Arab Harus Belajar dari Indonesia

2 February 2016

OLEH: AHMAD TSAURI - PEKALONGAN

Tadi siang menyimak tausiah Habib Abu Bakar al-Adni di kompleks makam al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athas. Dalam ceramahnya beliau menyampaikan kekagumannya pada situasi di Indonesia yang kondusif, dan selama kunjungannya ke berbagai daerah melihat banyak sekalu pondok pesantren.

 Menurut beliau pondok pesantren ini lembaga pendidikan yang paling tepat dalam memberikan pemahaman Islam yang benar, baik metode maupun subtansi sebagaimana Islam yang diajarkan Rasulullah saw.

Habib Abu Bakar juga mengatakan Arab sebagai tempat dimana Islam bermula, dan dari Arab Islam disebarkan ke Indonesia, namun kini Indonesia damai, tentram, kondusif sedangkan Arab porak-poranda. Sekarang kata beliau, Arab harus belajar dari Indonesia, (al-Arab yahtaj ila Indonesia).

Tentu realita ini adalah bukti keberhasilan Para Kiai, Ajengan, Tuan Guru, Teuku, yang mengajarkan Islam selama berabad-abad lamanya dan berhasil mentautkan titik temu Islam dan kebudayaan. Selain mempunyai fungsi pemangku otoritas keagamaan dengan pemahaman Islam yang tinggi, ulama di tanah air juga berperan sebagai penjaga tradisi. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu klaim permunian agama sebenarnya adalah penafian terhadap kebudayaan.

Akibatnya, mereka menjadi kurang piknik, kurang humor, kurang cangkruk, kurang ngopi, kurang guyon. Kaku.

Mari hormati guru-guru kita, sebagai beliaulah, para pendiri pesantren, para da'i kampung, imam langgar, atau untuk sekedar contoh kiai-kiai yang masih mengayomi umat Mbah Yai Maimun Zubar, Mbah Dim Kaliwungu, Mbah Yai Nawawi Sidogiri, Habib Luthfi, Gus Mus, Romo Yai Kafa, (boleh disebut kiai lainnya, karena) tentu ada ribuan ulama yang sudah wafat atau masih hidup lainnya yang berkontribusi dalam menyebarkan Islam sekaligus menjaga tradisi, sehingga tercipta iklim yang kondusif.

Heran kalau ada sekelompok orang yang meremehkan ulama dalam negeri padahal kemampuannya dalam "menjaga" agama dan negara telah teruji, dan dipihak lain membangga-banggakan ulama dari luar padahal pemikirannya tidak terbukti efektif menjaga kedaulatan bangsanya, sebaliknya pemikirannya menyuburkan perpecahan dan merayakan pertumpahan darah.

Menyadari bahwa menjaga agama dan negara sekaligus adalah kerja besar, para wali sejak abad 14 M membentuk lembaga yang disebut wali songo. Dan demikian juga Hadratus Syeikh Hasyim Asy'ari menyadari pentingnya sebuah organisasi untuk menopang keduanya. Habib Luthfi selalu menekankan, pentingnya menjaga NU sebagai wadah dan ingat, orang yang mengatakan tidak usah NU-NUan yang penting ahlu sunah adalah makar yang berbahaya. Dirgahayu NU ke-90. [Zq]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang