Habib Lutfi bin Yahya: Mensyukuri Sebutir Nasi

3 February 2016

Oleh: Habib Muhammad Lutfi Bin Yahya
 

Kiai-Kiai kita dulu, jika ada satu butir nasi saja yang jatuh, langsung diambil dan dimakan. Sebab, terkadang karena satu butir nasi bisa menimbulkan rasa sombong. Letak kesombongan ada di hati. Kadang-kadang, satu butir nasi saja jatuh, kita agak malu untuk mengangkatnya kembali: “Ah, cuma sebutir kok. Biarin saja lah. Masih punya beras yang banyak.”

     Padahal, satu butir nasi itu bisa sampai di piring kita karena proses yang teramat panjang: ditanam, tanahnya dibajak, memakai sapi/kerbau/traktor, petaninya berkeringat di tengah terik matahari sehari penuh, mengairi, dicangkul, sampai panen membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sesudah jadi beras pun, harus didistribusikan ke pasar, sampai ke warung beras, dibeli ibu kita sampai ke dapur, dibersihkan, ditanak sampai matang, dan tersaji di hadapan Anda.

     Ada banyak tangan yang memiliki andil dalam sebutir nasi. Kiai-kiai kita mengajarkan untuk menghargai prosesnya. Baginda Rasul pun mendidik kita untuk bersyukur ketika hendak menyantap makanan: “Allahumma barik lana fima razaqtana (Ya Allah, berkahilah makanan yang Engkau rizkikan kepada kami)”, dan disambung dengan doa, “Waqina adzab al-Nar (dan jaga kami dari siksa api neraka).”

    Dalam rizki yang sangat kecil (sebutir nasi) saja kita lupa untuk bersyukur, bagaimana bisa kita akan bersyukur untuk hal-hal yang besar?

Sumber:Fanspage Resmi Habib Muhammad Lutfi bin Yahya.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang