Hasyim Muzadi: Terorisme dan Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat (Bagian Kedua)

16 February 2016



Oleh: Hasyim Muzadi 

Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Dari media massa, kita menangkap kesan bahwa di negeri ini muncul banyak konflik agama yang amat lekat dengan nuansa kekerasan. Bahkan sejumlah media massa internasional dan beberapa pemimpin negara lain menyebut negara Indonesia merupakan “sarang terorisme” atau “kelompok-kelompok radikal Islam”.

Yang harus dipahami adalah umat Islam di Indonesia mayoritas berpaham moderat. Sekitar 87 persen penduduk Indonesia adalah beragama Islam. Dan mayoritas penduduk Islam adalah moderat yang berasal dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan lain-lain.


Mengapa mayoritas bisa berpaham moderat? Hal ini bisa dilacak dari sejarah kebudayaan dan sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Seperti diketahui bersama, Islam bukanlah agama pertama yang masuk ke bumi Indonesia. Sebelumnya sudah masuk lebih dulu agama Hindu dan Budha. Dan sebelum Hindu dan Budha, rakyat memeluk animisme. Islam masuk ketika mayoritas rakyat dan kerajaan yang ada di bumi Indonesia waktu itu memeluk agama Hindu dan Budha.

Lalu, mengapa kemudian mayoritas memeluk Islam, dari yang sebelumnya Hindu, Budha, atau animisme. Inilah konteks kebudayaan yang membedakan negeri ini dengan kawasan lain seperti Timur Tengah. Pada awal-awal penyebaran agama Islam di Timur Tengah, saat Nabi Besar Muhammad SAW masih hidup, rakyat setempat belumlah beragama. Saat itu, Masyarakat Timur Tengah sedang berada dalam suasana “jahiliyah” atau kegelapan. Sebuah masyarakat tanpa tatanan, tanpa keadilan, dan dipenuhi perang-perang suku.

Waktu itu, Islam memperkenalkan perang sebagai metode pembelaan diri (bukan ofensif). Sebab, jelas-jelas saat itu terjadi tindak kekerasan terhadap umat Islam yang memang mengharuskan umat Islam mempertahankan diri.

Tetapi, di Indonesia, masyarakat sudah memiliki agama ketika Islam mulai masuk. Sejarah mencatat, tidak ada darah yang ditumpahkan ketika Islam disebarkan di bumi Indonesia.

Mengapa bisa tanpa kekerasan dan mengapa Islam kemudian menjadi pilihan matoritas rakyat Indonesia? Sebab, Islam di Indonesia disebarkan melalui metode akulturasi budaya. Dan, akulturasi budaya merupakan cara yang moerat dan karena itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berpaham moderat pula.
Kalau kemudian beberapa tahun belakangan ini, sejak 1999, muncul radikalisme, bahkan gerakan terorisme di Indonesia, itu bukanlah terjadi tanpa konteks. Hal tersebut terkait munculnya gerakan reformasi pada Mei 1998 yang berimplikasi jatuhnya Presiden Soeharto dari kursi presiden yang sudah digenggamnya selama 32 tahun.

Reformasi di Indonesia membawa pengaruh amat besar pada kondisi politik. Runtuhnya resim otoriter yang mengontrol hampir semua aspek kehidupan rakyat membuat iklim politik berubah 180 derajat. Dari kondisi di mana semuanya serba terkekang dan tidak bebas, kondisi tersebut sontak berubah menjadi bebas dan tidak terkekang. Muncul apa yang disebut banyak kalangan sebagai “liberalisme” atau demokratisasi yang terlalu cepat.

Reformasi yang belum sepenuhnya tuntas itu menimbulkan efek, yaitu kebebasan tanpa bentuk. Semua orang merasa bisa bertindak semaunya tanpa mengindahkan hukum, nilai, dan norma sosial politik. Di sisi lain, negara belum sempat mengonsolidasikan dirinya untuk menjadi pengendali di antara pluralitas berikut kepentingan warganya.

Dalam kondisi seperti itu, gerakan-gerakan radikal, baik dari kelompok kanan maupun kiri, mulai muncul kembali. Tokoh-tokoh gerakan radikal yang selama pemerintah Soeharto mengasingkan diri atau diasingkan ke luar negeri, baik di Eropa maupun Asia, beramai-ramai kembali. Mereka pun mulai melakukan gerakan-gerakan di dalam negeri tanpa kontrol yang berarti dari institusi negara dan hukum.

Di sisi lain, muncul perkembangan situasi global yang kemudian mendorong gerakan radikal ini –pada titik-titik tertentu—bermetamorfosis menjadi gerakan terorisme. Secara umum, situasi global tersebut digambarkan Samuel W. Huntington sebagai clash of civilization. Benturan kebudayaan tersebut kemudian diparalelkan dengan benturan antara dunia Barat dan dunia Islam. Runtuhnya Uni Sovyet membuat Amerika Serikat –sebagai representasi dunia Barat- menjadi negara superpower tunggal.

Dan, kebetulan pula, banyak kebijakan, khususnya politik luar negeri Amerika Serikat, yang kemudian ditafsirkan merupakan benturan antara Barat dan Islam. Yang paling mendapat catatan adalah politik luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah yang menyangkut konflik Palestina dan Israel. Hal tersebut secara langsung atau tidak langsung diyakini memicu munculnya apa yang kini biasa disebut “terorisme internasional”, yang kemudian selalu dikaitkan dengan Islam. Padahal, sejarah mencatat, terorisme semacam ini juga pernah muncul di Jepang, Eropa, Amerika Latin, bahkan Amerika Serikat. (bersambung…) [bq]

Sumber:  Sumber: Z.A. Maulani dkk. 2005. Islam dan Terorisme. Halaman 100-103. Yogyakarta: UCY Press
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang