Ibnu al-Nafis dan Ibnu al-Quff;Peletak Dasar Embriologi dan Perinatologi Modern

3 February 2016

Oleh: Abdullah Mubaqi



Salah satu ilmuwan muslim terkemuka yang mencurahkan kajiannya pada embriologi adalah Ibnu al-Nafis (1213-1288 M). dalam Bidang embriologi, el-Nafis telah mengkritik pemikiran ilmuwan Yunani termasyhur, yakni Aristoteles (384-322 SM) dan Aelius Galenus or Claudius Galenus yang akrab disapa Galen (129 SM  200/217 SM) mengenai masalah penjelasan Embriologi. Ia membahas proses pengembangan dengan teori miliknya terutama mengenai masalah embriologi dan generasi.
        Al-Nafis juga mengkritisi pendapat dan pandangan dokter Muslim terkemuka, Ibnu Sina (980-1037 M) terkait embriologi. Ia meyakini bahwa ketika sperma seorang laki-laki/jantan dan perempuan/betina bercampur, dan ketika mereka membuat campuran cairan yang memiliki perangai yang sesuai tersebut, mereka juga menerima jiwa yang diberikan Allah, baik jiwa hewan atau jiwa manusia.
       Selain al-Nafis ada juga seorang Dokter Arab yang turut mengembangkan embriologi, yakni Ibnu al-Quff (1235-1305 M), murid dari al-Nafis. Penjelasan al-Quff tentang embriologi dan perinatologi dalam karyanya berjudul al-Jami terbukti lebih akurat. "Pembentukan awal adalah sebuah buih yang merupakan tahap ke enam sampai tujuh hari pertama, pada hari ke-3 hingga 16 secara bertahap membentuk gumpalan dan pada hari ke-28 sampai 30 menjadi sebuah gumpalan kecil daging. Pada hari ke-38 sampai 40, kepala muncul terpisah dari bahu dan lengan. Otak dan jantung yang diikuti dengan hati terbentuk sebelum organ lainnya," jelas Ibnu al-Quff.
      Al-Quff menambahkan bahwa janin mengambil makanan dari ibunya untuk tumbuh. Ia menambahkan, ada tiga selaput yang menutupi dan melindungi janin. Pertama, menghubungkan pembuluh darah arteri dan vena dengan sesuatu di rahim ibunya melalui tali pusar. "Melalui pembuluh vena, janin bayi mendapatkan makanan untuk kebutuhan nutrisinya. Sementara pembuluh arteri membawa udara," tutur al-Quff. Pada akhir bulan ketujuh lanjut al-Quff, semua organ telah selesai. Setelah kelahiran, tali pusar bayi dipotong pada jarak empat jari luasnya dari badan, dan terikat dengan baik, dengan benang wol yang lembut.
       Wilayah yang dipotong ditutupi dengan filamen/kawat pijar basah dalam minyak zaitun dengan sebuah obat penahan darah untuk mencegah pendarahan yang menetes. "Setelah kelahiran, bayi dirawat oleh ibunya dengan air susu ibu (ASI) yang merupakan nutrisi paling baik. Kemudian bidan meletakkan bayi tidur dalam kamar gelap yang tenang. Menyusui bayi dilakukan dua sampai tiga kali setiap hari. Sebelum menyusui, payudara ibu harus ditekan dua atau tiga kali untuk membuang susu yang ada dekat puting susu," papar al-Quff. Begitulah kontribusi para dokter Islam dalam meletakkan dasar dan mengembangkan studi embriologi modern. {bq}

Sumber: Soffa Ihsan, M. 2009. Studi Embriologi dalam Peradaban Islam. Mata Air.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang