Habib Umar: Jangan Batasi Kuasa Allah dan Merendahkan Orang Lain

19 December 2015

Oleh: Habib Umar bin Hafidh

Ada golongan fanatik yang mengaitkan diri mereka dengan tasawwuf. Padahal tasawwuf adalah berkenaan dengan adab dan rendah hati, tetapi mereka justru menjadi angkuh karenanya. Jelas hal ini bertentangan dengan tasawwuf.
Habib Umar bin Hafidh
Keangkuhan mereka, dakwaan-dakwaan mereka, dan membataskan kebaikan hanya untuk mereka itu, sama sekali bertentangan dengan tasawwuf. Mereka berkata,

“Selagi bercakap tentang tasawwuf, kami yakin bahwa syaikh kami saja yang benar di dunia ini. Guru kami itulah Wali Quthb sepanjang zaman, yang pertama dan terakhir.”

Baiklah. Jika benar gurumu itu seorang Quthb, apakah dia mengajarimu untuk merendahkan umat Islam yang lain? Apakah dia mengajarimu untuk berburuk sangka dengan orang mukmin lain? Apakah dia mengajarimu untuk membatasi hal-hal baik hanya pada kelompok tertentu?

Kalau memang demikian, pasti dia bukan seorang Quthb. Melainkan hanya seorang yang jelek sifatnya. Dan kalau dia tidak mengajari kamu hal-hal yang demikian, maka darimana kamu mendapatkan semua hal dan pemahaman semacam itu? Kami tidak penah tahu ada Quthb mengajarkan hal-hal seperti itu.

Demi Allah, tidak pernah ada seorang Quthb yang mengajari orang untuk memburukkan orang lain, tidak pernah! Sejak zaman Nabi hingga hari ini. Tidak bisa dibayangkan, seorang Quthb mengajari orang-orang untuk memburukkan orang lain.

Apakah mungkin seorang Quthb mengajari untuk menghina orang lain? Padahal di dalam hadits; “Cukuplah (berat) bagi seorang muslim itu kejahatan (dosa) menghina saudaranya.”

Inilah sesuatu yang melampaui batas.

Memang benar, bahwa mereka yang menuruti jalan (tasawwuf) ini harus memuji guru-guru yang telah membimbing mereka. Bahkan terkadang ada yang menganggap guru mereka ialah di antara makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Ya, silakan saja, tidak ada masalah dengan hal ini. Akan tetapi, memaksakan semua orang Islam untuk menerima keyakinan mereka inilah yang tidak boleh.

Jika engkau menuruti suluk ini, teruskan dan luaskan persepsimu tentang keagungan gurumu seluas manapun yang engkau mau. Tapi jangan sampai melampaui batas dan jangan memaksakan persepsimu itu kepada orang lain.

Bahkan sepatutnya engkau gembira jika melihat orang lain mempunyai persepsi yang baik kepada guru mereka sendiri, sebagaimana persepsimu terhadap gurumu. Karena guru-guru itu adalah pintu-pintu untuk sampai (wushul) kepada Allah.

Jika engkau berkata bahwa tidak ada guru lain selain gurumu itu, maka siapa yang mengambil segala kebaikan dan meletakkannya hanya pada gurumu itu? Siapa pula yang mengawal perbendaharaan Allah yang begitu luas?

Pernah suatu ketika seorang ahli ibadah (‘abid) dari kalangan Bani Israil yang merasa benci bila ada seorang yang buruk amal dan sifatnya berjalan di sebelahnya. Berkata dia kepada orang itu,

“Kenapa kau dekat-dekat denganku? Kau orang yang rusak!”

Maka Allah wahyukan kepada nabi mereka saat itu,

“Biarkan mereka berdua mulai amal mereka dari awal lagi! Telah Kuhapus segala amal-amal si ahli ibadah, dan telah juga Kuampuni segala dosa si pendosa itu. Maka sekarang mereka serupa. Beritahu mereka untuk mulai kembali dari awal!”

Lihatlah. Apakah si ahli ibadah itu akan meletakkan kebaikan hanya unuk dirinya sendiri?

Ada pula kisah lain. Seorang ahli ibadah menasehati kawannya yang ahli maksiat,

“Berhentilah kau mengikuti jalan sesat ini! Berhentilah berbuat maksiat!”

Rayuan si ahli ibadah tadi tak diindahkan dan tak berhasil. Kemudian dating kawannya tadi dan menginjak leher si ahli ibadah tepat ketika ia dalam keadaan bersujud. Lalu si ahli ibadah tadi marah dan berkata,

“Angkat kakimu! Aku bersumpah Allah pasti tak akan mengampunimu!”

Maka Allah mewahyukan kepada nabi mereka di zaman itu,

“Siapakah orang ini? Siapa dia, sehingga berani membatasi kuasa dan ampunan-Ku? Apakah Aku memberikan kuasa-Ku kepadanya? Hanya karena Aku mengijinkan dia berbuat amal dengan rahmat-Ku, lalu dia berani menganggap dirinya layak mewakili kuasa-Ku? Siapa orang yang angkuh ini? Beritahu dia, bahwa dialah yang tidak akan Kuampuni, bukan kawannya itu!”

Renungkanlah. Sang Raja ialah Allah, kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah, dan segala perintah adalah hak Allah. Dan walaupun engkau mungkin adalah seorang yang soleh, orang baik, atau bahkan wali sekalipun, maka hendaklah engkau beradab dan merendahkan dirimu di hadapan keagungan Allah Ta’ala.

Jika engkau orang yang benar, ketahuilah bahwa Allah akan membela hambanya yang benar, dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tetapi orang yang benar tidak akan membesar-besarkan dirinya, atau merasa dialah satu-satunya, dan merasa lebih tinggi dari hamba-hamba Allah yang lain. Mereka sesekali tidak akan ingkar kepada Allah dengan segala karunia kebaikan, cahaya, dan berkah yang telah Allah berikan kepada mereka. [Zq]
 

*Transkrip video pengajian Habib Umar bin Hafidh di Mushalla Ahlul Kisa, Ma’had Darul Musthafa Tarim Hadhramawt, Yaman.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang