Maulidan di Tunisia ~ Catatan Mahasiswa Indonesia

6 December 2015

OLEH: JAUHARI UMAR - TUNISIA

Dari sejak zaman para sahabat, tabi’in hingga zaman kita saat ini mencintai nabi adalah hal yang lumrah dan tidak asing lagi. Apalagi di kalangan para jomblo yang sudah jelas merasakan kesendirian. Mencintai jelas bukan hal sembarangan terlebih lagi mencintai Nabi Agung, Muhammad saw. Di kalangan umat Islam mencintai nabi bias direpresentasikan dalam berbagi hal. Ada yang mengaku hanya gandrung dengan sunnahnya seperti merawat jenggot misalnya, ada juga yang gemar bersenandung solawat, dan tidak sedikit juga yang mengikuti suluk ilmunya dengan mengajar secara suka rela kepada siapa saja, tentu tak asing pula dengan orang-orang yang mencintai nabi dengan mencintai semua mahluknya, sesama manusia.
Maulid di Masjid Zaitunah Tunisia, 1435
Semua hal di atas bukan hal yang tabu. Semuanya ada landasan idiologinya. Tak sembarangan lelaku tanpa ada backing kekuatan dalilnya. Ibarat keledai yang membawa gerobak tak tahu tujuan dan keadaan. Maka sedih dan miris sekali jika melihat seseirang yang saling menghakimi dalam mempresentasikan cintanya kepada nabi. Ibarat jomblo yang terkena virus merah jambu. Cara mencintai kekasih pujaannya jelas beragam satu diantara yang lainnya. Ada yang sms-an setiap hari meski tak pernah dibalas misalnya, ada juga yang hanya dengan melihat sang pujaan sudah membuatnya bahagia. Terserah, itu hak setiap individu. Maka jelas fatal sekali apabila ada orang “terlalu memaksakan”.

Disini, saya sebagai santri yang cinta marhabanan maka saya akan membahas cinta kepada nabi yang dihadirkan dalam bentuk mauludan.

Maulid bersama masyayikh Zaitunah, Tunisia, 1435 H
Dahulu, ketika Imam Ali ra ditanya tentang kecintaannya kepada Kanjeng Nabi beliau menjawab, “ Sungguh aku mencintai Rasulullah melebihi cintaku pada hartaku, anak-anakku, bapak-ibuku. Bahkan melebihi kesegaran air dingin di tengah dahaga yang menyerang”. Hal ini juga diperkuat oleh Abu Sufyan, “ Saya tidak melihat manusia mencintai sesamanya seperti cintanya para sahabat nabi kepadanya”.

Di kalangan Tabi’in cinta kepada nabi juga menjadi sesuatu yang booming. Mereka cinta dan rindu dengan Nabi meski tak pernah melihatnya. Nah kecintaan mereka yang sangat ini bertahan hingga abad pertama hijriah. Seiring berjalannya waktu kecintaan nabi mulai kendur dan luntur. Para Kyai dan Masyayikh jelas mumet dengan fenomena ini. Bagaimana mereka bias membebaskan bumi Allah yang lain jika cinta kepada nabinya saja kendur. Maka dari itu Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqolani yang terkenal dengan kisah anak batu ini mengeluarkan fatwa pertamanya ketika dimintai fatwa memperingati hari kelahiran nabi. “Asal amalan ini bid’ah, belum ada ulama sebelumnya yang melakukannya. Namun apabila ditemukan adanya kebaikan dalam pengamalannya dan berusaha menjauhi madlorotnya maka itu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Dan jika tidak demikian maka sebaliknya”, ujar Imam yang terkenal dengan masterpisnya, Fath al Bari. Nah untuk bid’ah disini artinya adalah inovasi baru ya.


Memang beberapa Kyai hawatir dengan perayaan maulid nabi yang identik dengan acara lebay. Akan tetapi jika disana tidak ditemukan indikasi lebay maka ya tidak ada alasan untuk melarangnya. Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan Al ‘Abdary Muhammad bin Muhammad yang familiar dengan sebutan Ibnu al Haaj. Meninggal pada tahun 737 H. Beliau menyampaikan bahwa di dalam perayaan-perayan maulid itu banyak ditemukan kebaikan kok. Coba saja buka-buka karya beliau Al Madkhol.

Kemudian, jika kita menegok sejarah banyak diantara pejabat pada waktu itu yang senang maulidan. Sebagi contoh Kukubury Ibn Ali Ibn Buktikin Mudlofar al Din , gubernur Kota Irbil. Saat ini wilayahnya masuk ke dalam kedaulatan Irak. Konon beliau adalah sahabat Salahudin al Ayyubi. Bahkan saking cintanya dengan kukuburiy- Sang Sultan yang katanya kakek Sadam Husein ini- menikahkan adik perempuannya. Dikisahkan ketika dia sedang bersama dengan istrinya. Sang istri mengingatkannya karena bajunya sudah lusuh. Beliau hanya berkata, “Lebih baik bajuku murah dan lusuh ini kukenakan daripada bajuku mahal dan necis namun kutinggalkan fakir miskin”. Sungguh mulia sekali sang gubernur ini.

Dikisahkan pula di dalam Al Bidayah wa Al Nihayah bahwa Sang Gubernur menyumbang setap tahunnya untuk acara maulid kisaran tiga ratus ribu dinar,-Dinar dulu menggunakan emas . Lalu untuk menjamu para tamunya beliau merogoh kocek husus lagi kisaran seratus ribu dinar. Begitu juga beliau menginfakkan hartanya untuk Hijaz, Mekah dan Madinah sebesar tiga puluh ribu dinar belum termasuk sedekah rahasiaىya.

Di tengah kesyahduan seperti ini ada juga yang “memaksakan kehendak”. Beliau adalah Imam Al Fakihaniy Al Malikiy. Beliau juga Asy’ary namun sedikit nyentrik memang. Nah beliau ini mengatakan bahwa Maulidan itu tidak ada landasananya baik dari Al Qur’an dan hadis. Dan Ini bid’ah maka tidak boleh diamalkan,-katanya.

Uniknya pendapat beliau ini dijadikan peluru kendali oleh “golongan tetangga” untuk melarang maulidan. Namun mereka tidak mau mengikuti aqidahnya Sang imam yang Asy’ariyah tulen. Namun pernyataan Sang Imam ini dibalas oleh Imam As Suyuthi di dalam karyanya Husnu al Maqsad fi ‘Amali al Maulid. Beliau berhujjah dengan menggunakan fatwa Imam Ibnu hajar yang sudah pernah disinggung di atas lalu diperkuat dengan hadis yang termaktub dalam sahih bukhari dan muslim. Bahwa nabi dulu pernah saat bertandang ke Madinah beliau mendapati orang-orany yahudi seng berpuasa ‘Asyura. Lalu beliau bertanya, dan mereka menjawab, “ Hari Asyura’ adalah hari keberkahan, dimana Fir’aun ditenggelamkan di Laut Merah lalu diselamatkannya Nabi Musa. Maka kami berpuasa sebagai wujud syur kami kepada Tuhan”.

Maka dari itu menurut Imam Suyuthi berdasarkan fenomena tadi maka boleh kita bersyukur kepada Allah untuk hari tertentu dimana Allah menganugerahkan nikmatnya dan mencabut bala’nya. Maka disini kita juga harus bersyukur atas nikmat yang sangat besar ini. Nikmat kelahiran Junjungan kita, Nabi Muhammad saw di hari kelahirannya.

Kemudian Imam Suyuthi juga menambahkan bahwa nabi dul pernah meng’aqiqahi dirinya sendiri. Sesuai kesepakatan ahli Bahasa aqiqah adalah menyembelih kambing atau domba pada hari ketujuh kelahiran bocah. Dan oleh karenanya ini bias dijadikan dalil bahwa Rasulullah dulu juga memperingati hari kelahirannya.

Selain itu, Syeh Muhammad Az Syadzuli Al Naifar, penulis risalah Ihtifal bi al maulid al nabi Ihtifa wa Tadzkir, yang saat ini kitabnya saya sajikan dihadapan panjenengan semua, bahwa Allah mewajibkan kita untuk mencintai nabi stelah mencintai diri-Nya. Dan kita diwajibkan untuk mengagungakn pelbagai hal yang berkaitan denga Rasulullah dalam hal ini adalah maulidan. Selama itu sejalan dengan syaria’at alias tidak lebay.

***

Untuk masalah Maulidan hal ini sebenarnya sudah menjadi hal lumrah, sekali lagi. Ini dibuktikan dengan karya-karya ulama tentang Maulid nabi. Sebut saja Ibnu Dihyah Al Kalbiy Al Andalusy,

Begitu juga beberapa kitab maulid yang lumrah di Nusantara seperti ‘Iqdul Jawahirnya Imam Ja’far Al Barjanzy, Maulid al Diba’inya Imam Abdurrahman Al Diba’i dsb. Ini menunjukan maulid adalah hal yang lazim dan injeksi yang dibutuhkan umat untuk mendobrak semangat.

Selain para ulama maulid juga familiar di kalangan pejabat. Seperti Amir Abu Hamwin Musa ibn Harun Ibn Yusuf, seorang pembaharu Daulah Bani ‘Abdil Wad di Tilmisan, Aljazair sana.

Nah untuk di Tunis, negaraku saat ini, maulidan dipopulerkan oleh Sultan Ahmad Bin Musthofa Pasha Bey. Ini sejalan dengan keterangan sejarawan terkemuka Ibnu Abi Dliyaf di dalam kitabnya Ithafu Ahli al Zaman.

“Dia (Ahmad Bey) telah merayakan maulid nabi sebagai wujud keagungan cintanya kepada Rasulullah. Dan maulidan bagi kami layaknya hari raya ‘ied. Anak-anak kecil berkumpul di madrasah-madrasah. Mereka serempak bersenandung, solawatan kepada Baginda Nabi. Maka sungguh maulidan adalah sesuatu yang lekat dengan kebahagian dan kecerian. Bahkan dia mengajak kami untuk menghiasi Menara-menara masjid dengan lenteradi malam maulid nabi dan dua malam setelahnya”.

Selain itu, Ibnu Abi Dliyaf juga menggambarkan betapa meriahnya acara maulidan. Para pejabat dan tentara istana berkumpul. Lalu Bey (sultan) hadir dengan berjalan kaki menuju Masjid Zaitunah. Disana para kyai dan masyarakat sudah berkumpul di masjid. Lalu Bey berjalan menuju mihrab pengimaman dan duduk di hadapan Imam Masjid. Dan kemudian Syeh Ibrahim Al Rayahiy membaca maulid nabi karya Al Bakri. Dan masjid menggelegar penuh dengan senandung kerinduan kepada Baginda Nabi.
Penulis bersama seorang kawan dari Mali di Maktabah Ibnu Arfah
Di Tunis sendiri perayaan maulid nabi biasanya digelar dengan pembacaan Kasidah Al Hamziyah karya Imam Al Bushiry dengan judul kitabnya Ummu al Qura fi Madhi Khoiril Wara lalu diahiri dengan doa sambil menghadap kiblat. Dan di kalangan keluarga-keluarga Tunis selai membaca kasidah Al Hamziyah mereka biasanya membuat Asidah. Sejenis bubur manis khas Tunis. Konon manisan ini hanya husus ada di saat maulid nabi. Semoga maulid tahun ini saya bias maulidan lagi bersama masyarakat Tunis di Masjid Zaitunah.

Permulaan Musim Dingin,
Tunis, 5 Desember 2015

*Penulis adalah santri Zitounah Tunisia. Untuk sahabat yang penasaran dengan risalah Syeh Muhammad As Shadzuli Al Naifar bisa diunduh di sini
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang