Apresiasi "Kaki Juned"

16 February 2016


Oleh: Abdullah Mubaqi 

Sengaja saya beri tanda petik pada dua kata terakhir di judul, sebagai sebuah tanda bahwa Kaki Juned tidak hanya menjadi Kaki Juned tetapi juga menjadi "Kaki Juned". Simbol untuk mereka yang tak bernama Kaki Juned, tetapi mengalami hidup Kaki Juned.
 
Suatu Ashar, saya menyengaja jalan kaki menuju rumah Mbah, yang harus melewati rumah Kaki Juned—Kaki, panggilan untuk kakek yang sangat sepuh--. Pas di seberang pintu belakang rumah beliau, saya diteriaki Bi Maslah—Bi, kependekan dari Bibi. Di tempat tinggal saya, Bibi menjadi panggilan untuk Ibu-ibu yang berjualan--, “Qi, itu kaki Juned dituntun.” Dengan segera, saya menghampiri Kaki Juned. Saya tuntun beliau. Karena belum tahu beliau sudah tuli, saya mengarahkan arah ke mana harus berjalan.

Sore itu, Kaki Juned baru saja selesai sholat Ashar. Masjid berada sekitar 50 meter dari rumah beliau. Speaker Masjid, pun salah satunya mengarah ke sekitar rumah beliau. Tidak aneh, sebenarnya, bila kemudian Kaki Juned langsung bergegas ketika azan. Tetapi itu berlaku, jika beliau tidak tuli. Jika kemudian tuli, tapi masih mendengar, kan Aneh!


“Kaki Juned sudah tidak bisa mendengar.” Begitu tutur Bi Maslah selepas saya menuntun Kaki Juned. Ditambah olehnya juga, bahwa Kaki Juned sudah tidak bisa melihat. Saya terhentak waktu itu. Mungkin, bagi lingkungan Kaki Juned, itu sudah wajar. Tetapi bagi saya, ada keanehan. Sepanjang sisa jalan ke rumah Mbah aku berfikir sampai-sampai tidak aku fikirkan lagi. Toh, banyak faktor yang bisa menjadi sebab; salah satunya kebiasaan.

Di tempat lain, ada seorang pemuda yang ke musholla dekat rumahnya. Sebelum maghrib menadlomkan asmaul husna, selepas maghrib me-speker-kan surah Ya Siin, sesudah Isya di hari-hari tertentu dia menadlomkan burdah. Hingga terkenal sebagai pemuda yang alim. Tidak cukup itu. Di rumah, dia membantu orang tuanya dengan rajin dan tekun. Bila ada kerja bakti, dia ikut. Ada tetangga yang sakit, dia menjenguk. Ada yang kena musibah, ia membesuk. Tak ada sempat untuk nongkrong dengan pemuda-pemuda lain. Konsekuensinya, ia dikenal sebagai pemuda yang berbakti.

Sikap pemuda itu wajar, sebab masih sehat, seger buger. Masih bisa melihat, bisa mendengar, bisa berjalan tanpa tongkat. Tidak seperti Kaki Juned. Mungkin akan lebih berasa aneh ketika saya utarakan fakta ini: Setiap sepertiga malam, Kaki Juned melangkah ke Masjid melalui jalan yang sama dengan ketika saya menuntun. Masuk ke Masjid lewat pintu sebelah selatan. Mengambil wudlu di sebelah Utara. Kembali lagi. Dan sholat di serambi selatan Masjid. Serambi itu biasanya untuk Jamaah perempuan. Kemudian sembari menunggu subuh tiba, beliau duduk Tawarruk. Sepertiga malam, adalah waktu yang sepi di desaku. Man Dasrun saja, Muazin Masjid, selalu datang di akhir sepertiga malam.

***

Tentu, tak ada seorangpun yang bisa membaca niat keduanya. Baik si Pemuda maupun Kaki Juned. Sebab itu, bukan soal niat yang hendak dibicarakan. Tetapi apresiasi-apresiasi yang membentuk suatu identitas. Si Pemuda di apresiasi masyarakat dengan sebutan Pemuda Alim dan Berbakti, Kaki Juned juga Aki Alim dan berbakti.

Apresiasi berkaitan dengan nilai. Nilai yang bukan angka. Berkaitan dengan harga. Harga yang bukan nominal uang. Bisa saja, kita membeli sayuran dengan harga sekian rupiah. Bisa saja seorang pengajar memberikan nilai dengan nilai 8 pada hasil pengerjaan tugas seorang siswa. Terhadap sebuah ketaatan, apakah bisa ditakar dengan angka dan nominal?

Dalam seutas sayuran ada kesepakatan-kesepakatan harga, dalam sebuah PR ada aturan-aturan tertentu untuk memberi nilai. Pun dalam ketaatan, ada kesepakatan dan ada aturan-aturan. Kesepakatan antara siapa? Aturan-aturan siapa?

Kaki Juned, katakan, tidak sehat. Sudah tidak lagi bisa melihat, mendengar, pun berjalan dengan tongkat. Sedangkan si Pemuda, kebalikannya. Bagi Kaki Juned, apakah masih berpengaruh apresiasi-apresiasi itu? apresiasi siapa yang sedang diharapkan Kaki Juned? Kalaupun dari Masyarakat, beliau sudah tidak bisa menikmati apresiasi-apresiasi itu. Berbeda dengan si Pemuda. Meski belum tentu, dia mengharapkan apresiasi dari Masyarakat, namun dia bisa saja menikmati apresiasi itu. Sebab masih bisa mendengar, melihat.

Ada satu apresiasi, yang apabila diyakini, maka tidak akan pernah dilepaskan begitu saja. Misal, sholat berjamaah, diapresiasi 27 derajad ketimbang sholat munfarid yang diapresiasi 1 derajat, orang-orang berilmu diparesiasi dengan dinaikkan derajatnya, orang-orang yang mau bersabar diapresiasi dengan kehadiranNya bersama mereka,  dan masih banyak lagi bentuk apresiasi lainnya, surga, bidadari, lipatan-lipatan kebaikan, diantaranya. Bahkan meski hanya sebentuk penglihatan dan atau pendengaran saja –Jika pernah mengalami Cinta, hanya dilihat saja atau didengar saja sudah menjadi apresiasi yang wah--. Hingga dalam surah al-Kahfi, sebuah perjumpaan, untuk mengapresiasi mereka yang beramal sholeh dan tidak menyekutukan dalam peribadatannya. [bq]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang