Gerakan Proletar Sufi

18 February 2016

Oleh: M. Soffa Ihsan
 
Asketisme (Zuhud) diyakini sebagai embrio gerakan sufi muncul sejak abad ke-1 Hijiryah dan Nabi Muhammad adalah figur asketis yang dijadikan teladan kaum sufi. Laku-laku asketik Nabi Muhammad merupakan fakt historis yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui Hadist dan sirah nabawi. Ibnu Hisyam, misalnya menjelaskan bahwa Nabi Muhammad sangat intens berkhalwat di Gua Hira. Aisyah juga meriwayatkan hadits bahwa mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan Makkah adalah hal yang paling disukai Nabi Muhammad sejak beliau menerima “mimpi prophetik. Hadits-hadits lain pun memberikan infornasi tentang kesederhanaan Nabi dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan asketisme.
 
Dari kacamata sosiologis, asketisme Nabi dapat dinilai sebagai lambang perlawanan terhadap ketidak-adilan dalam pelbagai aspek kehidupan di Arab. Asketisme dapat diinterpretasikan sebagai sikap pengingkaran terhadap tatanan ekonomi yang menghisap kaum protelar, gaya hidup mewah kaum borjuis kabilah-kabilah Arab, pertikaian antar suku, dan praktis keagamaan paganisme yang mentradisi. Pendeknya, laku-laku asketis Muhammad merupakan bentuk “kritik sosial”.
 
 
 
 
Asketisme Nabi adalah ajaran otentik al-Quran yang menyeru umat manusia untuk bertakwa, rendah hati, tidak tergila-gila harta dunia, hidup sederhana, tahajud, berdzikir, puasa, mengekang syahwat, bersedekah kepada fakir-miskin, dan seterusnya. Nilai-nilai adiluhung yang diusung oleh Islam inilah yang menjadi aksis bagi semua aktivitas sufistik.
 
Kredo Sufisme Bashrah
 
Pioner kredo sufistik Bashrah adalah Abu Musa al-Asy’ari (w. 52 H), sahabat Nabi yang menjadi salah satu ikon Ahli Sufah. Abu Musa dikenal sebagai pakar al-Quran terkemuka yang menganjurkan urgensi asketisme melalui sebuah petuah bahwa “Hal yang telah menyebabkan generasi pendahulu rusak adalah dirham dan dinar.” Petuah ini merupakan ekspresi kegelisahannya ketika menyaksikan meruaknya budaya hedonisme yang berkembang pada masanya. Abu Musa juga menganjurkan menangis kepada kolega-koleganya sebagai ekspresi kesedihan dan keprihatinan ataas perpecahan internal Islam yang amat akut.
 
Abu Musa memiliki banyak murid, salah satunya adalah Amir bin Abd Qays. Menurut Ibn al-jauzi dan Abu Nu’aim, Amir bin Abd Qays merupakan generasi tabiin yang terkenal sebagai ahli ibadah. Ia dijuluki oleh Ka’ab al-Akhbar sebagai “Pendeta Umat Islam”. Amir bin Abd Qays juga dikenal sebagai peletak konsep “cinta Ilahi”. Konsep ini kelak dikembangkan oleh para pendaki bukit cinta Ilahi seperti Rabi’ah Adawiyyah dan lain-lain.
 
Transformasi gagasan sufistik yang mencolok ada di tangan Hasan al-Bashri. Ia adalah pemuka sufi penganut asketisme. Asketisme Hasan al-Bashri terbangun di atas kerinduannya akan nuansa primordial asketisme Nabi dan para Sahabatnya.
Asketisme Hasan al-bashri tidak muncul dalam ruang hampa. Asketisme merupakan ekspresi gundah gulana yang menggejolak dahsyat sebagai reaksi atas kondisi sosio-politik yang tercerai berai. Ajaran-ajaran Hasan al-Bashri terus dikembangkan oleh para muridnya. Salah satu muridnya yang paling kontroversial adalah Farqad bin Ya’qub al-Sabakhi. Ia adalah figur asketis asal Armenia yang berusaha mencari kebenaran universal lintas agama. Farqad juga dikenal sebagai sufi yang mengkampanyekan gagasan-gagasan aneh, antara lain gagasan “lapar”, sebab kondisi kenyang dinilai sebagai sebuah “bapak kekafiran”.
 
Gerakan Revolusioner 
 
Setelah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam pasca terbunuhnya Utsman serta arbitrase Ali dan Muawwiyah, asketisme bermetamorfosa menjadi jaringan komunal yang direpresentasikan oleh gerakan masif golongan ahli zuhud yang secara politis bersikap netral di antara kelompok yang tengah bertikai.
Gerakan ini muncul sebagai respon terhadap kondisi dan situasi gonjang-ganjingnya stabilitas politik dan keamanan saat itu. Mereka cenderung apatis terhadap dinamika dan percaturan politik yang tengah berlangsung.
 
Tetapi, sikap apatis dalam zuhud tersebut tidak berlangsung lama. Di tengah-tengah kompleksitas konflik politik yang semakin meruncing dan ditambah dengan merebaknya despotisme serta budaya hedonisme penguasa tiran Dinasti Umawiyyah, kalangan sufi memilih jalur revolusioner menjadi oposan pemerintah. Bagian mereka, despotisme dan budaya hedonisme yang dipicu oleh melimpah ruahnya harta rampasan perang pasca ekspansi adalah musuh besar sufisme. Despotisme semakin dibenci oleh para sufi manakala ia dijustifikasi dengan doktrin teologis predestinasi (jabariyyah). Doktrin predestinasi dibajak oleh otoritas tiranik yang mengklaim bahwa kelaliman-kelaliman penguasa adalah semata-mata takdir Tuhan.
 
Tokoh kunci gerakan sufi yang getol menyerang hegemoni penguasa tiranik secara konfrontatif antara lain adalah Hasan al-Bashri (w. 110 H). Di tangannya, spirit memerangi hawa nafsu menjelma menjadi inspirasi bagi mencuatnya gerakan proletar kaum sufi revolusioner yang tanpa pedas terhadap kelaliman dan borjuisme aristrokasi Umawi.
 
Tak pelak, sufisme bukanlah sebuah kredo yang hanyut hanya dalam alam fantasi, dimensi intuisi, zona metafisik, dan berorientasi teosentris, melainkan sufisme merupakan gerakan gerbong perubahan sosio-politik revolusioner dan berorientasi teo-antroposentris. Melalui hal tersebut, asketisme telah mentransformasikan dirinya menjadi “asketisme positif”. [bq]
 
Sumber: M. Soffa Ihsan. Vol 31 Tahun 2009. Halaman 48-49. Gerakan Proletar Sufi. Mata Air
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang