Kisah Kegalauan Sang Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali

26 January 2016

Oleh : Ahmad Zaki S.Sos


Al-Ghazali dikenal sebagai seorang jenius. Dia sudah hafal al-Qur’an sebelum memasuki masa puber.  Prestasi akademisnya sangat cemerlang, sehingga tidak heran jika akhirnya dia ditawari posisi menjadi guru besar dalam bidang ilmu agama di Universitas Niamyyah, Baghdad. Sepintas kita melihat bahwa al-Ghazali akan menjadi seorang akademisi terkemuka untuk seterusnya. Namun, ternyata jalan hidupnya bergerak ke arah lain.

Pada suatu hari, al-Ghazali mengalami penyakit yang aneh. Dia kehilangan tenaga dan stamina untuk mengajar dan meniliti. Dokter terbaik di seluruh wilayah kekhalifahan sudah dipanggil untuk mengobati penyakit tersebut, tapi mereka semua angkat tangan. Akhirnya al-Ghazali sadar bahwa penyakitnya itu adalah bukan penyakit fisik, namun penyakit psikis. Ternyata  kegelisahan dia bermula dari pertanyaan sederhana, yaitu “Apakah yang aku cari?”. Dia bertanya kepada diri sendiri, “Apakahsemua ini adalah tujuan hidup saya? Posisi di Universitas? Harta berlimpah? Apakah hanya ini? Bagaimana kalau akhirnya saya kehilangan semuanya dalam sekejap?”

Al-Ghazali meyakini, bahwa motivasi dia mengajar dan meneliti tidaklah tulus demi kemanusiaan dan sesamanya. Semua itu hanya demi mendongkrak popularitas dia semata. Perasaan takut kehilangan  harta dan popularitas itu membuatnya sangat khawatir dan stress berkepanjangan. Semua pertanyaan itu mengendap dalam pikirannya tanpa ada jawaban. Hal itulah yang menyababkan dia jatuh sakit.

Wilayah kekhalifahan saat itu memiliki banyak aliran dengan berbagai macam ideolo. Pada awalnya, al-Ghazali bergabung dengan para filusuf. Dia mempelajari karya filusuf muslim, seperti Ibu Sina dan Al-Farabi. Dari para filusuf muslim itulah dia mengenalpemikiran Plato, Aristotels dan Plotinus. Awalnya al-Ghazali sangat puas bergabung dengan para filusuf. Namun, akhirnya dia sadar bahwa filsafat hanya memberi jawaban atas kegelisahan di akal, namun tidak menghentikan kegelisahan hati. Dia memasuki kkelompok kebatinan. Di kelompok kebatinan, al-Ghazali dipaksa untuk patuh buta terhadap gurunya. Pertanayaan dan keraguan adalah pembangkangan. Penggunaan akal untuk menganalisa kebenaran dilarang sama sekali. Ini jauh lebih buruk daripada kelompok filusuf, sehingga akhirnya kelompok kebatinan dia tinggalkan.

Al-Ghazali bergabung dengan kelompok sufi. Berbeda dengan filsuf sufisme tidak hanya menggunakan akal sehat, namun juga intuisi. Berbeda pula dengan kebatinan, penggunaan akal dalam sufisme dilakukan untuk hal rasional. Pada dasarnya, kelompok sufi, yang bergabung dalam tarekat, melakukan olah batin untuk menjaga keseimbangan antara ikhtiar dengan kepasrahan.

Seorang sufi, akan bekerja keras seperti hidup abadi di dunia, namun beribadah seperti akan segera berpulang kepada-Nya. Dalam sufi juga ditekankan benar untuk bertoleransi dengan sesama manusia yang berbeda keyakinan. Toleransi adalah keharusan, sebab dalam kacamata para sufi, manusia, siapa pun mereka, adalah ciptaan Allah. Menghargai dan mengapresiasi ciptaan-Nya adalahsuatu keniscayaan. Bergaul dengan mereka yang berbeda ideologi dan keyakinan sudah menjadi kebiasaan. Karena prinsip kaum sufi untuk menjaga keseimbangan dan keluwesan pergaulan mereka, maka al-Ghazalimenjuluki kaum Sufi sebagai “Penguasa Segala Keadaan”. – [gk]

*Sumber: BBM Saluran Resmi, Pondok Pesantren Addainuriyah Dua Semarang – C004C2341

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang