Kebaikan Tak Akan Sia-Sia

6 December 2015

Oleh: Kanthongumur

Muhammad Bin Khumair adalah seorang lelaki yang sholeh, menjaga diri dari hal-hal yang haram, berpuasa pada siang hari dan mendirikan ibadah pada malam hari, Dia mempunyai kesenangan berburu.  Tiba-tiba, seekor ular berlari tergesa-gesa ke arahnya, datang meminta pertolongan kepadanya: “Wahai Muhammad Bin Khumair, tolong selamatkan aku, semoga engkau mendapatkan pahala dari Allah”.

“Selamatkan? Dari siapa?” tanya Muhammad Bin Khumair yang pagi itu sedang pergi berburu di hutan.
“Dari seorang musuh, dia telah berbuat dholim kepadaku”. jawab ular itu.
“Dimana musuhmu?” tanya muhammad.
“Dia ada di belakangku”. ular menjawab.
“Wahai ular, sebenarnya kamu ini dari umat siapa?” tanya Muhammad Bin Khumair lagi.
“Aku dari umat nabi muhammad”. kata ular itu.
“Jika begitu masukklah saja kau kedalam selendangku”. ujar Muhammad Bin Khumair.
“Tidak, nanti dia akan melihatku”. kata ular.
“Lalu?”
“Jika kau memang ingin berbuat baik kepadaku, biarkan aku masuk kedalam mulutmu”. ujar ular.
“Jangan....aku takut jangan jangan nanti kau malah membunuhku”. kata Muhammad Bin Khumair.
“Tidak, demi Allah aku tidak akan membunuhmu, Allah yang menjadi saksinya sekaligus para malaikat, para nabi, para rasul, pembawa 'arsy, dan semua penghuni langit akan menjadi saksi jika aku nanti membunuhmu”. kata ular bersumpah untuk meyakinkan Muhammad Bin Khumair.

Muhammad Bin Khumair lalu menyutujuinya: “baiklah kalau begitu, masuklah kau kedalam mulutku”.
“Wahai saudaraku, apakah kau melihat musuhku berlari di sekitar sini?” kata seseorang yang tiba tiba datang menghalangi perjalanan Muhammad Bin Khumair.
Pria itu datang dengan bersenjatakan peralatan perang.
“Siapa musuh yang kau maksudkan itu?” tanya Muhammad Bin Khumair.
“Seekor ular, kau melihatnya?” kata pria tadi.
“Tidak”. jawab Muhammad Bin Khumair.

Atas ucapan 'tidak'nya itu, Muhammad Bin Khumair lantas beristighfar seratus kali kepada Allah karena menurutnya dia telah melakukan sebuah kebohongan, sebab sebenarnya dia tahu dimana keberadaan ular yang ditanyakan.

Orang itu pun pergi, dan Muhammad Bin Khumair meneruskan perjalanannya beberapa langkah ke depan.
“Coba kau lihat, apakah orang yang mencariku tadi sudah pergi berlalu?” ular itu mengeluarkan kepalanya dari mulut Muhammad Bin Khumair.

Muhammad Bin Khumair melihat ke kanan dan ke kiri.
“Aku tidak melihat siapapun, jika kau ingin keluar, keluar saja”.
Namun diluar perkiraan, ular yang masih didalam perut Muhammad Bin Khumair itu ternyata malah berkhianat.
“Wahai Muhammad Bin Khumair, sekarang aku beri kau dua pilihan, aku hancurkan jantungmu atau aku lubangi hatimu, dan kutinggalkan jasadmu tanpa nyawa”.
Muhammad Bin Khumair kaget mendengar ucapan ular itu, dia tidak bisa berfikir, bagaimana mungkin orang yang baru saja menyelamatkan nyawanya bisa teganya ingin dihabisi hidupnya?
“Ya subhaanalloh.. dimanakah janjimu kepadaku, dan sumpah yang telah kau ucapkan? alangkah begitu cepatnya dirimu lupa terhadap semua itu wahai ular”.

Ular pun menjawab: “Wahai Muhammad Bin Khumair, apakah dirimu lupa terhadap permusuhanku (bangsa ular) terhadap ayah moyangmu, nabi adam? aku telah mengeluarkan adam dari surga, bagaimana bisa kau berbuat kebaikan kepada orang yang tidak berhak mendapatkannya?”
“Apakah memang kau harus membunuhku?” tanya Muhammad Bin Khumair.
“Iya, aku harus menghabisi hidupmu”. jawab ular tegas.

Muhammad Bin Khumair terlihat pasrah tak berdaya.
“Baiklah kalau memang itu yang harus terjadi, tapi bolehkah aku meminta kepadamu untuk menantikan kematianku sehingga aku sampai di lereng bukit itu? aku ingin menggali tempat peristirahatan terakhirku”.
“Terserah kepadamu sajalah”. jawab sang ular.

Muhammad Bin Khumair berjalan gontai menuju ke arah bukit, hidupnya seperti tak mempunyai harapan lagi, hatinya hampir menemui keputus-asaan.
Sembari menatap langit dia berdoa: ya lathiif, ya lathiif.. ulthuf biy bi luthfikal khofiyy.. ya lathiif.. bil qudrotillatiy istawaita biha 'alal 'arsy fa lam ya'lamil 'arsyu aina mustaqorroka minhu illaa maa kafaitaniy hadzihil hayyah.

Tiba tiba di tengah perjalanannya itu, Muhammad Bin Khumair bertemu dengan seorang lelaki yang berwajah tampan, berbau harum yang tak ada kotoran sedikit pun pada tubuhnya. Lelaki itu menyapa Muhammad Bin Khumair.
“Salaamun 'alaik”.
Muhammad Bin Khumair menjawab: Wa 'alaikas salaam”.
“Ada apa denganmu, saudaraku? wajahmu terlihat pucat seperti itu?” tanya lelaki tadi.
“Karena seorang musuh yang telah berbuat dholim kepadaku”. jawab Muhammad Bin Khumair.
“Dimana musuh yang kau maksudkan itu, saudaraku?” tanyanya lagi.
“Saat ini dia ada di dalam perutku”. jawab Muhammad Bin Khumair.
“Coba buka mulutmu, saudaraku”. kata lelaki tampan itu.

Kemudian lelaki tersebut memberikan dedaunan hijau yang bentuknya seperti daun buah zaitun kepada Muhammad Bin Khumair, lalu disuruhnya untuk mengunyah dan menelannya. Tidak selang begitu lama, perut Muhammad Bin Khumair terasa seperti mencerna sesuatu, dan ular yang ada di dalam perutnya seakan berputar putar, lantas sepotong demi sepotong ular itu keluar dari bawah perut Muhammad Bin Khumair sampai tuntas tak tersisa.

“Wahai saudaraku, siapakah sebenarnya dirimu yang telah dianugerahkan Allah untuk membantuku ini?” Muhammad Bin Khumair bertanya kepada laki laki yang baru saja menolongnya.
Lelaki yang ditanya itu malah tertawa lebar: “Muhammad Bin Khumair, apa kau tak mengenaliku?”.
“Tidak, saudaraku”. jawab Muhammad Bin Khumair.
“Begini Muhammad Bin Khumair, saudaraku, Ketika apa yang sedang antara dirimu dan ular itu dan kemudian dirimu memanjatkan doa yang tadi kau ucapkan itu, segenap malaikat di tujuh langit ramai ramai mengadukan keadaanmu kepada Allah Azza Wa Jalla.
Allah pun kemudian berfirman: “Demi kemuliaan dan keagunganKu, apa yang telah dilakukan ular itu kepada Muhammad Bin Khumair menjadi tanggunganKu”.
“Lantas Allah mengutusku untuk datang membantumu, aku ini bernama al-ma'ruuf (kebaikan yang pernah dilakukan manusia), tempat tinggalku ada di langit keempat.
Allah berfirman kepadaku: ”pergilah ke Surga dan ambillah daun hijau lalu berikan kepada hambaKu Muhammad Bin Khumair”.
“Muhammad Bin Khumair, saudaraku, lakukanlah kebaikan, karena kebaikan akan menjagamu dari jatuh pada keaadaan buruk meski jika orang yang kamu beri kebaikan akan menyiakannya, kebaikan itu tetap tidak akan sia-sia di sisi Allah Azza Wa Jalla.

Diterjemahkan dari kitab Irsyadul Ibad oleh Kanthongumur.
يَا لَطِيْفُ اُلْطُفْ بِيْ بِلُطْفِكَ الْخَفِيِّ، يَا لَطِيْفُ بِالْقُدْرَةِ الَّتِيْ اسْتَوَيْتَ بِهَا عَلَى الْعَرْشِ فَلَمْ يَعْلَمْ أَحَدٌ أَيْنَ مُسْتَقَرُّكَ مِنْهُ إِلَّا كَفَيْتَنِيْ هَذِهِ الْحَيَّةَ.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang