Al-Haitham; Peletak Dasar Teori Lensa

9 February 2016


Kacamata merupakan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Setiap peradaban megklaim sebagai penemu kacamata. Akibatnya, asal-usul kacamata pun cenderung tak jelas dari mana dan kapan ditemukan.

     Peradaban Barat kerap mengklaim sebagai penemu kacamata. Padahal jauh sebelum masyarakat Barat mengenal kacamata, peradaban Islam telah menemukannya. Menurut dia, dunia Barat, telah membuat sejarah penemuan kacamata yang kenyataannya hanyalah sebuah mitos dan kebohongan belaka.

     Lensa juga dikenal pada beberapa peradaban seperti Romawi, Yunani, Hellenistik dan Islam. Berdasarkan bukti yang ada, lensa-lensa pada saat itu tidak digunakan untuk magnification (perbesaran), tapi untuk pembakaran. Caranya dengan memusatkan cahaya matahari pada focus lensa/titik api lensa. Fisikawan Muslim legendaries, Ibnu al-Haitam (965-1039 M), dalam karyanya bertajuk Kitab al-Manazir (tentang optic) telah mempelajari masalah perbesaran benda dan pembiasan cahaya.

     Ibnu al-Haitam mempelajari pembiasan cahaya melewati sebuah permukaan tanpa warna seperti kaca, udara dan air. “Bentuk-bentuk benda yang terlihat tampak menyimpang ketika terus melihat benda tanpa warna. Ini merupakan bentuk permukaan seharusnya benda tanpa warna,” tutur al-Haitham seperti dikutip Lutfallah.

    Inilah salah satu fakta yang menunjukkan betapa ilmuwan Muslim Arab pada abad ke-11 itu telah mengnali kekayaan perbesaran gambar melalui permukaan tanpa warna. Namun, al-Haitham belum mengetahui aplikasi yang penting dalam fenomena ini. Buah pikir yang diteruskan al-Haitham itu merupakan hal yang paling pertama dalam bidang lensa.

    Paling tidak, peradaban Islam telah mengenal dan menemukan lebih awal tiga ratus tahun dibandingkan masyarakat Eropa.

    Fakta lain yang membuktikan bahwa peradaban Islam telah lebih dulu menemukan kacamata adalah pencapaian dokter Muslim dalam opthalmologi, ilmu tentang mata. Dalam karyanya tentang opthalmologi, Julius Hirschberg, menyatakan bahwa dokter spesalis mata Muslim tak menyebutkan kacamata. [bq]

*Sumber: Mata Air. Edisi 28 Tahun 2009. Penemu Kaca Mata. Halaman 18.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang