Para Mujaddid dari Masa ke Masa dalam Kitab Karya KH Maimun Zubair

19 December 2015

Oleh: Santri Raudhatul 'Ulum Kencong

KH. Maimun Zubair atau akrab dengan panggilan ‘Mbah Maimun’ telah mengarang sebuah kitab kecil tapi sangat berharga bagi umat Islam. Kitab tersebut berjudul:

العلماء المجددون رحمهم الله تعالى ومجال تجديدهم واجتهادهم

Beliau memulai kitabnya dengan menjelaskan siapa saja mujaddid tersebut menurut perspektif beliau dan diteruskan dengan masail fiqhiyyah kontemporer yang memerlukan ijtihad baru.
Al-'Ulama al-Mujaddiduun karya KH Maimun Zubair
Dalam hal tajdid ini, Mbah Maimun berpendapat bahwa Islam pada awal lahirnya sebagai abad pertama hijriyyah itu sendiri. Maka para sahabat sudah menghapal al-Qur'an dan membawa hadis-hadis Nabi. Maka dari sini penulis memahami bahwa golongan sahabatlah sebagai mujaddid pada abad pertama ini. Selanjutnya ketika Islam mulai tersebar dan terjadi beberapa kejadian yang memerlukan ijtihad dalam memahami nash-nash, maka munculah mujtahid seperti Imam al-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan selainnya sebagai mujaddid pada abad kedua. Tersebarlah diantara mereka bahwa sumber-sumber syariat ada 4 yaitu al-Qur'an, Hadis, Qiyas, dan Ijmak.

Pada abad ketiga, muncullah Imam al-Asy'ari dan Imam al-Mathuridi sebagai mujaddid yang membersihkan Islam dari pengaruh-pengaruh falsafah Yunani yang sesat merasuk melalui nadi-nadi Muktazilah, Qadariyyah, Jabariyyah, dan lain-lain. Merekalah yang menjaga akidah Islam dari kebid'ahan lisan, tulisan dan pengajaran. Merekalah yang mengembalikan kepada jalan dan manhaj ulama Salaf al-Salih sebelum mereka.

Ketika zaman berubah pada abad keempat, munculah seorang ulama, qadhi, mutakallim bermazhab Asy'ari dalam akidah dan bermzhab Maliki dalam berfiqh, yaitu Abu Bakar al-Baqilani al-Maliki. Beliau adalah termasuk pembesar ulama Asy'ariyyah. Dengan ini, beliau adalah mujaddid pada abad keempat.

Pada kurun kelima, yaitu kurun yang dianggap masuknya fase khalaf menurut satu pendapat. KH Maimun Zubair memilih Hujjat al-Islam al-Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali sebagai mujaddid pada fase ini. Beliau, sebagai pengarang kitab fenomenal Ihya' Ulum al-Din adalah ulama terunggul pada kurun ini, kepakaran beliau dalam berbagai bidang dan juga sebagai senjata pemungkas dalam menjatuhkan hujjah-hujjah Muktazilah. Dalam bidang akidah beliau telah mengarang berpuluh kitab termasuk pada bab-bab awal Ihya' Ulum al-Din. Sebagai seorang ulama penerus Imam Abu Hasan al-Asy'ari, beliau juga telah mengarang berbagai kitab yang menjatuhkan hujjah Muktazilah seperti al-Iqtisad fi al-I'tiqad. Beliau juga mengarang kitab yang meruntuhkan pemikiran-pemikiran filosof Yunani seperti Tahafut al-Falasifah, al-Munqiz mina al-Dholal, dan lain-lain.

Oleh itu, adalah sangat sesatlah perkataan-perkataan orang yang membenci al-Asy'ariyyah dengan berpendapat bahwa mazhab akidah al-Asy'ariyyah diserap dari pemikiran-pemikiran falsafah Yunani, padahal pembesar al-Asy'ariyyah sendiri yaitu Imam Ghazali justru adalah senjata yang berhasil menolak pemikiran falsafah Yunani dari masuk ke dalam Islam. Walau bagaimanapun, buruknya dalaman sesuatu bukan berarti kita menolak seluruh bungkusan yang ada. Tentunya ilmu-ilmu yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan Islam itu sendiri bahkan sesuai dengan ruh-ruh wahyu yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW adalah jawaz diadopsi dalam Islam, seperti ilmu mantiq (logika) yang mana digunakan untuk mengharamkan khamr juga.

Pada kurun keenam, muncullah nama Imam al-Rafi'i, yaitu pengarang Syarah Kabir, yakni penjelasan terhadap kitab al-Wajiz karya Imam al-Ghazali. Imam al-Rafi'i sebagai mujtahid fatwa dalam mazhab Sayfi'i pendapatnya dianggap penting sehingga nama kedua sebagai mujaddid menurut KH. Maimun Zubair yaitu Imam al-Nawawi. Alasan kuat memilih Imam Rafi'I dan Imam Nawawi karena kitab mereka sangat penting dalam mazhab Syafi'i dan juga sebagai rujukan tarjih yang didahulukan.

Selanjutnya masuk kurun ketujuh muncullah Imam Ibn Daqiq al-'Eid sebagai mujaddid pada kurun ini. Mbah Maimun menyebut nama Imam Jalal al-Din al-Bulqini sebagai mujaddid bagi kurun kedelapan Hijriyyah. Maka masuklah abad kesembilan, yang terlihat mujaddid pada zaman ini adalah Imam Jalal al-Din al-Mahalli dan Jalal al-Din  al-Suyuthi. Dari Imam al-Suyuthi ini, terbukukanlah banyak sekali fan-fan ilmu yang berbagai. Bahkan beliau juga dikenal sebagai orang yang mahir dalam berbagai ilmu dan fan. Seperti misal, ilmu Kaedah Fiqh belum tersusun secara rapi dalam ruang lingkup yang tersendiri dalam mazhab Syafi'i. Dengan terkarangnya kitab al-Asybah wa al-Nazair oleh Imam Suyuthi ini, maka tersebarlah ilmu Kaedah Fiqh dalam mazhab Syafi'i sebagai fan ilmu yang tersendiri. Belum lagi kitab-kitab beliau yang lain. Beliau jugalah yang mengarang nazam tentang mujaddid yang selanjutnya dirujuk oleh Mbah Maimun.

Pada abad kesepuluh Hijriyyah, Imam Ali al-Syibramalisi dan Imam Ibn Hajar al-Haitami sebagai mujaddid. Imam Ibn Hajar sebagai pentarjih mazhab Syafi'i terkenal dengan kitab-kitabnya yang memberi hukum dengan hujjah-hujjh yang kuat seperti al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah dan Tuhfah al-Muhtaj. Di bawah asuhan beliau juga lahirlah ulama yang bernama Zain al-Din al-Malibari pengarang Fath al-Mu'in, kitab manual fiqh Syafi'I yang termasyhur di Nusantara.

Pada abad ini juga, keadaan alam berubah. Islam yang semulanya berkuasa penuh di daerah dari Afrika Barat sehingga ke Nusantara, telah dijajah sedikit demi sedikit oleh penjajah-penjajah Salib. Maka dari itu, agar meneguhkan keimanan serta semangat tauladan terhadap tokoh-tokoh zaman kegemilangan umat Islam, lahirlah Imam Ja'far bin Hasan al-Barzanji yang mengarang kitab Maulid Nabi ‘Iqdul Jawahir dan juga kitab al-Lujjain al-Dani Manaqib Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani. Selain itu muncul juga ulama sufi yang membawa keteguhan hati bagi umat Islam seluruhnya yaitu wali agung Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, pengarang kitab al-Nasha'ih al-Dinniyyah, Risalah al-Mu'awanah, dan lain-lain sebagai rujukan seluruh ulama mazhab Syafi'i dan rujukan bagi seluruh umat dalam hal tasawwuf juga. Beliau juga sebagai pengarang zikir bernama Ratib al-Haddad yang diamalkan mayoritas keluarga Nabi dari jalur Husaini maupun sebagian Hasani. Mereka berdualah sebagai mujaddid pada abad kesebelas Hijriyyah.

Kurun kedua belas Hijriyyah, Imam al-Murtadha al-Zabidi dipilih menjadi mujaddid. Beliau mengupas kitab Ihya' Ulum al-Din karangan al-Ghazali sebanyak 10 jilid tebalnya yang diberi nama Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin. Dalam kitab ini juga termaktub bahwa "إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية" (ketika dimutlakkan kata Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah maka yang dikehendaki dengannya adalah ulama Asy'ariyyah dan al-Maturidiyyah).

Ulama Jawa pertama yang bertemu dengan ulama ini adalah Kiai Abd al-Mannan ketika bermukim di Makkah dan beliau meriwayatkan kitab ini padanya. Lalu kitab ini diriwayatkan oleh anaknya yaitu Kiai Abdullah, lalu oleh anaknya lagi Kiai Mahfudz al-Turmusi, lalu oleh Kiai Faqih al-Maskumambani, lalu oleh muridnya yang merupakan ayah dari KH Maimun Zubair, yaitu KH Zubair Dahlan, dan KH. Maimun pula mengambil riwayat ini dari ayahnya. Ulama lain pula yang dinamakan sebagai mujaddid pada kurun ini adalah Sayyid Ahmad al-Marzuqi, pengarang nazam Aqidah al-'Awam yang terkenal diseluruh negara Islam, baik di Timur ataupun Barat.

Pada kurun ketiga belas Hijriyyah, telah terutus mujaddid yang merupakan ulama Mekkah yaitu Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Sayyid Bakri Syatha. Mereka berdua adalah ulama yang berada di Mekah ketika kemelut revolusi wahabisme yang masih segar. Oleh sebab itu, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan sampai mengarang kitab menentang pergerakan Wahabi. Sedangkan Sayyid Bakri juga ada menyinggung dan membela beberapa amalan-amalan furu'iyyah fiqhiyyah yang dibid'ahkan bahkan disesatkan oleh sekte Wahabi. Dari al-Bakri inilah muncul seorang ulama fenomenal dari Sumatra yaitu Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang mana beliau adalah guru bagi dua pelopor dua organisasi Islam terbesar di dunia, yaitu KH Hashim Asy'ari pelopor Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan pelopor Muhammadiyah.

Ketika masuk pada kurun keempat belas Hijriyyah, KH Maimun Zubair menyebutkan beberapa nama ulama yang masyhur serta diakui dunia kealimannya sebagai mujaddid. Di antaranya yang masih hidup adalah Sayyid Habib Zain bin Sumaith, Sayyid Farfur al-Mishri, Syaikh Hassam al-Din al-Dimasqi, Prof. Dr. Abd al-Latif Farfur yang keduanya merupakan anak kepada Syaikh Shalih al-Farfuri al-Hasani. Di antara mereka yang telah kembali ke rahmatullah adalah Musnid al-Dunya al-Syaikh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani dan Syaikh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Kedua-duanya adalah alim dalam riwayah juga dirayah bagi hadis-hadis Nabi Muhammad SAW serta kitab-kitab agama lainnya.

Syaikh Yasin al-Fadani telah mengkodifikasi beribu riwayat hadis serta sanad-sanad kitab sehingga beliau dijuluki sebagai musnid al-dunya. Beliau juga ahli dalam bidang fiqh Syafi'i sehingga mengarang syarah bagi nazam al-Faraid al-Bahiyyah tentang Kaedah Fiqh Mazhab Syafi'i. Diriwayatkan juga bahwa beliau pernah mengarang kitab syarah atas Sunan Abi Daud. Beliau juga ahli dalam ilmu falak. Penulis sendiri adalah murid kepada KH Zamroji Kencong yang pernah menuntut dengan Syaikh Yasin al-Fadani di Mekkah. Begitu juga KH Maimun Zubair yang pernah bertalaqqi bersama beliau di Mekkah. Sebagian dari Murid Syaikh Yasin al-Fadani adalah Mufti Mesir sekarang yaitu Prof. Dr. Ali Jum'ah yang sangat tidak disukai oleh kelompok Salafi.

Sedangkan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki adalah tokoh fenomenal Ahli Sunnah Wal Jamaah yang tidak asing lagi. Beliau juga dijuluki sebagai tembok Ahli Sunnah kerana mengarang kitab Mafahim Yajib an Tushahhah untuk menolak pemikiran Wahabi yang melampau dan memberikan hujjah-hujjah mempertahankan amalan-amalan Ahli Sunnah. Ajaran beliau adalah sangat berhikmah dan penuh adab. Menghormati ulama terdahulu dan menyanjungnya adalah jalan beliau. Walaupun beliau dihina dan dicerca oleh ulama-ulama Saudi sendiri yang berfahaman Wahabi, tapi beliau tidak pernah mengambil cara penghinaan dalam tulisan-tulisan beliau, apatah lagi pengkafiran. Misalnya, beliau selalu menghujjah aliran Wahabi dengan kata-kata Ibn Taimiyyah sendiri dan juga memakai beberapa fatwa dari Muhammad bin Abd al-Wahhab sendiri sebagai pelopor gerakan Wahabi.

Sekian sekelumit pemahaman penulis terhadap pemikiran KH Maimun Zubair tentang Tajdid dan juga siapa saja Mujaddid menurut persepsi beliau. Selanjutnya, beliau menulis beberapa masalah-masalah fiqh yang telah ditajdid oleh ulama dan juga beliau sendiri selaku salah satu ulama fiqh tersohor di Indonesia sekarang ini. Semoga Allah memberkati beliau dan murid-murid beliau serta pesantren Sarang yang akan selalu mencipta ulama dari kalangan Ahli Sunnah wal Jamaah. Amin.

Penulis berdarah Melayu, merupakan alumni Madrasah Nidhomiyah Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Kencong Kediri Jawa Timur, Indonesia. Sarjana Hukum Islam dari al-Jamiah al-Islamiyah al-Hukumiyah Kediri. Mendapatkan gelar magister dalam ilmu akidah dari Universitas Hassan II, Casablanca. Sedang melanjutkan program doktoral di Fakultas Ushuluddin Universitas Qarawiyyin, Maroko.
*Sumber: http://akitiano.blogspot.co.id/2011/12/tajdid-dan-mujaddid-menurut-kh-maimun.html
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang