelah kejadian itu, Sang Syeikh beristirahat dengan tenang. Ia menemui Tuhan. Dalam kematian yang hidup, indah, dan tenang. Namun, entah gimana ceritanya, seseorang atau sekelompok orang gak terima begitu aja perkataan Syeikh di atas, yang berbunyi, "Tuhan yang kau sembah itu, ada di bawah kakiku!"



Bagi mereka, pasti ada makna di balik ucapan itu. Mana mungkin sang quthb ma'rifat melisankan hal-hal yang tiada makna.

Lantas, entah siapa yang memulai, orang-orang yang gak terima tadi sepakat menggali tempat kejadian perkara (TKP) pengeroyokan atau tepatnya, bekas telapak kaki waktu Sang Syeikh berfatwa tentang tuhan yang ada di bawah kakinya. Baru beberapa sentimeter menggali, rupanya cangkul mereka membentur benda keras. Setelah diperiksa, terungkaplah bahwa ternyata benda keras itu adalah kepingan-kepingan uang emas. Seluruh negeri geger. Mungkin orang-orang di pasar malah ada yang tiba-tiba beser.

Rupanya benar. Bahwa 'tuhan' para preman dan ‘tuhan’ orang-orang pasar betul-betul ada di bawah kaki Syeikhul Akbar.
 

*Sumber: FB Yaser Muhammad Arafat
Share on :

3 comments:

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang