Astronom dan Astrolog Muslim

4 February 2016



Oleh: Abdullah Mubaqi

Al-Sufi pun tercatat sudah berhasil melakukan observasi dan menjelaskan bintang-bintang, posisinya, jarak dan warna bintang-bintang itu. Ia juga mampu membuat peta bintang. Kitabnya yang paling fenomenal, yakni kitab Suwar al-Kawakib.

       Dunia Islam di zaman kekhalifahan sempat menjelma sebagai pusat studi astronomi dan astrologi. Studi astronomi dan astrologi mulai berkembang pada era kepemimpinan Khalifah al-Mansyur sebagai penguasa ketiga Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-8 M. Studi astronomi dan astrologi di dunia Islam kian menggeliat sejak ditemukannya astrolabe oleh al-Fazari.

       Kedua ilmu yang telah menguak rahasia langit itu mencapai puncak kejayaannya dalam peradaban Islam tahun dari tahun 1025 M hingga 1450 M. Pada masa itu, di berbagai wilayah kekuasaan Islam telah lahir sederet astronom dan astrolog Muslim serta sejumlah observatorium yang besar dan megah.

    Sederet astronom dan astrolog terkemuka, seperti Nasirudin al-Tusi, Ulugh Beg, al-Batanni, Ibnu al-Haitam, Ibnu al-Syatir, Abdur Rahman al-Sufi, al-Biruni, Ibnu Yunus, al-Farghani, al-Zarqali, Jabir Ibnu Aflah, Abu Ma’shar dan lainnya, telah memberi sumbangan penting bagi pengembangan astronomi dan astrologi.

    Bukti kejayaan yang diraih peradaban Islam dalam astronomi dan astrologi dapat dibuktikan melalui penamaan bintang dan sederet kawah bulan dengan nama-nama yang berasal dari bahasa Arab. Muslim Heritage Foundation mencatat nama ratusan bintang yang berasal dari peradaban Islam. Para astronom Muslim pada awalnya mengenal nama-nama bintang dari Almagest, karya Ptolemeus, astronom yang hidup pada abad ke-2 M. [bq]

Sumber: M. Soffa Ihsan. Mata Air. Edisi 24 2009. Jejak Kejayaan Islam di Luar Angkasa. Halaman 18
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang