Dua Kiai Unik dari Nusantara Menurut Mbah Maimun

17 December 2015

Beberapa tahun lalu, saat haflah akhirussanah Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyi'in Paculgowang Jombang, KH Maemoen Zubair di sela tausyiahnya menuturkan bahwa di Nusantara ini ada beberapa ulama yang beliau kagumi. Bukan semata-mata karena kealimannya,tetapi juga karena keunikanya. Yakni Kiai Ihsan bin Dahlan dari Jampes (Kediri), dan Kiai Ahmad Abul Fadhol dari Senori (Tuban).

Pertama, Mbah Ihsan Jampes.


Suatu saat Mbah Maimun diajak abahnya (KH Zubair Dahlan) silaturrahmi ke Jampes untuk tabarruk dan mengenal lebih dekat sosok Mbah Ihsan. Melihat kitab Sirojuttolibin karangan beliau yang begitu mendunia dan dikagumi banyak ulama Nusantara hingga mancanegara, tentulah beliau sebagai penulisnya juga seorang kiai yang sangat mahir bebahasa Arab.
KH Ihsan Dahlan Jampes


Karena itu tanpa sungkan-sungkan Mbah Zubair langsung memulai perbincangan dengan berbahasa Arab. Tetapi Mbah Ihsan selalu menyahutinya dengan bahasa jawa, “Nggeh, nggeh Yai..”

Setelah lewat beberapa pembicaraan, barulah Mbah Ihsan berkata, “Ngapunten Yai, ngagem boso Jawi mawon, kulo niku saget maham kitab-kitab, nanging kulo mboten saget ngendikan boso Arab. (Maaf Yai, pakai bahasa Jawa saja dialognya, saya itu bisa memaham kitab-kitab berbahasa Arab, tetapi saya tidak mahir dialog berbahasa Arab)”

Unik memang pengakuan beliau itu, sesuatu yang unik bagi seorang ulama yang punya karya sekaliber karya beliau. Walau tidak menutup kemungkinan bahwa pengakuan itu hanyalah ungkapan tawadlu' beliau.

Konon, Kiai Jazuli Utsman (Ploso, Kediri) pun sempat heran melihat apa yang ada pada diri Mbah Ihsan ini. Saat beliau berdua sama-sama mbalah kitab (memberikan pengajian dengan membacakan kitab tertentu) di Masjidil Haram. Kiai Jazuli disamping dikenal akan keluasan ilmunya, juga sangat fasih lisannya, uraian-uraian beliau yang luas dan menarik serta mudah dipahami membuat orang tidak pernah bosan mendengarkan pengajiannya. Tetapi meski demikian, yang mengikuti pengajian beliau selalu tidak sebanyak orang yang mengikuti pengajian Mbah Ihsan, padahal Mbah Ihsan hanya membacanya saja dengan ma'na ala Jawa, dan jarang sekali menguraikan atau menjabarkannya.

Kedua, Mbah Abul Fadhol Senori.


Karya-karya beliau menunjukkan betapa luas perbendaharan kosa kata bahasa arab beliau. Mbah Maimun menyebut beliau ‘Sang Kamus Berjalan’. Susunan dan untaian bahasanya indah menawan, makna mendalam, serta dzauq (intuisi) bahasa Arabnya yang terasa kuat mengakar. Seakan beliau seperti ulama yang sudah puluhan tahun mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Padahal, jangankan bermukim di Arab, pergi haji saja beliau belum sempat, mondokpun hanya di Tebuireng Jombang, itupun juga tidak lebih dari 7 bulan.
KH Ahmad Abul Fadhol


Mendengar cerita Mbah Maimun bahwa Mbah Fadlol belum sempat menjalankan ibadah haji tentu semakin menambah keunikan beliau, mungkin karena beliau memang belum termasuk orang yang sudah berkewajiban menjalankan ibadah haji. Andai beliau menginginkannya, tentu masyarakat sekitar atau orang-orang kaya yang mengenal beliau akan berebut membantunya. Tetapi beliau bukanlah tipe orang yg memaksakan menjalankan sebuah ibadah yang belum menjadi sebuah tuntutan dalam dirinya, baik tuntutan wajib ataupun sunah, karena cara yang demikian itu tentu akan bisa mengurangi nilai keikhlasan dalam menjalankannya.

Dalam sejarah ulama-ulama kita dahulu, ternyata ada yang lebih unik lagi ketimbang cerita itu. Al-Qodli ibn Hani' berkisah:

امامان ما اتفق لهما الحج، ابو اسحاق الشيرازي وقاضي القضاة ابو عبد الله الدامغان، اما ابو اسحاق فكان ففيرا، ولو اراده لحملوه على الاعناق، والاخرلو اراده لأمكنه على السندس والاستبرق.

“Ada dua Imam besar yang belum sempat menjalankan ibadah haji, yaitu imam Abu Ishaq as-Syiroziy dan qodli qudlot (gelar hakim tertinggi) Abu Abdillah Ad-Damighoni. Imam Abu Ishaq lantaran pilihan hidup beliau sebagai orang miskin, andai beliau mau, pastilah penduduk kota Baghdad tempat beliau menetap akan berebut memberangkatkannya. Sedangkan Imam Abu Abdillah lantaran kesibukannya sebagai hakim tertinggi yang tidak memberinya kesempatan untuk menunaikannya.”

Padahal Imam Abu Ishaq di dalam kitab Al-Muhadzab-nya demikian luas dan detail menjabarkan ritual ibadah haji, jauh lebih lengkap dibanding buku-buku panduan haji milik KBIH manapun, bak seorang yg sudah puluhan kali menjalankan ibadah haji. Dalam menjelaskan tempat-tempat bersejarah di tanah Haram pun demikian gambling. Seakan beliau melihat langsung tempat-tempat itu dan memang begitulah adanya. Dalam kitab Karomatul Auliya disebutkankan bahwa di antara karomah beliau; bisa melihat langsung Masjidil Haram dan Ka'bahnya dari kediaman beliau di Baghdad.

Melihat kelebihan dan keutaman beliau-beliau semua, tidak menutup kemungkinan jika beliau-beliau sebenarnya sudah menunaikan ibadah haji meski tidak melalui cara-cara yang biasa ditempuh oleh manusia pada umumnya, walau secara lahiriah mereka terlihat belum melakukannya. Atau paling tidak, beliau-beliau itu semua sudah dicatat oleh Allah swt sebagai hamba-hamba yang sudah menjalankan ibadah haji yang jauh melebihi derajat orang-orang yang sudah berulang kali menjalankan ibadah haji sekalipun. Wallahu A'lam.

*Sumber: Facebook Cerita Para Wali
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang