Perayaan Maulid Nabi Pada Masa Turki Utsmani

19 December 2015

SANTRIJAGAD ~ Perayaan Maulid Nabi oleh kalangan ulama dan masyarakat sudah diadakan sejak lama. Adapun perayaan Maulid Nabi yang digelar oleh pemerintah Kesultanan Utsmani sebagai agenda resmi kenegaraan pada tiap 12 Rabi’ul Awwal diperkirakan dimulai pada masa Sultan Sulaiman. Lalu dikukuhkan sebagai agenda kenegaraan rutin pada masa Sultan Murad III.
Suasana Maulid Nabi di Masjid Sultan Ahmad, Turki (foto: lastprophet.info)
Ada dua jenis perayaan Maulid yang digelar semasa kekhilafahan Turki Utsmani ini. Pertama, perayaan yang digelar di istana-istana dan rumah-rumah secara pribadi oleh warga. Kedua, serta perayaan secara massal yang juga dihadiri Sultan, digelar di masjid-masjid besar.

Parade perayaan dimulai dari Istana Topkapi, kemudian upacara peringatan Maulid diadakan di Masjid Agalar, atau di Masjid Biru, Masjid Sultan Walid, Masjid Sultan Ayyub, Masjid Bayazid, ataupun Masjid Nusratiyya. Sebelum hari pelaksanaan, undangan sudah disebar ke tokoh-tokoh masyarakat di penjuru negeri.

Pada hari perayaan, 12 Rabi’ul Awwal, sultan beserta segenap punggawa kerajaan maupun pelaksana acara turun ke jalan menuju masjid yang ditentukan. Saat parade mulai mendekati masjid, seorang petugas mengumandangkan adzan lalu membaca awal Surat al-Fath. Saat bacaan selesai, dibukalah satu jendela kecil di serambi sebagai penanda bahwa sultan telah tiba. Lalu khalayak pun akan berdiri, berbaris, dan membungkukkan kepala sebagai lambing penghormatan.

Setelah itu, dibacakanlah karakter-karakter tentang Nabi Muhammad yang disebut ‘ta’rif’ oleh seorang ‘mu’arrif’. Lalu khatib Masjid Hagia Sofia, bersama khatib Masjid Biru, serta khatib masjid yang ditempati untuk berkumpul saat itu akan bergiliran menyampaikan khotbah. Turun dari mimbar, para khatib akan disambut dan dipakaikan jubah bulu sebagai penghormatan. Selain itu, khalayak yang berkumpul pun disuguhi minuman semacam ‘sherbet’ dan wewangian (dupa).

Lalu dibacakanlah naskah Maulid Nabi karya Syaikh Sulaiman Syalabi. Seusai bagian pertama dibacakan, si pembaca akan turun mimbar dan dihadiahi jubah kehormatan. Kemudian dilanjutkan pembaca bagian kedua. Saat sampai pada bagian tertentu yang mengisahkan momen kelahiran Baginda Nabi dari kitab maulid tersebut, seluruh hadirin akan berdiri sebagai bentuk penghormatan. Di saat inilah perwakilan amir Mekah yang disebut ‘müjdecibaşı’ akan menyampaikan surat dari amir Mekah kepada perdana menteri, lalu disampaikan kepada sultan untuk dibacakan. Kemudian sultan membagikan senampan kurma terbaik yang dikirim dari Madinah kepada barisan para menteri, utusan-utusan kenegaraan, para ulama, dan para tokoh-tokoh bangsawan yang hadir.

Ketika pembaca kedua merampungkan bacaannya, ia pun turun mimbar dan dihadiahi jubah kehormatan, kemudian digantikan pembaca ketiga. Saat inilah nampan-nampan berisi manisan disajikan di hadapan perdana menteri, para petinggi masjid-masjid, para ulama, dan para tokoh masyarakat. Selesai pembacaan ketiga, dan setelah pembaca ketiga membaca doa Maulid, ia pun turun dan dipakaikan jubah kehormatan. Dengan demikian selesailah prosesi Maulid Nabi.

Para menteri beserta pejabat-pejabat negara segera bangkit meninggalkan ruang utama masjid, menuju halaman di mana kuda-kuda mereka ditambatkan dan menanti sultan keluar dari dalam masjid. Sultan keluar, dan diikuti oleh para menteri, akan kembali ke istana bersama sebagian besar arak-arakan. Setelah itu, para ulama dan tokoh masyarakat biasanya juga menggelar Maulid Nabi di tempat masing-masing. [Zq]

*Sumber: Diterjemahkan dari tulisan Mehmed Seker, PhD dalam lastprophet.info


Baca juga:
Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Penjuru Dunia (1 - Afrika)
Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Penjuru Dunia (2 - Eropa)
Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Penjuru Dunia (3 - Asia & Australia)
Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Penjuru Dunia (4 – Timur Tengah & Amerika)
Perayaan Maulid Nabi Pada Masa Turki Utsmani
Perayaan Maulid Nabi di Mekah Tempo Dulu
Video Perayaan Maulid Nabi di Berbagai Negara
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang