Amien Rais: Negara Islam itu Tidak Ada

12 February 2016

Oleh: Prof. Dr. H. Mohammad Amien Rais, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyyah

Pertama-tama, Al-Quran tidak mengatakan apapun tentang bentuk sebuah negara Islam, atau mengenai perlunya dan wajibnya kaum muslim, baik secara moral maupun politis, untuk mendirikan negara Islam. Kedua, Al-Quran bukan kitab hukum, melainkan sumber hukum. Jika Al-Quran dipandang sebagai kitab hukum, maka kaum muslim akan menjadi kaum yang paling menyedihkan di dunia. Itulah mengapa saya sependapat dengan mayoritas ulama bahwa Al-Quran merupakan sumber hukum yang memberi pencerahan dan memotivasi kita untuk membangun kehidupan berdasarkan nilai-nilai etis atau moral yang kekal dan abadi. Salah satu tema utama Al-Quran adalah keadilan.

Prof. Dr. H. Amien Rais

Dalam Al-Quran, Allah mengajarkan bahwa sebagai umat beriman, kita harus menegakkan keadilan tidak hanya dalam satu atau dua aspek kehidupan saja. Keadilan yang diajarkan kepada kaum muslim bersifat multidimensional. Al-Quran berbicara mengenai keadilan hukum, keadilan sosial, keadilan ekonomi, keadilan politik, dan keadilan dalam pendidikan. Jika kita menjadikan Al-Quran sebagai sumber moral dan sumber inspirasi, maka sebagai kaum muslim di dunia modern kita akan menjadi lebih fleksibel. Al-Quran dimaksudkan untuk mendidik umat di berbagai zaman dan tempat yang berbeda. Sebaiknya kita tidak mendirikan negara Islam karena akan menimbulkan kontroversi dan konflik. Indonesia harus dibangun menjadi sebuah negara modern berdasarkan sila-sila dalam Pancasila dan memberi kebebasan kepada setiap warga negara Indonesia untuk menggapai aspirasinya.

Ada beberapa faktor yang mendukung kesatuan Indonesia. Pertama, pengalaman sejarah kita. Penduduk yang tinggal di Jawa, Sumatra, dan berbagai daerah di Tanah Air, sama-sama mengalami penjajahan Belanda dan Jepang. Belanda dan Jepang menjajah bangsa kita dari Papua sampai Aceh. Pengalaman sejarah yang sama ini mempersatukan kita untuk bangkit melawan kekuasaan kolonial. Kita juga merupakan bangsa yang beruntung karena memiliki bahasa nasional. Bisa Anda bayangkan, jika ada banyak bahasa yang dipakai sebagai bahasa resmi, Indonesia tidak akan mungkin bisa bersatu.

Di atas semua perbedaan itu, Islam merekatkan kita. Mayoritas orang Indonesia adalah muslim. Mereka tersebar di kepulauan Maluku, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan hampir semua pulau lainnya. Fakta ini menunjukkan bahwa Islam telah mempererat kesatuan penduduk Indonesia. Islam akan terus mempersatukan bangsa ini karena penganutnya mampu menyesuaikan kultur dan praktik keagamaan mereka di abad ke-21. Islam tetaplah sebuah agama universal. Tidak ada kendala politis maupun psikologis bagi kaum muslim di negara ini untuk membawa Islam ke milenium baru. Semua ajaran Islam sebangun dengan cita-cita seluruh umat manusia; tidak ada kontradiksi antara ajaran Islam dan kemanusiaan. Seluruh umat manusia adalah satu.  Perbedaan pada setiap orang terletak pada tingkat ketakwaannya. Islam tidak membedakan warna kulit, ras, kekayaan, dan kebangsaan. Islam sudah maju. Kita tidak memiliki hambatan psikologis untuk menerima demokrasi dan globalisasi. Jika Anda memiliki kapasitas untuk beradaptasi secara kreatif, maka Anda akan mampu bertahan dan Indonesia akan mampu bertahan. [Zq]

*Sumber: Buku ‘Mohammad Amien Rais: Putra Nusantara’, Irwan Omar dkk., hal. 15-16, Stamford Press, Singapore: 2003
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang