Ahmad Syafii Maarif: Terorisme Wujud Keputusasaan (Bagian Kedua)

13 February 2016

Oleh: Ahmad Syafii Maarif 

Agar kita bersikap adil, di bawah ini penulis akan mencoba menjelaskan pendirian penulis terhadap terorisme yang dilakukan oelh orang-orang Islam, seperti dalam contoh di atas. Dalam Islam, sebagai agama yang menganjurkan perdamaian dan persaudaraan antarumat manusia, tidak ada peluang sama sekali dari sisi doktrin bagi umatnya untuk melakukan terorisme. Namun bila itu terjadi, maka umat secara keseluruhan wajib mengutuknya dan bersama dengan kekuatan lain harus membasmi segala bentuk terorisme itu, baik yang dilakukan perorangan, kelompok ataupun oleh negara. Orang Islam dengan dalih apa pun tidak boleh memicingkan mata bila segelintir umatnya melakukan perbuatan teror yang membawa bencana itu. Jika perbuatan keji itu dihubungkan dengan perintah agama yang dianutnya, maka tafsiran yang serupa itu jelas sudah terlalu jauh menyimpang dari doktrin Islam yang otentik. Harus dicari sebab-sebab di luar ajaran agama mengapa perbuatan terkutuk itu dilakukan.

Sebagai gejala sejarah kontemporer, terorisme yang dilakukan oleh segelincir orang Islam itu sesungguhnya merupakan perbuatan nekad dan putus asa. Mengapa? Kenekadan itu terutama dipicu oleh perbuatan brutal pasukan Israel terhadap rakyat Palestina melalui terorisme negara yang didukung Amerika Serikat, sementara negara-negara Arab yang dinilai tidak sungguh-sungguh berdiri di belakang perjuangan gerakan kemerdekaan Palestina. Begitu juga perbuatan bom bunuh diri yang mengerikan itu didorong oleh suasana batin rakyat Palestina yang hampir putus asa dalam memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya. Perbuatan orang yang putus asa tidak dapat dilihat dengan kacamata orang normal. Sudah lebih setengah abad, rakyat Palestina dihina dan diperkosa hak-haknya oleh kekuatan-kekuatan persenjataan modern Israel dengan dukungan beberapa negara Barat, khususnya Amerika Serikat.

 

Penulis sungguh tidak menyetujui perlawanan dengan menggunakan bom-bom bunuh diri itu, sekalipun penulis dapat memahami mengapa semuanya itu terjadi. Selama lebih setengah abad itu, antara Palestina dan Israel sebenarnya berada dalam suasana perang yang tidak seimbang. Kecuali semangat juang yang pantang menyerah, senjata Rakyat Palestina dibandingkan dengan persenjataan Israel adalah ibarat pistol air melawan bazoka, bahkan bom nuklir. Kenyataan pahit inilah yang tidak mau dipahami dunia, kecuali oleh beberapa aktivis perdamaian, termasuk tokoh tua Israel, Ury Avery, pembela perdamaian abadi antara Israel dan Palestina. Avery yakin bahwa suaranya untuk perdamaian antara kedua bangsa akan terwujud, mungkin tidak terlalu lama lagi, karena Israel tidak mungkin lagi menyangkal eksistensi sebuah bangsa Palestina, seperti Golda Mesir 30 tahun yang lalu pernah berucap: “…there is no such thing as a Palestinian people.” Kini, kata Avery, “there is hardly an Israeli who denies the existence of the Palestinian People.” [Lihat Ury Avery, “Two People: One Future” dalam Just Commentary, Vol 2, No. 10, Oct. 2002: 6-7]. Gagasan Avery sebagai dua bangsa dengan ibukota Yerusalem yang dibagi dua mungkin pada saatnya akan menjadi kenyataan.

Selain masalah Palestina yang menyebabkan sekelompok Muslim menjadi nekad adalah karena ketertinggalan dunia Islam yang teramat jauh dalam ilmu dan teknologi. Menghadapi kenyataan ini orang Islam harus mengakui faktor kerapuhan yang berasal dari dunia Islam sendiri sebagai penyebab utama mengapa mereka sering menjadi bulan-bulanan pihak lain. Jalan keluarnya adalah: pertama, akui kerapuhan ini secara jujur; kedua, kuasai sumber kekuatan lawan dengan siap belajar kepada mereka; ketiga, kekayaan petrodolar yang dimiliki oleh sebagian negeri Muslim harus digunakan secara strategis untuk mencerdaskan dan mencerahkan generasi muda Muslim agar mereka tampil sebagai generasi yang tangguh dan arif dalam menyikapi persoalan-persoalan global yang semakin menyesakkan nafas. Menghadapi masalah global dengan terorisme sama artinya dengan menggali kuburan peradaban Islam masa depan. Perbuatan itu adalah perbuatan busuk dan sangat pengecut. Keempat, masanya sudah sangat tinggi bagi dunia Islam untuk menyusun sebuah strategi global yang efektif, bukan untuk mengancam pihak lain, tetapi untuk menawarkan sebuah peradaban alternatif yang lebih manusiawi, ramah, dan adil kepada peradaban sekuler yang menguasai Barat yang ternyata tidak manusiawi, tidak ramah, dan tidak adil. Ide tentang rahmatan li-al-lamin, rahmat bagi alam semesta (QS al-Anbiya: 107) harus dijadikan pedoman utama dan pertama dalam menyusun strategi di atas.

Untuk bergerak ke arah tujuan mulia ini, jalan satu-satunya adalah mempercepat bergulirnya proses pencerdasan dan pencerahan dari dalam umat sendiri. Situasi sekarang, menurut pantauan penulis, bahwa sebagian besar umat ini telah lama membuang al-Quran ke dalam limbo sejarah persis seperti keluhan Nabi beberapa abad yang lalu: “Rasul berkata, ya Tuhanku, sesungguhnya umatku telah menelantarkan al-Quran ini” (QS al-Furqan: 30). Lantaran Kitab Suci yang terlantar lama inilah mengapa umat Islam masih saja berada di persimpangan jalan buntu peradaban dan dihina pihak lain karena memang posisi kita pantas untuk dihina. Namun Allah sangat paham dengan situasi inferior ini. Oleh sebab itu, masih banyak ayat lain yang memberikan optimisme kepada umat Islam, diantaranya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu membela Allah, Dia pasti akan membelamu, dan bahkan akan meneguhkan langkah-langkahmu” (QS Muhammad: 7). Membela agama Allah yang mengandung kebenaran mutlak dengan iman yang teguh dan jihad yang sungguh-sungguh, harus senantiasa dikendalikan oleh akal sehat yang prima. Semua langkah ini jelas memerlukan ilmu pengetahuan dalam makna yang seluas-luasnya. Tanpa ilmu yang cukup, kita harus malu berbicara tentang pembelaan terhadap Islam.

Akhirnya, terorisme negara yang dilakukan pihak lain tidak bisa dilawan dengan terorisme individu ataupun kelompok. Jika keadaan semacam ini tetap saja berlangsung, risikonya hanya satu: hancur-hancuran! Umat Islam harus mampu menunjukkan sebuah kearifan global (a global wisdom) pada saat pihak lain masih bermata dan berhati gelap! [bq]

Sumber: Maarif, Syafii Ahmad dkk. 2005. Islam Dan Terorisme Dari Minyak Hingga Hegemoni Amerika: 90-95. Yogyakarta: UCY Press
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang