Filosofi Basmalah

24 February 2016

OLEH YUSUF ILYAS NH 
Lafadz Bismillâhirraĥmânirraĥîm mengandung isyarah memberikan pelajaran tentang tawassul, kita belum bisa langsung billâh melainkan harus bismillâh. Itupun harus melalui  syarat, yakni kha, ĥa dan jim.
Kha adalah isyarah dari takhalliy ‘an as shifât al madzmŭmât (menghilangkan  sifat-sifat tercela) seperti takabur, ‘ujub, riya, iri dengki, putus asa. Semua sifat tercela harus dibuang, salah satunya yang paling mendasar dan merupakan dosa pertama kepada Allah SWT adalah takabbur; “Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Sifat mendasar manusia adalah mencintai dirinya sendiri, karena terlalu mencintai dirinya sendiri manusia selalu ingin tampil sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nah, ketika manusia sibuk mengurusi dirinya sendiri, apakah urusannya akan tuntas? Jawabannya tidak, urusannya tidak akan habis, justru akan semakin bertambah. Kemudian kalau urusannya tidak pernah habis dan dirinya sibuk mengurusi urusannya dirinya sendiri, apakah ia mau mengurusi urusan orang lain? Tentulah ia enggan. Sikap enggan memperdulikan orang lain ini adalah sifat takabbur.
Satu-satunya yang memiliki raĥmat li al ‘âlamîn (rasa kasih sayang kepada seluruh alam) adalah Rasulullah SAW, artinya beliau SAW mengorbankan dirinya sendiri. Sementara kita  jarang bisa memberikan apa tapi yang banyak kita mendapatkan apa.
Suatu ketika Rasulullah SAW melaksanakan shalat isya’, kemudian selesai shalat beliau SAW buru-buru masuk ke dalam rumah dan lama tidak keluar-keluar. Begitu keluar, para sahabat saling bertanya. Apa yang terjadi dengan Rasulullah SAW? Beliau SAW bersabda: Saya terburu-buru masuk rumah karena teringat masih ada emas di dalam rumah, saya tidak mau ada emas bermalam di rumah saya. Subĥnallâh!
Itulah beliau Rasulullah SAW yang tidak mau menyimpan emas di dalam rumahnya dan buru-buru membagikan kepada para fakir. Beliau SAW mendahulukan kepentingan orang lain, urusan orang lain daripada urusan dan kepentingan pribadi beliau SAW sendiri. Hidup beliau SAW untuk orang lain! Karena itulah beliau SAW mendapatkan kedudukan yang mulia disisi-Nya dan di kalangan para sahabat. Kalau kita ingin hidup mulia hiduplah untuk orang lain, kalau tidak bisa semuanya separuh saja, kalau tidak bisa seperempat, kalau tidak bisa seperlima, lima persen saja ada untuk orang lain, disitulah pada hakikatnya letak kemuliaanmu. Khayr an nâs anfa’uhum li an nâs!
Sifat takabbur membuat orang buta akan kebenaran. Nikmatnya ibadah dan indahnya taqarrub tidak akan terlihat karena terhalang sifat takabbur. Salah satu sifat takabur selain yang telah disinggung di atas adalah melihat sesuatu pertama kali diukur dengan dirinya sendiri. Ketika Allah SWT bertanya kepada iblis, apakah yang menghalanginya untuk bersujud (kepada Adam) sewaktu diperintah? Iblis menjawab: ana khayrun minhu. (Saya lebih baik daripadanya). Kalimat ana adalah nadzr li an nafs, memandang dirinya sendiri; saya lebih baik dari anda. Dari kalimat saya inilah muncul takabbur. Dari dahulu iblis serba menggunakan saya; qâla ana khayrun minhu, khalaqtanî min nâr wa khalaqtahu min at thîn (saya lebih baik dari dia, saya Engkau ciptakan dari api dan dia Engkau ciptakan dari tanah). Filosofinya, kobaran api (asal penciptaan iblis) selalu ke atas, sementara tanah (asal penciptaan Adam) selalu terbenam dalam dataran. Iblis menduga api lebih mulia daripada tanah, padahal sejatinya tidak. Justru kalau kita tinjau lebih detaill, tanah lebih mulia daripada api karena tanah mengandung berbagai macam sumber kehidupan.
Sifat takabur ini digambarkan dengan huruf alief (ا), bi [i]smillah. Huruf Alief selama-lamanya tetap tegak tak bergeming (baca: tidak mau menerima kebaikan dan kebenaran). Aliefnya harus dibuang, itu adalah isyarah takhalliy.
Setelah takhalliy harus ĥa, yang merupakan singkatan dari taĥalliy bi as shifât al maĥmŭdât  (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) seperti tawadlu’, maĥabbah, sabar, syukur, ridla. Semua sifat terpuji dimasukkan, salah satunya yang paling dasar dan merupakan antonim dari takabur yakni tawadlu, maka dibuatlah huruf ba (بِ). Huruf ba titiknya berada di bawah dan selama-lamanya dibaca kasrah (bi), ini merupakan isyarah tawadlu (baca: merendahkan diri). Sifat ini tercermin dalam kehidupan baginda Rasulullah SAW; sehingga Syeikh ‘Abdul Qadir al Jilaniy menyebutkan; Muĥammad nuqthatu bai al basmalah (Muhammad SAW adalah titiknya huruf ba basmalah).
Tidak mungkin seseorang langsung kepada Allah SWT, tanpa melalui ba (baca: tawadlu). Allah SWT berfirman; Wasjud waqtarib, dengan sujud meletakkan anggota tubuh yang paling mulia ke tanah (sebagai bentuk tawadlu’) justru dekat dengan Allah SWT.
Setelah seseorang mampu takhalliy yakni menghilangkan semua sifat-sifat terceladan taĥalliy yakni mengisinya dengan sifat-sifat terpuji barulah ia mampu ‘kontak’ dengan Allah SWT  bismilâh itulah yang disebut tajalliy.
Falammâ tajallâ rabbuhŭ li al jabali ja’alahŭ dakkan wa kharra mŭsa sha’iqâ (Tatkala Rab-nya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa AS pun jatuh pingsan).
Ketika  mencapai tajalli, melihat kebesaran Allah SWT  kita  menjadi fana, hancur, tidak eksis. Kita ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah SWT! Pada maqam ini, apapun yang dilihat, apapun yang kita rasakan adalah Allah SWT! Terlepas tentang polemik teori fana atau teori waĥdah al wujŭd, yang jelas ketika sampai maqam tajalliy kita tidak berarti apa-apa. Sehingga digambarkan ketika Allah SWT ‘tajalliy’, gunung-gunung hancur luluh dan Musa AS pingsan, artinya selain Allah SWT itu fana, selain Allah SWT itu hancur, selain Allah SWT itu tidak ada tinggallah Allah SWT yang ada. [Akh]

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang